Sora bersembunyi di belakang gedung olahraga. Kotak susu stroberi yang ia beli dari mesin otomatis di dekat lobi sudah kosong, tapi Sora tetap menggenggam kotak itu untuk ia gigiti sedotannya. Trauma masih menghinggapi setelah ia nyaris berhadapan dengan wanita tangan besi itu. Kalau Regy tidak 'pasang badan' pasti Dahlia sudah mengulitinya hidup-hidup di depan umum.
Gigi Sora terus menjepit ujung sedotan, mengabaikan semua pesan masuk yang menanyakan keberadaannya—Regy, Myra, Kylo, Dendra, ia abaikan semua.
Tiba-tiba pintu didorong terbuka. Fael muncul membawa sebuah bungkusan makanan berwarna hijau bening. Sepertinya Sora tahu apa itu.
"Gue bawa penghulu buat lo."
Jantung Sora nyaris melompat keluar.
"Gue tampol ya?"
Fael pasrah saja saat Sora mendorong kepalanya dan berseru jengkel.
"TANGHULU, FAEL! TANGHULU!"
Ini mungkin keseratus kalinya Sora mengajari Fael soal nama makanan itu. Sekali lagi salah ucap, Sora siap mengirim Fael ke luar angkasa.
Sora mengambil satu tusuk dari bungkusan yang dibawa Fael. Fael sendiri menolak saat Sora tawari. Sora hampir lupa Fael tidak begitu suka makanan manis.
Sora mengunyah sambil menengadah menatap yang memayungi gedung sekolah mereka. Cerahnya langit siang itu kontras dengan suasana hati Sora yang kelabu. Rasa asam dan manis dari buah stroberi berbalut gula adalah hiburan sederhana untuk hatinya yang kelabu.
Dan Fael adalah orang yang tepat menemaninya—di saat ia tidak ingin bicara dengan siapa-siapa tapi juga tak mau sendiri. Karena anak itu hanya akan duduk di sisi Sora, berbicara kalau Sora yang mulai duluan.
"Gue udah beneran ditandai sama nyokapnya Regy," Sora meratap. "Gini banget nasib gue."
"Masih ada nyokap gue—"
Sahutan Fael memaksa kepala Sora menoleh. Untung masih ada lanjutannya.
"—masih ada nyokapnya Myra, masih ada nyokapnya Sarah, dan nyokap-nyokap lainnya."
"Bener juga kata lo... Ngapain gue ngebet dapet pengakuan Nyonya besar itu?"
Tangan Sora menggoyang-goyangkan tangkai tanghulu yang masih berisi setengah sembari memikirkan kata-kata Fael barusan. Ini kenapa Sora suka mengobrol dengan Fael. Dia selalu punya kata-kata yang bisa membalik sudut pandang Sora. Masalahnya, menggerakkan mulut cowok itu untuk bicara saja susahnya bukan main.
Pintu dibuka kembali. Sora dan Fael menoleh bersamaan, mendapati kemunculan Pram yang pelipisnya basah bercucuran keringat.
"Nah, ini dia," celetuk Pram di tengah napasnya yang terengah. Pria itu bersandar pada pintu untuk sekadar menata kerja paru-parunya kembali.
"Abis lari, Mas?" tanya Sora dengan kening bertaut. Siapa yang punya ide lari pakai setelan jas di bawah terik matahari begini?
"Nyari elo, Dik!"
Mata Fael memicing mendengar jawaban Pram.
"Ibu nyuruh gue manggil lo."
"Ibu...ibu gue?" Sora menunjuk dadanya sendiri.
"Ibu Pertiwi—YA BOS GUE! IBU RAMUNA!"
Punggung Fael menegak, menyatakan sikap waspada. Kenapa Ibu Regy sampai memanggil Sora? Mengingat histori ketegangan di aula tadi, wajar kalau Fael dan Sora curiga.
"Tolongin Mas dong. Capek nih lari-lari nyariin kamu. Kamu pikir Navia kecil?" Pram merosot di atas lantai beton, menyeka keringat di dahi dengan lengan jasnya sendiri. Wajah memelas Pram mengundang belas kasihan Sora.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Roman pour AdolescentsIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
