"Kantin kalian seru banget sih!"
Fanny girang dengan semua hiruk-pikuk di kantin sekolah Navia siang itu—yang menurut anak-anak Navia, ini adalah hal biasa. Dari akustik, random dance challenge, peramal tarot keliling, sampai tukang sulap, ada semua!
Ethan, Dean, Dendra, Kylo, dan Hector sibuk berbincang, larut dalam alunan gitar akustik. Fanny dan Gia terlalu terpukau dengan sulap kartu Zayn, sampai-sampai Myra meledek, "Hati-hati dompet samapa HP. Zayn aslinya copet!"
Semua damai, tenang, dan menyenangkan—kala Sora tak ada di meja itu. Lalu, setelah sibuk menghampiri semua meja menguras habis energi ekstrovertnya, Sora pun kembali.
Dan satu per satu kericuhan dimulai.
"Gue kayaknya kenyang ngemilin makanan orang, nggak akan ngambil makan lagi—oh, almond milk pudding!"
Regy terkikik mendengar seberapa cepat Sora berpaling dari omongannya sendiri cuma gara-gara puding. Ia membiarkan Sora merampas puding itu dari tangannya dan menghabiskannya. Toh puding itu Regy ambil memang untuk Sora.
"Tadi tanghulu, sekarang puding. Kalau gue sugar rush, lo yang tanggung ya?" tuntut Sora.
"Iya, iya," Regy menjawab sembari menyeka serpihan kecil puding di sudut bibir Sora dan memakannya. Lagipula Regy tak keberatan karena sebenarnya dia juga penasaran apa yang terjadi pada Sora kalau sampai sugar rush.
"Ada yang mau gue ramal nggak?"
Akhirnya tiba juga giliran meja mereka dihampiri Elga, si peramal tarot dari kelas XII A1.
"Dia bisa ngeramal beneran?" bisik Fanny penasaran.
Wajar sih Fanny bertanya. Daripada peramal, tampilan Elga lebih mirip anak party. Kemeja ketat dengan kerah terbuka, menolak pakai dasi, rok pendek, telinga ditindik 3, eyeliner model cateye panjang, dan pakai wig!
Seisi Navia tahu Elga mewarnai rambut ikal pendeknya dengan warna silver highlight lavender. Tidak mungkin setiap hari sekolah warna rambutnya berubah gelap kalau bukan karena wig. Yah, paling tidak dia masih punya kesadaran mengikuti aturan sekolah. Walau kadang kalau pulang sekolah Sora memergokinya melepas wig di toilet perempuan.
Mungkin di Azzura Gamma, anak ini sudah dikembalikan ke orang tuanya.
"Beneran," Sora menjawab pertanyaan Fanny. Karena Elgalah yang meramal kemenangannya di SEAFY, di saat Sora bahkan tak percaya pada kemampuannya sendiri.
Melihat Fanny yang masih bimbang, Sora berucap lebih dulu. Kebetulan dia ada ide.
"El, mending lo ramal nih anak berdua."
Sora menunjuk Regy dan Kylo yang duduk mengapitnya bergantian. Kedua cowok itu pun menoleh pada Sora minta penjelasan, sama seperti Elga.
"Ramal apaan?" tanya Elga sembari mengatur kartu-kartu tarotnya.
"Kapan mereka dapet jodoh lagi. Abis putus nih mereka."
"HAH?!"
Seisi meja membelalak. Kylo pun ikut melotot, sebelum wajahnya berubah pucat. Celingak-celinguk, cowok itu bingung harus membuang pandang ke mana. Ke kiri atau kanan, semua mata di meja itu mengawasinya.
Regy terlihat sedikit lebih santai. Hanya bersandar memainkan sedotan stainless di tangannya sambil menggigit bibir.
"Makanya, lo berdua curhat jangan di warung tenda pecel lele deket rumah! Jauhan dikitlah! Masa gue sama Mama makan di meja belakang, lo pada nggak nyadar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Novela JuvenilIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
