Bonus 4

6.2K 253 64
                                        

•Bonus•

"Papa!"

Jaemin membuka kedua matanya saat dia mendengar pekikan yang tidak jauh dari kepalanya. Telingnya berdengung, disusul oleh pening.

"Jisung, jangan ganggu Papa. Papa lagi sakit."

"Tapi, Jie mau main dengan Papa."

Mendengar rengekan sang anak, Jaemin sekarang menoleh. Memperhatikan Jisung yang tampak sedih. Jisung sudah cukup bersabar karena 2 hari tidak bermain dengan Papanya. Dan dia rindu.

"Papa sakitnya lama sekali, Jie tidak suka."

"Sakit 'kan gak bisa ditebak sembuhnya, sayang." Renjun menoleh, menatap suaminya yang bangkit duduk. Dia mendekat, "Kamu masih sakit, gak perlu nurutin apa kata Jisung."

"Udah gak papa kok, tinggal pusing aja. Bukan masalah."

"Tapi—"

"Nggak papa, sayang." Jaemin tersenyum teguh, meyakinkan Renjun kalau dia sudah baik-baik saja.

Renjun menghela napas. Dia beralih menatap sang anak. "Jie boleh main sama Papa, tapi jangan lari-larian. Main di dalem rumah aja, ngerti?"

Jisung menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan ucapan sang Papi. Menurut juga. Soalnya dilihat-lihat, Papa juga belum sembuh benar.

"Papanya cium dulu," Jaemin merendahkan tubuhnya. Meminta sang anak agar mencium pipinya.

Jisung mendekat, dia segera mencium pipi Jaemin. "Jie sayang Papa."

"Papa juga sayang Jie."

Renjun tersenyum, "Papi enggak."

"Sayang juga dong!" Jisung mendekati Renjun, mencium pipinya berkali-kali. "Jie sayang Papi sama Papa. Sayang banget."

Setelah itu, mereka pindah ke ruang keluarga. Ngomong-ngomong, mereka memang tinggal di rumah Jaemin. Rumah mendiang orang tuanya. Kata Renjun, tidak perlu pindah. Daddy Kim juga tidak masalah kalau Jaemin dan Renjun tinggal di sana.

Apalagi, banyak kenangan Renjun dan Jaemin di rumah ini. Apalagi saat Jaemin pertama kali meminta Renjun untuk menikah dengannya. Belasan tahun lalu. Di rumah Jaemin juga.

Makanya, rasa enggan itu muncul saat ingin pindah.

"Hati-hati ngeguntingnya, Jie." Jaemin memperingati. "Pelan-pelan aja gak papa."

Keduanya main seadanya. Menggunting lalu menempel. Tapi, rasanya seru karena Jisung memang merindukan saat-saat bermain dengan Papanya.

"Papa," Jisung memanggilnya. "Jie ingin adik."

Jaemin langsung berhenti menggunting. "Adik?" tanyanya lagi untuk memastikan.

"Iya, adik. Jie ingin adik." Jisung sekarang bangkit, mendekati Jaemin dan duduk dipangkuan Papa. "Jie ingin adik Papa, mau 1 adik."

Jaemin mengerjap. Apa Jisung kesepian sampai dia ingin adik? Tapi, Jaemin yang anak tunggal enggak, kok. Saat kecil, dia menolak keras adanya adik. Jaemin tidak mau perhatiannya terbagi.

Tapi, kok Jisung mau adik? Ini anak iri atau benar-benar ingin adik?"

"Jie benar ingin adik?"

"Adik?"

Jaemin mendongak. Dia menatap Renjun yang baru saja membuatkan sebotol susu untuk anaknya.

"Papi, Jie ingin adik." Jisung mengulurkan kedua tangannya, meminta dot susu yang Renjun buatkan.

"Kenapa Jie ingin adik?" tanya Renjun, dia duduk di sofa.

Jisung kembali menyender nyaman di dada Jaemin, "Jie mau teman di rumah."

Sweet Home ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang