Regy duduk bosan di meja makan, dilatari suara Kinan mengoceh tentang kue buatannya pada Dahlia.
Semenjak diundang private lunch tadi siang oleh Dahlia, Kinan mendapatkan kepercayaan dirinya untuk kembali ke pangkuan Regy. Kali ini dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Pram bilang Dahlia banyak memuji Kinan tadi siang. Makanya anak itu jadi besar kepala sampai punya nyali muncul di depan pintu rumah Regy tanpa diundang, membawa seloyang kue.
Untuk kesekian kali Regy tertipu suara notifikasi WhatsApp yang masuk ke ponselnya. Ia masih berharap balasan dari Sora tapi ternyata hanya notifikasi grup.
[Sora di mana? Egy mau call, boleh? Bales dong. Pls]
Pesan terakhir yang Regy kirimkan 4 jam yang lalu masih juga diabaikan Sora. Begitu juga beberapa panggilan setelah itu. Denting berikutnya, hati Regy mencelus. Nama Sora benar-benar muncul.
[Sora: Di rumah lo]
Regy kira Sora bercanda. Hingga Sora mengirimkan foto pekarangan rumahnya. Hold on—
Regy melompat bangun bersamaan dengan bunyi ketukan di pintu. Ia mencegah asisten rumah tangganya untuk membuka pintu dan berjalan sendiri menuju pintu itu dengan dada yang bergemuruh.
"Halo, Regy! Mamamu ada?"
Regy mematung mendapati Vira dan Kylo ada di balik pintu, memakai pakaian tradisional Betawi, dan membawa sesuatu yang nampak seperti—buaya? Roti buaya, lebih tepatnya—berwarna coklat keemasan, empuk, dan gempal.
"A—ada, Tante... Eh, kalian habis kondangan?" Regy tak bisa menahan rasa penasarannya melihat kostum yang mereka kenakan.
Kylo memutar kedua bola matanya, bersikeras membisu. Jelas sekali dia diseret kemari tanpa persetujuan. Sedangkan Vira memasang senyum lebar sambil melontarkan jawaban yang paling tidak masuk akal yang pernah kepikiran di otak seseorang.
"Kita ke sini mau ngelamar kamu!"
Wait—what?!
***
45 menit yang lalu...
"Berapaan tadi kamu belinya?" Vira bertanya, tanpa mengalihkan fokus dari kemudi.
"3 juta!" Belum apa-apa emosi Kylo sudah menyembur.
"Mana struknya?"
Kylo menjejalkan struk pembelian roti ke telapak tangan Vira.
Saat lampu merah, Vira mengamati struk itu dengan sekilas. "Oh." Gumaman entengnya menyulut amarah Kylo kembali.
"Oh? OH?! 3 million Rupiah for a fckn bread? Ini buaya apa? Buaya darat?!"
Memang sih secara bentuk, tampak realistis dan sedikit lebih besar dari roti buaya biasanya. Tapi itu tidak menjustifikasi kalau roti tersebut bisa dibanderol dengan harga 3 juta!
Vira terbahak kencang di atas kemudi. Namun, Kylo menolak ikut tertawa. Ia tidak bisa lagi mengendalikan kekesalannya. Di sinilah ia merasa keluarganya akan jatuh miskin. Salah satunya adalah gara-gara kelakuan ibunya yang tidak rasional kalau beli roti!
"Ng...nganu...berantemnya bisa nanti dulu? Tolong jelasin kenapa kita pake baju Betawi dan mau ke mana sebenernya."
Kylo dan Vira menoleh ke bangku belakang bersamaan. Terlalu sibuk meributkan roti seharga 3 juta, mereka sampai lupa kalau Sora ada di mobil itu bersama mereka. Dari tadi Sora linglung, mencari-cari celah untuk bisa bertanya di tengah-tengah keributan.
"Jangan tanya gue. Gue juga nggak tau," sergah Kylo masa bodoh.
"Bentar lagi kita sampai."
Walaupun ibunya enggan menyebutkan arah tujuan mereka, tapi dari lingkungan perumahan nampaknya Sora bisa menebak. Sora hanya berharap tebakannya salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Teen FictionIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
