"bisa kita bicara sebentar?". ucap lelaki itu ..
namun el dengan terburu-buru mengambil pesanannya dan beranjak pergi..
"el dengerin aku dulu jangan pergi, kamu mau kemana, ayo kita bicara dulu.. el... {menarik tangan el} ayolah.. dengerin aku dulu, {berusaha menghalangi jalan wanita yang tengah ia bujuk} aku mau minta maaf sama kamu" tak menggubris apa yang lelaki itu ucapkan el tetap berjalan hingga "el pliss dengerin gua, gua bener-bener mau minta maaf sama lo." tanpa sadar perubahan pengucapan lelaki itu membuat el berhenti berjalan. "mau lo apa sih sebenernya?, ngapain lo muncul disini?, gua udah gak mau berhubungan sama lo lagi, lo sendiri kan yang mau gua pergi!" ucap el dengan nada tinggi.
"dengerin gua dulu el, lo jangan kaya gini.. kita bicara baik-baik.." "gak. gua gak mau. gua mau pulang. gak guna bicara sama lo, ga ada untungnya" setelah dengan tegas membantah el kembali berjalan.
"lo ikut gua" menarik tangan el, "apaan sih... lepasin gak.. lepas.. {mencoba melepas genggaman lelaki itu yang terus menariknya berjalan ke sudut mall} lepasin..... lo gak denger ya gua bilang lepasin" "udah lo diem ajah" jawab lelaki itu. setelah berada di tempat yang cukup sepi lelaki itu melepaskan genggamannya. "gua gak suka ya caralo" ucap el penuh emosi. "maaf-maaf gua tau cara gua salah tapi cuma ini satu-satunya cara supaya lo mau bicara sama gua." jelas lelaki itu. "lo ga bisa terus-menerus seenaknya sama gua gam" teriak el kepada lelaki di hadapannya yang tak lain adalah agam.
sosok yang selama ini ia tunggu akhirnya muncul dengan tiba-tiba. lebih mengejutkan dimana lelaki itu memaksa el untuk bicara berdua,
"lo dengerin gua dulu".. "gua gak mau agam, lo paham bahasa indonesia kan?"
agam memaksa el untuk duduk dan mendengar ucapannya. "gua liat lo tadi dari awal lo masuk mall, gua sengaja ngikutin lo diam-diam. awalnya gua mau menghindar, tapi saat gua lihat perut lo rata, artinya isinya udah keluar. apa bayi itu udah lahir atau?", "lo ga ada hak untuk bertanya apapun tentang gua" ucap el penuh emosi. "el, plis.. lah.. jawab.. dimana bayi itu?" paksa agam untuk el jawab.
"bayi itu? lo pake kata bayi itu, seakan lo ga anggap dia anaklo. lalu apa gunanya gua kasih lo jawabannya?" jawab el yang mencoba menahan amarahnya yang seakan mencekik jantungnya.
"gak gitu maksud gua el, gua cuma kaget dan gua bener-bener mau tahu keberadaan anak itu" jawab agam yang terus memaksa el untuk mengatakan keberadaan bayi yang telah ia lahirkan.
"kenapa baru sekarang gam? kenapa baru sekarang lo mau tahu?, lo kemana ajah? kenapa baru sekarang lo cari tahu keberadaan bayi itu?" jawab el yang tak sadar telah meneteskan airmatanya.
"el plis jawab.. gua mohon. dimana bayi itu?" paksa agam.
"jauh" jawaban singkat yang el pikir akan membuat agam semakin bertanya-tanya ternyata agam hanya terdiam..
"maafin gua el {memeluk} gua tau gua salah, maafin gua. maaf karena udah buat lo jadi kaya gini." "kaya gini? {melepas pelukan}" maksud lo apa ya? gua bahagia kok dengan keadaan gua sekarang" "gua tau lo sedih kehilangan anaklo el. makanya gua minta maaf" "kehilangan? lo pikir anak gua mati?, gila lo ya" PPPLLLAAAKK {TAMPARAN,}
di luar dugaan ternyata agam berfikir bahwa bayi dalam kandungan el telah meninggal, el yang sempat tersentuh dengan pelukan agam menjadi marah dan menampar agam dengan sangat kuat.
"jadi maksudnya anak kita masih hidup?, alhamdulillah ya Allah, maafin pikiran aku ya" "anak kita? sejak kapan lo akui itu anak lo gam?, gausah pake aku kamu segala deh jijik gua dengernya" "aku nyesel, maafin kelakuan aku dulu, aku bener-bener minta maaf sama kamu. tolong maafin aku dan kasih kesempatan aku untuk ketemu sama anak kita" agam yang terlihat menyesali perbuatannya berlutut memohon agar bisa dipertemukan dengan anak yang dulu tidak di akuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I AM PREGNANT (ON GOING)
Teen Fiction"aku ragu, ini terasa seperti jebakan" ucap agam dengan getaran bibir seolah itu sebuah ketakutan. "bagaimana bisa kamu ragu? kamu sendiri yang bilang kalo kamu ga sengaja keluar di dalem" terlihat jelas wajahnya memerah dan airmata pun tak terbendu...
