enam

26 8 0
                                        

Siang ini, Anita di panasi oleh Fikden dengan Saira yang Anita lakukan adalah? tentu saja tidak peduli, untuk apa peduli? tidak penting

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siang ini, Anita di panasi oleh Fikden dengan Saira yang Anita lakukan adalah? tentu saja tidak peduli, untuk apa peduli? tidak penting. Melihatnya pun tak sudi, apalagi kali ini Saira dan Fikden sedang foto berdua di hadapan semua orang, tidak tau malu.

"Jangan diliatin, lo bakal ngerasain kok foto bareng sama pacar lo nanti" Ucap Auf menyenggol lengan Anita mencoba menghibur Anita dari kegalauan.

"Cih, gak mau gue. Liat aja, gak tau malu banget tuh" Ucap Anita menunjuk Fikden dan Saira dengan tatapan tajam bagai elang.

"Kita potbar yuk, panasin dia juga" Ajak Auf menaik turunkan alisnya, Anita setuju, ia langsung membuka kamera di handphone nya.

"Lo aja yang pegangin males gue" Ucap Anita menyodorkan handphone nya pada Auf. "Eh Adeva lo ikutan deh" Adeva menggeleng kuat sambil melirik Auf yang berdecak kesal menatap Adeva,

"Halah jangan geleng geleng doang, ayoo buruan" Paksa Anita menarik adeva duduk di sampingnya, tanpa sadar ia berdekatan dengan Adeva sehingga Auf - yang notabenenya pria kecil - tak terlihat dalam kamera, hal itu sungguh membuat sang empu tersinggung.

Auf berdecak sebal "Yudah gue potoin kalian berdua aja, gue gak mood"

"ehh! lo yang ngajak! gue pengen betiga," ucap Anita terdengar sedikit seperti rengekan, Auf dan Adeva pun luruh keduanya pun menuruti apa yang Anita inginkan.

Auf tertawa kecil kemudian memegang handphone nya, Auf duduk di depan adeva dan Anita, kali ini Auf mengatur posisi handphone nya supaya ia terlihat dalam layar kamera.

Anita berpose menutup wajahnya sedangkan Adeva bingung harus berpose seperti apa, Auf berpose seperti Jamet nyasar ehh sorry jamet nyasar, maksudnya ia mengacungkan jari tengahnya dengan tampang petantang-petenteng.

"udah ah males gue" Auf memberikan handphone nya pada Anita, hanya satu jepretan yang mereka ambil.

"Hasil nya burem goblok!" Kesal Anita hendak melempar handphone nya pada Auf tapi Adeva merebutnya kemudian menghapusnya.

"Aelah malah di hapus lo!" Pekik Anita setelah kesal menghentakkan kaki ke kelasnya, ia menggigit bibirnya dan mengacungkan jari tengah pada dua pria di belakangnya.

﹏﹏﹏﹏﹏⌑

"Gledis, lo bisa ga sih kalo nulis di meja lo aja, jangan lewatin meja gue. Bau nya nempel sama gue, karena lo gue jadi gak punya temen" Gerutu Anita, dia sibuk berkutat di handphonenya tapi mulutnya sibuk mengomeli Gledis.

"Nita! cukup deh! Roda kehidupan masih berjalan! lo terus ngomong yang bikin gue sakit hati! lo pikir hati gue batu hah? lo pikir gue gak sakit lo ngomong gitu?!" Anita terpenjarat kaget mendengar bentakan dari seorang Gledis. Anita menarik nafas tenang mempersiapkan kata kata untuk mengumpat pada Gledis.

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang