⚘⌑⌑⌑⚘
"Awas lo" Adeva menjauhkan dirinya dari Susi, ia berjalan masuk kembali ke rumahnya.
Perasaan ini sama seperti ia dekat dengan Anita, jantungnya berdebar kencang dan telinga yang memanas.
"Aelah sok sok an ngejauh, padahal lo masih naruh rasa kan sama si susi" Ucap Kalen dari belakang, yah kakaknya itu mengikuti dari belakang.
"Naruh rasa apaan sih bang? jelas jelas kita sodara" Elak Adeva, dia benar benar tidak mau membahas hal seperti itu. Hatinya akan berkecamuk jika terus diingatkan akan perasaan masa lalunya.
"Tatapan lo buat dia masih sama, Sanndinyar. Gue abang lo, gue tau lo kayak gimana" Kalen menepuk pundak Adeva, Raut wajah Adeva kini tidak baik baik saja ia sangat kesal.
"lo juga tau Fando suka sama Susi?" Adeva menepis tangan Kalen di pundaknya.
Kalen terdiam sejenak, ini pertama kalinya Adeva mendelik dengan tajam dan menepis kasar tangannya.
"Udah deh" Setelah mengatakan itu Adeva berjalan dengan cepat keluar dari rumah.
"Ribet banget sih hidup! di jodohin sama Anita iya, di ship sama abang sendiri juga mana sama sodara sendiri lagi ngeship nya" Batin Adeva, ingin rasanya ia berteriak sangat keras.
⚘⌑⌑⌑⚘
"Mau kemana? ini masih pagi?" Tanya Susi seraya mengikat rambutnya yang berantakan.
Adeva seolah tidak mendengar Susi ia terus mengikat tali sepatunya tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Hiih budeg lo. Orang nanya ya saut, domba aja nyaut masa lo nggak" Ajil melemparkan tas nya ke arah kepala Adeva, dan tepat sekali mengenai kepala Adeva.
"Gak sopan lo anak dajjal!" Teriak Susi tidak terima melihat ketidak sopanan anak berumur 13 tahun itu.
"Hillihh!" Ajil malah mengejek gaya bicara Susi dan mengambil tas nya kemudian berangkat sekolah tanpa berpamitan.
Disusul dengan Adeva yang sudah selesai mengikat tali sepatu dan melangkah pergi tanpa pamit.
"Dih sebelas dua belas tuh adek kakak" Gumam Susi menggeleng pelan.
⚘⌑⌑⌑⚘
Adeva sengaja datang lebih pagi hari ini, ia berniat untuk melihat wajah ceria Anita untuk menghibur diri. Cukup lelah kemarin ia kerepotan dengan tingkah Kalen dan Susi.
Tapi sejak tiga puluh menit berlalu, Anita belum kunjung datang juga. Apa Anita tidak masuk sekolah hari ini?
Sial, Adeva merasa khawatir sekarang. Adeva melihat jam dinding yang tergantung di dinding. Jam menunjukkan pukul 6.53 dan sebentar lagi bel sekolah berbunyi.
"Anita gak sekolah ya?"
"Kayaknya iya sih, tapi kenapa? bukannya sekarang sabtu ya? pelajaran favorit nya kan hari sabtu"
"Coba tanya sama Ayangnya"
Semua perempuan menoleh pada Adeva, dan Adeva mendengar jelas percakapan mereka tadi.
Adeva pura-pura tidak dengar dan benar saja, Ara, Yudya, Widia dan Perez heboh bertanya pada Adeva membuat Adeva risih.
"Gimana gimana? anita kemana?"
"Iya, pacar lo tumben telat?"
"Kemaren habis ngapain hayooo"
"telpon dong anitanya"
dan masih banyak lagi, Adeva memilih keluar kelas karena suasana itu tidak baik bagi kewarasan Adeva.
Tepat di ambang pintu, Anita dan Adeva berpapasan. Kantung mata Anita melebar, juga bola matanya yang keputih-putihan kini kemerah-merahan.
Anita mendelik tajam dengan mata sayunya dan menyenggol Adeva dengan sengaja, dia melempar tas nya ke kursi dan langsung duduk dengan wajah suram.
"Lhoo Anita? lo kenapa?" Tanya Juliani, ia khawatir dengan mata Anita yang bukan hanya sembab tetapi terlihat seperti tidak tidur semalaman.
"Eh eh itu Anita"
"Anita tumben lo telat?"
"Iya, tadi baru aja kita omongin"
"Tadi kita nanya sama Adeva tapi dia malah keluar kelas"
"Iyaa, masa pacar sendiri telat gak tau sih"
Kalimat terakhir yang Ara ucapkan membuat Anita menoleh ke belakang, ia tersenyum tipis.
"Dia bukan pacar gue. Dia pacar orang, diem deh gue gak pernah pacaran sama dia juga. Dia juga pacar Susi bukan gue" Ucap Anita dengan nada tinggi.
Yudya mengernyitkan keningnya "Susi? yang maba itu kan? yang udah anak kuliahan tapi masih jamet? itu bukan sih?" Tanya Yudya
"Bukan. Dia cantik, bagaikan bidadari" Ketus Anita kemudian memalingkan wajahnya.
"Ohh jadi lo cemburu gituuu?"
"Cie ciee~"
Sial, niat Anita adalah agar tidak di soraki dengan kata 'ciee ciee' tapi malah menjadi jadi. Anita menutup telinganya dan memejamkan mata. Anita rasa ucapannya terlalu spontan membuat suasana semakin pahit.
──────
"Ta, yang piket hari ini cuman gue. lo kan kebersihan ya, boleh dong bantuin gue" Pinta Kiki dia menyenggol lengan Anita yang lemas.
"Ogah!" Ketusnya mendorong Kiki kemudian berjalan cepat ke luar kelas.
"Heh, dev. Pacar lo napa?" Tanya Kiki menunjuk Anita menggunakan dagunya. Sedangkan Adeva hanya mengedikkan bahunya kemudian meninggalkan kiki sendiri di kelas.
Tadinya Adeva akan bertanya pada Anita tentang hari ini karena Anita sangat aneh.Tapi, saat Adeva berjalan cepat ingin menyusul Anita di jalan. Ia tidak menemukannya.
Adeva menghela nafas gusar, dia pikir kenapa Anita begitu? Apa dia baru saja melakukan hal yang salah atau membuatnya marah?
Adeva mengacak rambutnya dan berjalan cepat untuk segera pulang, ia harus meluruskan otaknya agar bisa sedikit berfikir pertanyaan apa yang harus ia lontarkan nanti pada Anita.
Sementara itu Anita terus murung seharian membuatnya tidak nafsu makan hingga perutnya terasa sakit. Anita berjalan gontai ke arah pintu rumahnya.
Anita memegang gagang pintu sambil terpaku pada satu arah, gadis tinggi dengan surai panjang. Anita mengamati setiap inci wajah gadis itu merasa familiar dengan wajahnya.
"Susi," Gumam Anita, ia menghela nafas gusar lalu membuka pintu dengan kasar, masuk ke rumahnya seraya menghentakkan kaki layaknya anak kecil yang tidak mendapatkan permen.
───────
KAMU SEDANG MEMBACA
NIDE
Teen FictionMencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar. Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
