"Sora!"
Suara Regy terdengar menggema di lorong sekolah memanggil nama Sora. Sora menoleh—lalu menyesal.
"Pilih gue atau Fael?"
Hufff. Permainan itu lagi.
Dulu pertama kali mendengar pertanyaan itu, Sora tak bisa mengendalikan rona di wajahnya. Ia terlihat tolol seperti tomat rebus di hadapan Regy dan Fael. Padahal Regy menyuruh Sora memilih siapa yang harus bertugas membuang sampah saat bersih-bersih kelas. Bukan untuk dikencani seperti isi pikiran liar Sora.
Sekarang sih Sora tak peduli. Ia tinggal asal sebut nama dan terserah apa yang akan mereka lakukan dengan pilihan Sora. Ditanya lebih dulu pun Regy tidak akan mau mengaku. Tidak seru, katanya.
Walau begitu, meneriakkan pertanyaan itu di lorong yang ramai cukup membuat cewek-cewek menoleh heboh. Dua dari deretan cowok paling ganteng di Navia tiba-tiba menghampiri dan minta dipilih. Kenapa Sora seberuntung itu sih? Begitu pikir mereka.
"Gue atau Fael?" Regy mengulangi pertanyaannya.
Sora mencoba melirik Fael, mencari seberkas petunjuk. Tapi Fael tetap memasang wajah datar. Mungkin ada perjanjian dengan Regy tidak boleh memberikan petunjuk apa pun bahkan lewat ekspresi wajah.
Jari Sora berhenti pada Fael. Regy terkikik girang lalu menepuk bahu Fael. "Bye, Fael!" beralih mencubit pipi Sora, "Thank you!" lalu berlari pergi.
"Apa sih?" Sora mengedik pada Fael.
Barulah Fael menampakkan wajah bete. "Ngambil text book di ruang guru."
Helaan napas panjang Sora lepaskan. Muncul rasa bersalah di diri Sora. "Ya udah, gue bantuin."
"No, it's okay—"
Mengabaikan penolakan Fael, Sora menggiring cowok itu menuju ruang guru. "Yuk!"
***
"Banyak juga ya?" Sora menakar bobot dari buku yang mereka harus bawa. "Kagak ada troli apa?"
"Lagi dipake semua," jawab Fael sembari mengeluarkan sekardus lagi dari lemari penyimpanan.
Panjang umur!
Baru saja Pak Suro, pesuruh sekolah, datang membawa troli kosong yang baru saja selesai dipakai untuk mengangkut galon air.
"Pak! Pinjem troli!" Sora tergopoh-gopoh menghampiri pria tua itu.
Pak Suro tampak enggan di awal karena 80% troli yang dipinjam siswa tidak pernah kembali padanya. Namun, setelah Sora memohon, Pak Suro akhirnya meminjamkan troli itu.
"Sora?"
Fael memperingatkan saat Sora malah ikut naik bersama tumpukan buku yang mereka bawa.
"Dorong, Fael!"
Fael bergeming. "Nanti jatuh, lho."
Sora masih belum menyerah. "Ya udah gue duduk aja." Kemudian Sora duduk bersila di atas troli.
Tahu Sora tidak akan mau turun, Fael cuma bisa menghela napas dan berpesan, "Pegangan ya."
Beberapa orang di kelas-kelas yang mereka lalui menertawai kelakuan Sora. Tak sedikit yang mengambil video atau foto. Sayangnya, salah satu video sampai ke tangan Pak Rustam dan mereka berakhir kena detensi merapikan buku-buku di perpustakaan.
"Maaf ya, Fael." Sora lagi-lagi merasa bersalah. Ia menawarkan ganti rugi. "Gue yang ngerapiin. Lo pulang aja."
Fael menggeleng, tetap lanjut mengumpulkan buku-buku yang tercecer di ruang baca santai. "I'm free anyway."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Genç KurguIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
