dua puluh satu

12 2 0
                                        

"Ya salah lo juga sih, lo suka tapi diem diem

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ya salah lo juga sih, lo suka tapi diem diem. ngomong kek" Ucap Fando, malam ini mereka ber lima berkumpul. Jarang sekali mereka main bersama, itulah kenapa mereka berkumpul untuk malam ini.

"Gengsi bro, terlalu lebay" Sanggah Lias, Benar. Bagi Lias harga diri seorang pria itu utama.

"Kalo gitu bang dedev, coba ngasih effort, cewek zaman sekarang kan musim nya effort" Saran Xavi, ia tahu itu karena teman perempuan nya sering membicarakan effort laki laki yang mengangagumkan bagi kaum perempuan.

"Mending coklat aja, cewek suka yang manis manis. Makanya gue di kejar,kan gue manis" Ucap Fando dengan percaya diri dan membenarkan topi yang ia pakai

"Huellkk!" Keempat pria disana seakan mau muntah dengan ucapan narsis Fando.

"Hidihh maniss yaa, iya lo manis kek tai ayam" Ejek Veer ia hendak melemparkan batu yang ada di sebelah nya.

"Eh tapi kalo coklat, bang dedev beli nya pake apa?" Tanya Xavi dan mengusap dagunya pertanda ia berpikir

"Pakek duit lah, lo pikir pake daun pesugihan si adeva!" Sewot Fando

"Iya sih, gue setuju sama si Xavi. Kalo beli coklat duit dari mana coba? 'kan kita cuman bujang desa joba" Ucap Veer memebuat lima pria disana meneguk ludahnya dengan kasar.

"Malah di ingetin," Ucap Adeva, setelah dari tadi hanya menyimak dan sesekali menanggapi dengan senyuman tipis.

"Dahlah, gue udah dapet kerjaan juga. Gue yang paling tua, gue juga udah dapet kerjaan duluan dong" Bangga Lias dia menepuk pundak Adeva

"Wahh dimana tuh? gue capek sekolah melulu, pengen ngikut dong" Ucap Fando, langsung beranjak dari duduknya dengan antusias

"Gak! kerjaan ini berat buat pelajar kek kalian. kalian fokus aja belajar, kalo kalian udah dapet nilai gede lumayan tuh kalian bisa kerja dan punya jabatan yang baik" Ucap Lias seperti layaknya orang tua menasehati

"Emang lo kerja apaan?" Tanya Veer dengan penasarannya

"Gue kuli bangunan" Ucap Lias tertawa hambar

"Yaudah lah yang penting punya kerjaan iya gak bang?" Ucap Xavi pada Lias membuat lias tersenyum haru.

"Oke! balik lagi ke masalah cewek! jadi lo mau gimana sama cewek yang lo suka hah?" Tanya Veer dengan desakannya pada Adeva

"Gue juga gak tau" Ucap Adeva dengan polosnya

"Keburu di ambil orang, cepet dong tembak. Aelah lu!" Geram Fando

"Terus gue harus apa?" Tanya Adeva, lagi dan lagi kebingungan.

"Mending lo ngasih hadiah sederhana, tapi punya arti mendalam dan awet lama. Kayak barang yang kepake tapi awet" Saran Lias

"Make up?"

"Baju?"

"Aksesoris?"

"Nah, kayak Aksesoris. Misalnya gelang, cin cin atau kalung gitu deh" Ucap Lias setelah mendengar saran saran dari yang lain.

﹏﹏⌑

"Pagi dev," Sapa Anita, kebetulan mereka bertemu di tengah jalan, dan Anita memikih untuk pergi bersama Adeva ke sekolah.

Adeva tersenyum tipis "Pagi" jawabnya dengan singkat.

"Lo kemaren kebelet apa gimana? kok pulangnya lewat jalan pintas sih?" Desak Anita dengan nada tak suka

"Iya" Jawab Adeva, membuat Anita semakin bersemangat untuk mengajak ngobrol Adeva sebanyak mungkin.

"Kalo kemaren gue ada salah ngomong dong, jangan sampai marah gak jelas, nyebelin tau. Lo juga jangan pulang lewat jalan pintas, pulang cuman bareng koko sama Tafian tuh gak seru" Racau Anita layaknya kucing belum di beri makan.

"Emang kenapa kalo gue maunya jalan pintas? gak boleh?" Tanya Adeva mendekatkan wajahnya pada Anita membuat Anita refleks menggeser

"Ya nggak lah! gue sen-"

"Emang lo siapa gue?" Tanya Adeva semakin mengintimidasi, dan suasana pagi yang semula sejuk menjadi kekurangan atmosfer.

"Gue kan temen lo. Kita kan temen! emang lo tega ninggalin temen lo sama orang gajelas garing kayak si Koko sama si Tafian?" Ucap Anita agak terbata, namun sebisa mungkin Anita mengatakannya dengan sarkas.

Tatapan Adeva meneduh ia meluruskan kembali pandangannya ke depan, dan berjalan lebih cepat di banding Anita.

Anita memiringkan kepalanya kebingungan "L-lo kenapa? b-bener kan kita cuman temen? lagian lo ngapain ninggalin gue sama si koko si tafian. gajelas tau" Anita mengatur nada bicaranya agar tidak kaku

"Viya bener kali ya, tapi gak mungkin! gak mungkin!" Anita kebingungan karena kepikiran apa yang Liviya katakan kemarin.

Mungkin saja iya, karena Adeva menyukai nya? atau karena Anita salah ucap? entahlah Anita bingung sendiri.

"Gue salah ngomong apa gimana? Lo marah ya sama gue? Iyadeh, lo terserah mau pulang jalan mana juga gue gak larang lo" Ucap Anita tapi seakan bicara sendiri Anita samasekali tidak di tanggapi

Anita mengangguk pelan pertanda ia paham situasi saat ini sangat canggung, tidak seperti tadi yang saling sapa layaknya teman akrab.

﹏﹏⌑

"Ta, kantin kuy" Ajak Juliani, karena ia melihat ada nya kecanggungan antara Adeva dan Anita maka saat istirahat tiba, Juliani mengajak Anita pergi dari kelas.

Anita langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kelas bersama Juliani serta Naya.

"Kenapa lo?" Tanya Juliani pada Anita

"Kenapa apanya? Gapapa juga" Jawab Anita dengan senyuman kaku

"Halah, biasanya juga ketawa ketiwi sama si Adeva. tumben nggak?" Timpal Naya membuat Anita tersenyum miris

"Gue gak tau ya, ini bukan kata gue. tapi kata sodara gue, Adeva itu suka sama gue. Makanya gue ngomong kita cuman temen, dia langsung marah njir" Ungkap Anita pada Juliani dan Naya

"Iyalah, gue juga kalo misalnya di gituin sama orang yang gue suka pasti sakit hati" Ucap Naya dengan mata sinis nya

"bener tuh, Adeva suka sama lo. Lo sih, pake ngomong cuman temen. Pasti dia marah sama lo" Timpal Juliani membuat Anita merotasikan matanya

Anita menghela nafas "Terus gue harus gimana?" Tanya Anita dengan bingung

"Ta, Kata si koko ke warung bentar" Panggil Gledis setelah itu langsung pergi, tak mau berlama lama dengan Anita

"Ngapain?" Tanya Anita pada Gledis namun tak ada jawaban lagi, maka Anita memilih langsung ke warung di depan sekolah.

Di depan warung, terlihat Adeva dan koko sedang duduk bersampingan.

"Mau apaan sih dia? pake ada Adeva segala lagi, kan gue malu sama dia kan lagi marahan" Monolog nya tetapi tetap berjalan ke koko.

═════

dikiiitt lagii

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang