Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Tidak ada yang mau memikirkan sesuatu yang tidak penting jika tidak kepikiran
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam istirahat kali ini gerimis, itulah kenapa banyak yang memilih diam di kelas dan tidak keluar kelas. Itulah kenapa Anita merasa murung karena tidak bisa berduaan dengan Adeva lagi. Eh??
Anita hanya bisa memperhatikan Adeva yang di kucilkan saat melihat orang orang bermain game, sedangkan dia hanya melihat.
"Makanya, lo bawa HP kek ke sekolahan" Ucap Koko, dia duduk di samping Adeva membiarkan Adeva melihatnya. Adeva tersenyum kecil, ternyata Koko mempunyai kepribadian orang baik.
"Gue gak punya HP" Jawab Adeva seadanya, Adeva memang tidak memiliki handphone.Wajar saja, ingat Adeva juga tinggal di Desa Joba yang kecil (Sembilan)
"Hallah, gue kalah nih gegara lo! Maen nih coba" Koko memberikan handphone nya pada Adeva, sebenarnya ia tahu Adeva juga ingin mencoba.
Victory!
"Ini menang ko?" Tanya Adeva pada Koko karena mendengar seruan itu dari game yang ia mainkan.
"Udah ah, giliran gue. Masa lo bisa menang gue nggak" Adeva tersenyum kecut pada Koko, "Dia yang ngasih dia yang nyesel" Batin Adeva
Melihat Adeva yang tersenyum dari jauh padanya entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya membalas senyuman Adeva. Tanpa ia sadari tatapan matanya tertuju seperti bidik panah hanya pada mata Adeva.
"Liatin Adeva terus tuh, naksir ya naksirr yaa" Goda Juliani menaik turunkan alisnya sambil mencolek dagu Anita.
"mmm gak ada alesan lagi, pokoknya lo naksir sama Adeva,"Sela Naya dia membungkam mulut Anita.
"Tuh liat, Adeva aja langsung kena mental omongan lo nyakitin bilang gak suka sama adeva, liat DEG itu mah sama dia" Tunjuk Juliani pada Adeva yang kini melamun, padahal Adeva sama sekali tak bisa mendengar obrolan mereka dari jauh.
﹏﹏⌑
Karena ucapan Koko, Adeva merenung sebentar. Apa dia harus memiliki handphone? bukan hanya untuk bermain game, tapi sepertinya handphone sangat penting sampai grup kelas pun mereka punya kecuali Adeva.
Adeva pikir, apa jika dia minta pada mama atau kakak nya apa dia tidak akan dimarahi?
Adeva tak berhenti melamun hingga tak sadar sejak tadi para gadis membicarakannya sambil menunjuk nunjuk Adeva.
Tak lama kemudian Adeva menoleh pada para gadis di bangku Widia yang sedang berkumpul, tentu saja mereka membicarakan Adeva dengan suara yang sengaja di besarkan agar di dengar seluruh penghuni kelas.
"Iya tau, dia emang pacaran sama Nita"
"Masa sih, gak cocok banget, Nita kan OSIS tapi kok tipe nya.."
"Kata gue cocok,sama sama blo'on soalnya"
"Adeva tuh cengo bukan blo'on"
"Gue tau, Nita pasti gengsi punya pacar kayak adeva. makanya dia gak mau ngaku"
"Jelas dong, masa dia nilai ujian tinggi masuk tiga besar pacaran sama yang kek gitu"
"Herman gue sama pilihan Anita, yang spek adeva"
Adeva beralih menatap Anita yang sedang mengobrol dengan Juliani dan Naya, mereka bertiga juga membicarannya tapi adeva tak tau mereka membicarakan apa, yang jelas mereka bertiga juga tampak menunjuk nunjuk ke arah Adeva.
Adeva menghela nafas panjang kemudian beralih keluar dari kelas hendak menuju toilet, berlama lama di kelas ternyata sumpek, itu yang di rasakan Adeva.
﹏﹏﹏⌑
"Kalo kalian nuduh gue suka sama adeva, dan kalian ngerasa bener kalo crush gue Adeva," Anita menggantung kalimatnya dan menatap Juliani dan Naya bergantian. "Pasti kalian tau si Manaf di kelas sebelah?" Pertanyaan Anita di balas dengan anggukan Juliani dan Naya.
"Eh itu tuh crush nya Naya tauu, dia suka sama Si Manaf" Ucap Juliani sambil menyenggol lengan Naya yang kini kesal rahasianya terbongkar.
"Sssttt ya, jangan kasih tau siapa siapa. Mau gimana lagi, dia ganteng banget cinta pertama gue. gue pertama kali tertarik sama orang itu," Ucap Naya menahan pipi memerahnya karena ia telah mengungkapkan rahasianya.
Juliani tertawa kecil "Tuh kan, masih mending gini ta. Naya kalo salting pasti mukul mukul sambil teriak teriak"
"Paansi, gue gak gitu" Naya mendelik dengan khasnya, Naya memiliki mata yang agak sipit, tidak sipit tapi juga tidak melotot, Naya sangat cocok jika mendelik tajam, sangat terlihat dalam sorot matanya jika dia tidak suka pada seseorang.
"Nay, itu manaf!" Teriak Juliani namun hanya bisa di dengar oleh Anita dan Naya.
Naya dan Anita kompak menoleh ke arah yang di tunjuk Juliani, benar saja Manaf masuk ke kelas mereka dengan kresek hitam di kepalanya.
Manaf, berasal dari kelas sebelah. Semua orang mengenal Manaf karena kekonyolannya, tingkah polosnya dan juga nada bicaranya yang unik. Tapi beberapa orang menganggap Manaf itu tampan, seperti hal nya Naya beranggapan.
Benar saja, Naya sudah memukul mukul Juliani yang duduk disampingnya, menggunakan tangan halusnya sambil berteriak teriak dalam hati.
Wajah Naya terlihat memerah dengan senyuman lebar nan cantik terus tercetak di wajahnya, tangannya tidak diam, melainkan terus memukul atau mencubiti lengan Juliani.
"Tuh kan, gue bilang apa? nih anak nge reog kalo ada-"
"Sssttt, ntar kedengerann" Geram Naya, ia pikir teman sebangkunya— Juliani ini sangat bocor juga ternyata.
Anita menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Cowok aneh kayak dia lo suka? dia kan anggota OSIS nih ya kayak gue, kerjaannya kalo nggak tidur pas rapat ya pasti ngelamun" Ucap Anita
"Wahh, berarti dia pikirannya kosong banget ya, pantesan dia lucu banget kalo apa apa, ternyata polos banget orangnya," Ucap Naya membuat Anita berdecak.
"Udahlah, jangan di jelek jelekin,Ta. Mau sejelek apa Manaf di telinga sama matanya Naya tetep lope sekebon" Ucap Juliani di balas anggukan antusias kemudian tangan halus itu memukul pundak Juliani keras.
"Dasar bocah! bisa bisanya lo tau" Tawa Anita pecah setelah Naya mengatakan itu.
"ngomong ngomong crush lo punya juga kali, Jul," Anita menggantung ucapannya "Hayoo siapa crush lo?" Tanya Anita menaik turunkan halisnya
"G-gue gak punya crush kok. Sueerr" Wajah Bohong Juliani sangat terlihat membuat Anita gemas sekali.
"Halahh bohong, si fe-"
"Hey! hey!heyy! ferdi samboo! iya ferdi samboo!" Sela Juliani agak panik, ia tak rela jika harus mengaku dia menyukai pria itu.
"apa? lo suka sama si Fedrian? really?" Sungguh heran, siapa sangka seorang Juliani menyukai pria seperti Fedrian, si pria gila Dangdut dan agak boti itu.
﹏﹏﹏﹏𖦖
Menggulir layar handphone itu seru, tapi ingat tanggal 4 Desember Ujiannn lhooooo buat yang sekolahhhh