"Aaargggh! Badan gue mau rontok! Mana belum ngerjain PR dari Kylo! Sial banget gue! Punya adik macem diktator gini—"
Sora mengerem keluhannya setelah baru sadar kalau dari tadi ada Fael berdiri di depan pintu ruang sekretariat basket mengawasi. Sora dan Fael sama-sama jadi yang paling terakhir selesai latihan. Hanya saja Fael bukan latihan seperti Sora, melainkan sengaja diam-diam menunggu Sora selesai latihan karena khawatir.
"Jangan ketawa," ancam Sora dengan foilnya.
Fael menarik sudut bibirnya sekilas. Selalu keren di mata Fael kalau Sora sudah mengacungkan pedang itu, walaupun hanya untuk bermain-main. "Gue nggak ketawa."
Mata Sora beralih ke tangan Fael bagaimana tangan berjemari panjang itu mengunci pintu ruang sekretariatnya semudah menempelkan kartu akses.
"Sejak kapan pintu ruang sekre lo pakai kartu akses gitu?"
"Memangnya pintu sekre lo nggak?" Kening Fael bertaut sekilas. Ia memiringkan tubuh, mengintip pintu ruang sekretariat anggar.
"Belum! Masih pakai kunci—NYANGKUT PULA!" Sora berseru saat kuncinya terjebak separuh jalan di lubang kunci. "Ah, Navia gimana sih? Ganti kunci pintu aja PILIH-PILIH!"
Niat hanya melampiaskan emosi sesaat, hempasan tangan Sora tak sengaja menjebol kenop pintu ruang sekretariat anggar. Baik Sora maupun Fael terkesiap ketika kenop memantul di lantai granit.
"Sh*t! Fael—" Sora menoleh panik ke arahnya. Sekarang bahkan pergelangan tangan Sora muat melewati lubang yang ia ciptakan karena kebodohannya.
"Tangan lo kuat banget. Sumpah."
"Gue nggak perlu pujian lo! Ini gimanaaa?" Sora menunjuk kenop pintu yang terlepas di dekat kakinya.
"Yah copot."
"Gue juga tau!" Sora merengek, nyaris melantai.
Fael mendengus. Paling lucu menyaksikan Sora merengek—seperti punya versi rengekan untuk setiap situasi.
Namun, ini bukan skenario baru di antara mereka. Beberapa bulan yang lalu juga pernah begini dan Fael berakhir membonceng Sora naik motor ke toko bangunan terdekat untuk membeli kenop baru. Masalahnya, malam-malam begini mana ada toko bangunan buka?
"Ambil barang-barang yang penting, titip di sekre gue. Besok aja pintunya dibenerin. Tapi lo harus bilang Pak Rustam biar nggak dikira ada maling trus dia lapor Polisi."
Fael bersandar di dinding lorong, menunggu Sora mengumpulkan barang-barang penting dari dalam ruang sekretariat anggar. Keningnya mengerut keras ketika Sora hanya keluar dengan satu kotak panjang, tebal, dan terlihat berat. "Itu apa?" Tak biasanya Fael penasaran, tapi kali ini ia tak tahan untuk tidak bertanya.
Sora membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya. Fael tambah bingung. Walau dia belum pernah bermain anggar, ia merasa isi kotak itu tidak tampak seperti peralatan anggar.
"Airwrap."
Sama sekali tidak menjelaskan. "What's airwrap?"
"Hair dryer sama catokan."
Sejenak mata Fael beralih bergantian dari isi kotak ke wajah Sora. "Ini benda paling berharga di sekre lo?" Fael pikir Sora akan menyelamatkan pedang-pedang mereka atau medali yang ia menangkan.
"Fael, it's Dyson."
"Die-what?"
Sora mau tak mau menunjukkan struk pembelian yang tertempel di kertas garansi. Akhirnya Fael paham setelah melihat nominal yang tercantum. "Alright." Ia mengambil kotak itu dari tangan Sora dan membawanya masuk ke sekretariat basket. Fael membuka pintu lokernya dengan sidik jari untuk menyimpan barang titipan Sora. "Gue taruh di loker gue ya? Kalau sembarangan nanti dimainin sama anak-anak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Fiksi RemajaIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
