Bab 98 - Canceled?

28 1 4
                                        

"Apakah ini pernyataan resmi dari kalian?"

Regy duduk tegak di kursi ruang rapat Ramuna Holding, masih mengenakan seragam sekolahnya yang terasa asing di tengah atmosfer korporasi yang kaku. Di hadapannya, empat jajaran pimpinan—VP Corporate Affairs, VP Legal, VP Corporate Secretary, dan VP Corporate Partnership—duduk berderet, rapi, berwibawa.

Bagi orang luar, pemandangan ini nyaris janggal. Seorang anak SMA, sendirian, berhadapan dengan para petinggi dari salah satu holding terbesar di negeri ini.

Namun Regy bukan anak SMA biasa.

Hanya dia yang mampu membuat mereka berkumpul secepat ini—bahkan sebelum mobilnya benar-benar berhenti di parkiran.

Rahang Regy mengeras. Giginya terkatup rapat, menahan sesuatu yang sudah hampir meluap hingga ke ubun-ubun. Saat ia berbicara, suaranya bergetar tipis—bukan karena ragu, tapi karena amarah yang ditahan mati-matian oleh sisa-sisa etika yang masih ia genggam.

"Saya ulangi sekali lagi..." Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di hadapannya. "Apakah ini pernyataan resmi dari perusahaan ini?"

Hening sejenak menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya Rudjito Himawan, VP Corporate Affairs, membuka suara.

"Benar, Mas Regy. Press release tersebut resmi kami keluarkan tadi pagi—"

"KENAPA?!"

Ledakan itu akhirnya pecah.

Suara Regy menggema, tajam dan penuh tekanan. Bukan teriakan kosong seorang remaja, melainkan tuntutan seseorang yang merasa dikhianati.

"Kalian dengar sendiri waktu ibu saya bilang akan mensponsori penuh acara itu!" lanjutnya, napasnya mulai tak beraturan. "Mbak Hana—kamu yang bilang akan mengurus semua suratnya bareng Kylo, kan?"

Hana menunduk dalam. Rambut bob-nya jatuh menutupi sebagian wajah, sementara bingkai kacamata bulatnya tak mampu menyembunyikan kegugupan yang kentara. Dengan kardigan merah yang ia kenakan, ia tampak seperti stroberi yang mengerut.

Ponsel di tangan Regy pun terlepas.

Benda itu jatuh, membentur lantai berlapis karpet dengan bunyi tumpul yang anehnya terdengar begitu keras di telinganya.

Untuk sesaat, napas Regy terhenti.

Sebuah kemungkinan—yang sejak tadi ia tolak—tiba-tiba merayap naik, menyusup ke dalam pikirannya, membawa rasa dingin yang menjalar hingga ke tengkuk.

"Kamu... dan Kylo belum mengurus surat konfirmasi sponsorship-nya, ya?"

Suara Regy kali ini lebih pelan. Justru itu yang membuatnya terasa lebih mengancam.

Hana gemetar. "Itu... harusnya hari ini finalisasi, tapi saya sempat cuti panjang... lalu Kylo sakit... tapi draft-nya sudah siap, Mas—"

"Hana."

Astari, atasan Hana, menahan bahunya. Satu tatapan saja sudah cukup untuk menghentikan Hana. Tidak ada penjelasan yang bisa memperbaiki keadaan sekarang.

Regy mendongak, menatap langit-langit seolah mencari sesuatu yang tak ada di sana.

"Kita sudah punya vendor yang siap produksi," ucapnya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Performer yang butuh DP... dan—"

Suaranya naik lagi, retak di ujungnya.

"—harga diri lima sekolah Orion League."

Kelopak matanya terpejam rapat.

Di dalam dirinya, sesuatu runtuh. Bukan sekadar rencana—tapi juga kendali yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Pikirannya berantakan, keberaniannya terkikis, bahkan tubuhnya ikut bereaksi—perutnya melilit, napasnya terasa berat.

Under My SkyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang