Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Jam istirahat tiba, perut Anita sudah keroncongan dan Anita lupa tidak membawa uang sakunya dari rumah, membuat ia kebingungan harus berbuat apa.
Anita menoleh ke belakang mendapati Adeva sedang makan siang di kotak makannya, Anita tersenyum kemudian mendudukkan bokongnya di kursi di hadapan Adeva.
"Adeva lo makan sama apa?" Tanya Anita menompang dagu sambil menatap lekat mata indah Adeva.
Adeva menelan makanannya dengan susah payah "Keliatannya?" Balik tanya Adeva pada Anita membuat Anita berdecak geram dan merotasikan matanya.
"lo makan sama tel-"
kruku krkrkrkrk...
Memalukan, suara keroncongan perutnya membuat pipi Anita memerah seperti kepiting rebus karena merasa malu. Adeva menahan tawanya yang hampir pecah, ia menutup mulutnya yang penuh dengan makanan menggunakan kedua telapak tangannya yang kosong.
"Boleh gak gue minta? dikit aja, baby cacing gue di dalem sana udah demo," Ucap Anita tersenyum kikuk pada Adeva, rasanya memalukan ia mengucapkan kalimat kalimat memalukan ini.
Adeva menyodorkan sendoknya pada Anita membiarkan Anita menyuap sendiri, Anita tersenyum senang kemudian memakan dua sendok nasi ke dalam mulutnya.
"maahasih" Ucap Anita dengan mulut masih penuh, Adeva tersenyum kecil ketika melihat nasi di pipi kiri Anita.
Adeva menunjuk pipinya sendiri membuat Anita kebingungan "Apha?" Anita ikut memegang pipinya sendiri.
"Geser lagi" Adeva menginstruksikan tangan Anita yang kini memegang pipinya, mencari apa yang di tunjuk Adeva.
"Mana?!" Kesal Anita tak menemukan yang di tunjuk Adeva, Adeva juga ikut geram tangannya terulur mengusap pipi Anita yang di tempeli sebutir nasi.
"Ini maksud gue" ucap Adeva tersenyum lebar dan menunjukan butiran nasi yang dia dapat.
Kedua mata mereka beradu, begitu lama hampir 1 menit, sehingga Adeva menyadari Anita yang mulai tertawa kikuk dengan pipi memerah, masih tertegun dengan kejadian tadi. Anita mengerjapkan matanya beberapa kali supaya melupakan kontak mata antara mereka yang akhir akhir ini sering membuatnya jatuh cinta.
"Abisin" Titah Adeva menyodorkan kotak makannya, serta air minum dalam botol pada Anita.
"Lo? Gimana sama lo? udah kenyang? makasih kalo gitu" Tanpa menunggu jawaban Adeva, Anita langsung membawa air minum dan kotak makan ke mejanya, tanpa tahu malu ia melahapnya seperti orang yang kelaparan selama satu minggu.
"Makasihh Adeva!" Teriak Anita dari mejanya dan Adeva mengangguk pelan sebagai jawaban.
Setelah menghabiskan makanannya, Anita mengembalikan kotak makan itu pada Adeva. Tentunya sudah ia bersihkan, meskipun agak hinyai karena tak menggunakan sabun ketika ia cuci.