Bab 100 - Perang dalam Perang

40 4 15
                                        

This is a war, then?

Regy duduk di ujung meja makan, tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya tertinggal di cerita Kylo. Dadanya terasa sesak—bukan karena lapar, tapi karena ia terlalu mudah membayangkan dirinya di posisi itu.

Perlahan ia meraih sendoknya lagi.

Kembang tahu di mangkuknya masih mengepul. Pedagang di seberang sekolah itu selalu jadi pelarian kecilnya—rasa manis hangat yang biasanya menenangkan. Tapi hari ini, kuah jahenya pahit. Aneh. Atau mungkin lidahnya saja yang berubah.

Ia tetap makan. Kalau ini benar perang, ia tak tahu apakah ia akan sempat mencicipinya lagi.

Langkah tumit terdengar sebelum sosoknya muncul. Ketukan tajam sepatu Louboutin itu seperti aba-aba: semua orang harus bersiap.

Dahlia masuk tanpa tergesa, tapi cukup untuk membuat udara berubah tegang. Ia menyukai efek itu. Ia bahkan pernah mengakuinya.

"Kamu makan apa?"

Tas Birkin kulit buaya diletakkan di meja dengan gerakan presisi. Suaranya datar. Tatapannya bahkan belum menyentuh Regy.

Seolah pertanyaan itu cuma formalitas. Atau... ujian?

"Kembang tahu," jawab Regy, sama datarnya.

Baru kali ini Dahlia menoleh. Tapi bukan ke Regy. Tatapannya berhenti pada foto di dinding—seorang pria tua dengan sorot mata yang bahkan dari bingkai pun terasa mengancam.

Alberto Ramuna.

Nama yang tidak perlu diperkenalkan. Sosok yang membangun kerajaan itu dengan tangan kosong—dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi.

Empat puluh tahun ia menjaga nama Ramuna tetap berdiri.

Empat puluh tahun semua orang hidup di bawah bayang-bayangnya.

"Kalau dilihat-lihat," ujar Dahlia pelan, "kamu mirip juga dengan kakekmu."

Ada sesuatu di matanya. Bukan nostalgia—tapi dendam.

"Is that supposed to be a compliment?" Regy tidak menggeser sedikit pun nada suaranya.

"Depends on how—"

Kalimat itu terputus. Rahang Dahlia mengeras.

Seorang pria masuk, santai, seolah rumah itu bukan sarang singa. Di lengannya, seekor anak anjing menggeliat kecil. Separuh wajah Regy berasal darinya.

"Kamu udah bikin appointment ke vet, Gy?" tanyanya ringan, sama sekali tidak mengakui kehadiran Dahlia.

Dan justru itu masalahnya.

"Apa yang dia lakukan di sini?" desis Dahlia. Jemarinya mencengkeram gantungan berlian Cartier di ponselnya, nyaris sampai berderak.

"I invited him."

Regy bahkan tidak menatapnya. Ia hanya membuka mangkuk kembang tahu kedua. Seolah ini semua bukan apa-apa.

***

Di masa lalu, banyak yang tumbang di bawah rezim Alberto. Tapi hanya satu yang menghantuinya sampai akhir.

Gerrard.

Anak sulungnya. Pewaris yang seharusnya meneruskan takhta itu. Nama yang bahkan dulu diturunkan dengan bisikan.

Namun Gerrard memilih kabur. Bukan karena lemah, tapi karena ia melihat terlalu banyak. Rangkaian demi rangkaian kejadian yang terjadi di depan mata Gerrard membuatnya trauma mengemban nama klan Ramuna.

Gerrard keluar dari mansion, hidup membuka kedai kopi kecil bersama Wilona—kekasih gelap yang dulu hanyalah staff keuangan outsource di Ramuna Holding.

Under My SkyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang