"Kalian tuh bikin gue malu aja! Bisa-bisanya masuk daftar nilainya paling jelek! Kalian kan tau kalian itu bagian penting buat kemenangan Navia! Atlet paling disegani di semua pertandingan antar sekolah! Nggak lucu kalau kalian nggak bisa bertanding gara-gara NILAI RAPOR!"
Sora dan Fael duduk menghadap CCTV kecil di atas meja. Walaupun fisik Kylo tidak ada di sana, tapi suaranya yang menyembur melalui benda bulat putih bermata lensa itu sudah cukup menimbulkan efek yang sama. Bedanya hanya Kylo tidak bisa menjewer mereka.
"Tapi kan nyaris nggak lulus. Masih ada ujian akhir semester."
Salah. Sora salah langkah. Kylo diam-diam sudah menunggu Sora mengeluarkan pembelaan diri itu. Tentu saja Kylo sigap melahapnya.
"LO NGGAK LIHAT NILAI TENGAH SEMESTER LO? Menurut lo, kalau gue laporin ke Mama, nasib lo gimana?"
"Disikat."
Punya ibu yang gila dan kesabarannya setipis tisu dibelah, bukankah itu sudah jelas?
"Itu soal-soal di atas meja, kalian kerjain! Gue nggak mau tau, pokoknya jam 6 kudu kelar semua!"
"Ini kan banyak banget—"
Fael menahan protes Sora. Ntar gue bantuin, isyaratnya lewat sudut bibir. Sadar kesabaran Kylo serapuh rice paper. Daripada Kylo tambah murka lagi, kan?
"Gue rapat dulu. Tapi jangan kira gue nggak ngawasin kalian. Awas lo berdua tidur atau kabur!"
Kemudian suara Kylo tak terdengar lagi. Barulah Fael mengutarakan rasa penasaran yang mengganggunya dari tadi.
"Kenapa harus CCTV sih? Kan bisa on cam di Zoom."
Valid. Pertanyaan Fael sangat valid. Tapi Sora juga punya penjelasan sendiri.
"Keluarga gue emang demen mainan CCTV."
Hah?
Satu kata heran itu tercetak jelas di raut wajah Fael.
Sora bukannya asal menjawab. Teknologi CCTV jaman sekarang yang bisa dipantau kapan saja lewat aplikasi ditambah lagi adanya fitur suara membuat CCTV jadi alat hiburan bagi Sora, Kylo, dan Vira. Terkadang Sora mengamati rekaman CCTV malam-malam karena penasaran apakah ada kejadian horor di rumah mereka. Mungkin saja nanti bisa diangkat ke layar lebar, kan? Vira bahkan pernah mendikte belanjaan bulanan lewat CCTV di ruang tamu mereka. Dan sekarang Kylo menggunakan CCTV sebagai baby monitor. Bedanya, baby-nya adalah Sora dan Fael.
"Ini apa-apaan!" Sora membanting soal-soal yang diberikan Kylo. "Susah banget! Dia sengaja ya ngasih kita soal-soal Olimpiade matematika?"
"Nggak. Itu soal matematika dasar."
Dengan satu kalimat Fael berhasil mematahkan keluh-kesah Sora.
"Oh..."
Sora tak bersuara. Sejenak Fael kira dia menunduk karena sibuk mengerjakan soal, ternyata dia sedang menghias setiap nomor soal dengan kepala-kepala panda kecil. Benar kata Kylo, tidak perlu berharap banyak pada Sora dalam hal pelajaran.
"Lo sama sekali nggak ngerti soalnya?" Fael mulai cemas.
Kepala Sora menggeleng, masih menggambar satu kepala panda lagi sebelum menoleh ke arah Fael. "Katanya lo mau bantuin gue?"
Iya sih. Tadi Fael sempat mengisyaratkan begitu pada Sora. Tapi Fael tidak menyangka Sora akan benar-benar menagihnya.
"Sini soal lo."
"Emang beda sama punya lo?" Kening Sora mengernyit.
"Beda. Kylo bikin sesuai kemampuan kita dan soal lo setara soal anak kelas 6 SD."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Fiksi RemajaIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
