Dad & Pa, baby
~ Depresi ~
Dini hari, Jaemin terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Anak itu melirik ke segala penjuru kamar orang tuanya. Tubuhnya bergetar dengan napas memburu.
Bayang-bayang pria itu kembali menghantui Jaemin. Kembali membuat telinga Jaemin berdengung. Seolah rasa sakit itu akan kembali.
Isak tangis Jaemin terdengar. Dia menoleh, menatap sang Papa. Jaemin tidak tau harus apa selain menangis. Jaemin tidak tau harus apa agar pria itu menghilang dari kepalanya.
Tangan kecil Jaemin mencengkram kaos yang Papanya kenakan. Dia bergerak gelisah, kembali meneliti setiap kamar. Di sana, di dekat lemari, Jaemin seperti melihat pria itu. Menatapnya dengan tatapan dingin namun suara tawanya terdengar.
Jelas. Jaemin begitu jelas mendengar suara tawanya.
Isak tangis Jaemin semakin keras. Dan itu berhasil membangunkan kedua orang tuanya.
"Jaemin," Jaehyun bangkit dan langsung mengangkat Jaemin. Menenangkan anaknya itu, sedangkan Johnny menyalakan lampu.
Jaemin kembali melirik ke dekat lemari. Tidak ada. Pria itu tidak ada. Tapi Jaemin masih ketakutan. Wajahnya masih pucat, bahkan bibirnya pun jadi ikutan pucat. Tangannya masih mencengkram kaos yang Papa kenakan.
"Jaemin, hey, Jaemin... Baby, tidak apa. Dia tidak ada." bisik Jaehyun lembut. Dia mengusap punggung sempit Jaemin lembut. "Tidak ada, dia tidak ada. Hanya ada Jaemin, Papa dengan Daddy."
Johnny dalam diam menyodorkan gelas minum ke Jaehyun.
"Ayo minum dulu," Jaehyun mendudukkan Jaemin di pangkuannya. Menerima gelas dari Johnny lalu membantu Jaemin untuk minum.
Johnny bangkit, dia berjalan keluar kamar. Mengambil pakaian lain untuk Jaemin kenakan karena pakaian Jaemin sekarang basah oleh keringat.
"Takut..." cicit Jaemin. Dia benar-benar tidak melepaskan cengkraman tangannya pada kaos Jaehyun. "Paman... Dia pukul Jaemin."
"Tidak, tidak, berhenti, baby. Jangan katakan itu." Jaehyun menyela, dia meletakkan gelasnya di lantai. Lalu mengusap kening dan wajah Jaemin yang basah karena keringat serta air mata. "Dia tidak ada, dia tidak akan pernah menyakiti Jaemin lagi. Jaemin aman, ada Daddy sama Papa yang akan ngelindungin Jaemin."
Jaehyun merasakan kedua matanya memanas. Namun tetap mempertahankan dirinya untuk tidak menangis. Kalau bukan dia dan Johnny yang menjaga Jaemin, siapa lagi yang akan menjaganya? Orang terdekat Jaemin, hanya Jaehyun dan Johnny.
Pintu kamar kembali tertutup saat Johnny kembali membawa pakaian Jaemin. Dia mengambil gelasnya lalu meletakkannya di atas nakas.
"Jaemin ganti baju dulu, ya? Baju Jaemin basah." Jaehyun melepaskan cengkraman tangan Jaemin dari kaosnya perlahan. "Setelah ini, Jaemin tidur lagi."
Setelah berhasil mengganti pakaian Jaemin, anak itu tidak bisa tidur. Alhasil Johnny mengambil alih dan menggendongnya. Dia membiarkan Jaehyun beristirahat walau begitu, Jaehyun tetap tidak bisa memejamkan matanya.
Johnny mengusap punggung Jaemin lembut, berjalan pelan-pelan ke seluruh penjuru kamar. Bergumam pelan menyanyikan lullaby kesukaan Jaemin.
"Daddy."
Johnny menunduk, menatap putranya. "Jaemin ingin sesuatu?"
Jaemin diam. Masih fokus mendengarkan detak jantung Johnny yang terdengar teratur. Jaemin kembali merengek, dia benar-benar tidak suka seperti ini. Jaemin ketakutan, tapi bingung harus melakukan apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Home ✔
FanfictionTentang Johnny, Jaehyun dan buntelan bantet mereka, Jaemin. JOHNJAE ft JAEMIN BxB Crack pair!
