Seketika Sora mencium aroma sayup-sayup hijau hutan pinus basah dan sedikit maskulin. Familiar dan Sora sangat menyukainya.
Diptyque Orpheon—parfum favorit Regy.
Benar saja. Saat Sora mengangkat wajah dari kertas soal yang ia kerjakan, Regy sudah muncul di hadapannya. Cowok itu meletakkan dagu di atas meja, bibirnya menekuk cemberut. "Mainnya sama Fael mulu deh."
Sora harus menahan diri sebisa mungkin untuk tidak jujur bilang bahwa ekspresi Regy saat itu...
Imut.
Tak bisa. Gagal. Begitu sadar, Sora mendapati tangannya sudah mencubit pipi Regy. Sekejap rona merah menjalari pipi itu. Panas! Padahal aksi Sora sederhana tapi maut—mampu memanggang pipi Regy.
Tak mau ketahuan salah tingkah, Regy spontan melingkarkan tangan, menjebak tubuh Sora dalam dekapan yang terlalu erat. Aroma pinus maskulin tadi kini menempel tepat di lubang hidung Sora.
"Gy... Gy, lepasin—" Sora memohon tak berdaya.
"Cubit-cubit sembarangan sih," goda Regy.
"Egy... Ampun..."
Sora meronta, coba melepaskan diri bak kelinci yang terperosok ke lubang jebakan. Regy sendiri membenamkan wajah di pundak Sora untuk menahan tawa, menyadari betapa konyolnya mereka. Oh, dia rindu mengganggu Sora lebih dari apa pun.
Akhirnya Regy melepaskan tubuh Sora. Tak hanya melepaskan, tapi Regy juga merapikan kembali rambut Sora yang acak-acakan karenanya. Pelan dan lembut, Regy menyisir satu per satu bagian rambut Sora dengan jarinya.
"Kangen."
Sepatah kata yang jika Regy ucapkan ke cewek lain bisa membuat pendengarnya kena serangan jantung. Tapi ini Sora—dia kebal.
"Kan tiap hari ketemu di kelas."
"Tapi lo sama Fael terus. Kenapa sih mainnya cuma sama Fael? Lupa ya sama gue?" Ucapan Regy nyaris menjadi bisikan. Mata Regy enggan beranjak dari wajah cantik favoritnya itu walau Sora menolak menatapnya balik.
"Nggak main, tapi belajar. Lo nggak lihat otak gue ngebul macem otak-otak dikukus?"
Otak-otak dikukus.
Regy mendengus. Dia pengandaian dari mana lagi sih itu?
"Kenapa bawa-bawa otak-otak segala?"
"Kata Kylo, 'Makanya, kalau dikasih otak sama Tuhan jangan ditawar dituker sama otak-otak!' Asli, itu anak, mulutnya copy-paste emak gue!"
Tawa Regy pecah. Di kelas kosong itu, yang terdengar hanya tawanya. Mau dibungkam pun, terlambat. Saat perlahan tawa Regy reda, matanya berair. Sora menarik selembar tisu yang ia bawa di tas dan menyodorkannya.
Bukannya mengusap sendiri, tapi Regy malah menarik tangan Sora untuk melakukannya. Terserahlah, pikir Sora.
"Pergi, yuk."
"Ke mana?"
Regy tak menjawab melainkan meraih tangan Sora dan mmembawanya keluar ruangan menuju parkiran.
"Gy, nggak baik lho bawa pergi anak gadis orang tapi ga bilang ke mana."
Bibir Regy menyimpul senyum. Ia mengurungkan niatnya untuk merahasiakan tujuan mereka, tak mau kalimat tadi keluarnya dari ibu Sora.
"Mau adopsi 'anak'."
"Hah?"
***
Sora berdiri di tengah halaman berrumput luas di sebuah rumah bilangan Bintaro sektor 9. Cuaca agak teduh karena sedikit mendung. Mata Sora bergerak cepat, mengikuti gerakan-gerakan di depannya. Senyum Regy terkulum menyaksikan reaksi Sora, tahu kalau dia telah membawa Sora ke tempat yang tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Novela JuvenilIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
