Dendra tidak pernah menyangka waktu bisa berbelok seperti ini—membawanya kembali ke sebuah sore yang terasa terlalu akrab. Ia mengantar Sora pulang, memutar playlist lama yang dulu mereka hafal di luar kepala, dan—yang paling tidak masuk akal—Sora mengiyakan ajakannya untuk makan malam.
Dia bilang iya.
Betapa sederhana kata itu, tapi dampaknya seperti ledakan kecil di dalam dada. Sora bahkan meminta tempat yang dekat saja, tidak usah jauh-jauh. Dendra tidak keberatan. Jarak bukan lagi persoalan—selama ada Sora di ujungnya, semua terasa layak ditempuh.
Beberapa saat kemudian, Dendra duduk di sofa ruang tamu rumah Sora. Televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Ruangan itu nyaris tidak berubah. Susunan bantal, meja kecil di sudut, bahkan suara kipas angin yang berdecit pelan—semuanya seperti kapsul waktu yang menolak bergerak maju.
Seolah mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
Lima belas menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Sora muncul.
Segar sehabis mandi, mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek santai. Rambutnya sedikit basah, dan aroma parfum yang langsung dikenali Dendra menyusup begitu saja—lembut, floral, familiar.
Miss Dior.
Wangi itu tidak berubah. Atau mungkin, Dendra yang tidak pernah lupa.
Dulu, ia sering menarik Sora lebih dekat hanya untuk menghirup aroma itu lebih lama, sengaja membiarkannya menempel di pakaiannya. Sampai ibunya pun hafal. Setiap kali mengambil baju kotor di kamar Dendra dan mencium sisa wangi itu, ibunya tahu—hari itu Dendra bersama Sora.
Dan ketika aroma itu hilang, di situlah segalanya benar-benar berakhir.
"Sudah?" tanya Dendra, suaranya lebih pelan dari yang ia kira.
"Ng... bentar. HP-ku mati, baterainya habis. Aku charge dulu."
Sora membungkuk di depan meja TV, menyambungkan kabel charger, lalu mengambil ponsel lain.
"Itu HP siapa?"
"HP rumah. Cadangan kalau kita nggak bawa HP. For emergency."
Dendra mengangguk kecil. Masuk akal. Ia langsung teringat adiknya yang hampir selalu kehabisan baterai di waktu-waktu penting.
"Ya udah, yuk."
Sora tidak membawa tas, hanya menggenggam ponsel cadangan itu.
"Kamu mau naik mobil atau jalan aja?"
"Jalanlah. Ke pecel lele depan doang kan?"
Dendra tersenyum.
Jalan kaki berarti waktu yang lebih panjang di samping Sora. Dan malam ini, waktu adalah hal yang paling ingin ia curi sebanyak mungkin.
Apa pun bentuknya, hari itu terasa... lebih baik.
---
Tuhan, Sora cantik sekali.
Kalimat itu berulang-ulang muncul di kepala Dendra, seperti rekaman yang menolak berhenti. Ia bahkan tidak mencoba mencari kata lain. Semua terasa kurang.
Dua tahun.
Bagaimana mungkin dua tahun membuat seseorang bertambah cantik sebrutal ini?
Dendra tahu dirinya tidak objektif. Ia laki-laki, dan laki-laki seringkali jatuh pertama kali pada apa yang terlihat. Tapi ini bukan sekadar itu. Ada sesuatu tentang Sora yang membuatnya kehilangan bahasa. Ia hanya bisa tersenyum, menatap terlalu lama, dan berharap itu cukup untuk menyampaikan semuanya.
Dan tempat ini—warung pecel lele yang sama.
Bukan restoran mahal. Bukan tempat romantis. Tapi di sinilah salah satu kenangan paling hidup mereka terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Teen FictionIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
