Hari itu, Kylo datang ke kantor pusat Ramuna Holding dengan seragam yang sedikit kusut. Ia tidak sempat pulang, apalagi berganti. Panggilan dari Hana—bagian sponsorship—datang terlalu mendesak untuk diabaikan. Draft surat konfirmasi harus diselesaikan hari ini. Tidak ada lagi ruang untuk revisi. Tidak ada besok.
Perhitungan cost-benefit yang sempat menggantung kemarin kini menjadi simpul terakhir yang harus diikat. Jika gagal, bukan hanya dokumen yang runtuh—melainkan seluruh mimpi untuk mengadakan Orion Olympics.
Gedung Ramuna Holding menjulang di area SCBD, seperti biasa—dingin, rapi, tak tersentuh. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah pasti, pakaian licin tanpa cela, percakapan mengalir dalam dua bahasa atau lebih. Tapi Kylo tidak gentar.
Kylo sudah pernah beberapa kali meyambangi gedung kantor itu. Kadang Regy harus ada di sana lalu meminta Kylo dan Fael untuk datang mengerjakan tugas sekolah. Biasanya selalu ada Pram yang menjemput mereka. Kali ini dia seorang diri.
Ia duduk di lobi, menunggu resepsionis menghubungi Hana. Jemarinya bertaut, sesekali mengetuk pelan lututnya sendiri—ritme kecil untuk menenangkan pikiran. Sampai pintu otomatis terbuka.
Dan suasana berubah ketika Dahlia Ramuna melangkah masuk.
Seperti arus yang membelah lautan, orang-orang di lobi langsung memberi jalan. Sapaan hormat mengalir, beberapa wajah mencoba mendekat—namun terhenti oleh protokoler yang sigap menjaga jarak. Dahlia berjalan tanpa memperlambat langkah, ditemani sekretarisnya. Tatapannya tersembunyi di balik kacamata hitam, tapi auranya seakan meneriakkan wibawa pada level yang berbeda.
Kylo merasa keberadaannya cukup tersembunyi di belakang tanaman palem dalam pot. Karena jujur, ia sedang tidak ingin basa-basi denga wanita itu. Bahkan ketika wanita itu sudah berbaik hati ingin mensponsori acaranya.
Namun entah bagaimana, mata Dahlia berhasil menemukannya. Di antara orang-orang penting di lobi itu, Dahlia malah berjalan menghampiri Kylo yang notabene cuma anak SMA.
"Kylo?"
Dahlia langsung menyebut nama. Itu saja langsung membuat mereka bertanya-tanya, mengingat Dahlia tidak menghapal nama.
Kylo segera berdiri dan menjabat tangan Dahlia. "Siang, Tante."
'Tante'? Bukan 'Bu Dahlia' atau 'Mrs. Ramuna'?
Kylo canggung saat sadar semua mata tertuju ke arahnya.
"Mau ketemu Regy?" Dahlia bertanya tanpa menurunkan kacamata hitamnya. Begitu lebih baik, pikir Kylo. Kylo tak sanggup kalau harus menatap balik tatapan iblis wanita itu.
"Bukan. Mau ketemu Mbak Hana untuk finalisasi sponsorship Orion Olympics."
Alis Dahlia terangkat sedikit. Nyaris tak terlihat. Tapi cukup untuk menandai perubahan kecil dalam pikirannya.
Lalu ia berkata ringan, "Ke ruangan saya saja."
Sekretaris dan protokoler bertukar pandang sekilas. Ini jelas bukan bagian dari jadwal. Tapi tak ada yang membantah. Mereka hanya memberi jalan.
Dan Kylo, tanpa pilihan lain, mengikuti.
Langkahnya terasa berat saat memasuki lift eksekutif. Pintu tertutup perlahan, memutus dunia luar. Dalam pantulan dinding logam, ia melihat dirinya sendiri—anak SMA dengan seragam kusut, berdiri di sebelah CEO grup korporasi raksasa.
Walaupun Dahlia adalah ibu Regy, Kylo tak pernah benar-benar bisa melihatnya sekadar sebagai "ibunya teman". Status itu terasa terlalu kecil, terlalu sederhana untuk menampung sosoknya.
Dahlia Ramuna tetaplah seorang Ramuna.
Nama itu berdiri sendiri—dingin, kokoh, dan memiliki bobot yang membuat orang-orang otomatis menurunkan suara saat menyebutnya. Ia bukan hanya seseorang yang dihormati, tapi juga dihindari. Disisakan jarak dan disambut dengan hati-hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Roman pour AdolescentsIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
