WELLCOME TO MY STORY!
HAPPY READING 🍀
"Mah Ana kok gitu? Zora gak mungkin kabur, mungkin dia lagi di rumah Abangnya. Abang Maey kan lagi gak ada jadi dia tidur di rumah Bang Maey. Gak mungkin Zora kabur sama Harsy" Ucap Anita sambil menahan nangis yang menggenang di matanya, dia tidak menyangka kalau temannya akan senekat itu untuk kabur bersama kekasihnya.
"Kamu kenapa nita? Zora emang kabur sama Harsy, dia cuman bawa baju sama uang aja. Udah gitu pergi lagi, coba kamu bujuk dia buat pulang. Kita keluarga besar Zora udah nyoba buat bujuk tapi dia gak mau" Ucap Mah Ana, dia adalah kakak dari Zora.
Anita menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Andai aja kemarin aku gak biarin Zora pergi sama Gledis" Anita masih menahan isakannya.
"Jadi, kemarin sama Gledis dulu?" Tanya Mah Ana, Anita mengangguk kemudian menceritakan segalanya.
"Maafin Anita ya Mah Ana, Aku gak larang Zora" Tangis Anita pun pecah, dia malu sekaligus merasa bersalah menangis di hadapan Mah Ana.
"Udah gapapa, Zora itu udah bisa mandiri. Nanti juga Zora pulang, kamu sabar yaa. Lagian, Zora juga kesini lagi kalo mau" Ucap Mah Ana dia mengusap kepala Anita dengan lembut.
Mah Ana tau, dua orang itu sangat lengket. Itulah kenapa Anita yang menangis sesegukan saat ini menimbulkan rasa iba dari Mah Ana dan anak anaknya. Terlebih Satria.
"Lebay sih, Zora juga kesini lagi nanti" Gumam Satria, sebenarnya dia kasihan pada Anita yang menangis sesegukan seperti ini. Dia tahu pasti sakit di tinggalkan oleh orang yang sudah di anggap belahan jiwa,tapi ini berlebihan.
Anita menatap nyalang Satria kemudian berpamitan pulang pada Mah Ana "Mah Ana, Jangan lupa ya kabarin aku kalo Zora pulang. Sat, minta nomor lo dong. Ntar chat gue kalo Zora ada di rumah" Ucap Anita menyodorkan handphone nya.
"Iya ta, jangan terlalu sedih yaa, Zora disana baik baik aja" Ucap Mah Ana.
﹏﹏﹏﹏﹏
Setelah pulang dari rumah Mah Ana, Anita langsung pergi ke sekolah. Ya, tujuan Anita awalnya ke rumah Mah Ana untuk mencari Zora. Karena awalnya,Anita akan mengajak Zora pergi ke sekolah bersama,Namun kata Tante Zora, Zora menginap di rumah Mah Ana.
Nyatanya,Zora tidak pulang malam tadi dan Anita pun pergi sendiri kesekolah orang-orang menatap heran pada Anita yang berjalan sendiri.
"Neng, mana rencanganna?" Tanya tukang cilung, dengan nama Obit. Obit sudah sering dia lihat sejak masa SD hingga sekarang profesi Obit masih sama,Tukang cilung. Biasanya dia akan bercanda tawa dengan Zora menjahili tukang cilung namun pagi ini menjadi pagi yang hampa.
"Temen gue? Gak ada, Temen gue sakit" Jawab Anita dengan singkat biasanya Anita akan berbicara panjang lebar pada orang yang bertanya.
"Owalah neng, murung amat mukanya. Kasian bener deh" Ucapan Obit diabaikan Anita, Anita lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya.
Di kelas pun dia hanya diam, guru yang mengajar dia abaikan, orang yang bertanya dia jawab dengan singkat, orang yang usil hanya dia tanggapi dengan decakan sebal.
"Ta, lo kenapa?" Tanya Gledis, teman sebangkunya itu membuat Anita kesal.
"Diem lo bau! Zora pergi gara gara lo! jangan ngomong mulut lo bau" Setelah mengatakan kata kata pedas itu Anita menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan.
"Maaf. Kemarin Zora sendiri yang bilang-"
"Gue gak mau denger lo ngomong apa, bau" Anita terus mengatakan hal tajam yang membuat Gledis bungkam.
Meskipun Mah Ana mengatakan Zora baik baik saja dan jangan terlalu sedih, nyatanya Anita sangat sedih hingga tak lagi mau berbaur dengan orang lain.
Sikapnya berubah 180 derajat, berjalan kemanapun sendirian membuat orang lain heran. Anita berubah hingga beberapa bulan lamanya, Anita bukan Anita yang dulu. Perasaannya masih sakit tak ada yang bisa mengobati sampai saat ini.
"Taa lo berubah banget, lo kan nyebelin kok jadi pendiem sih. Herman gue" Nafa menyenggol lengan Anita, berharap Anita marah seperti biasanya. Nyatanya tidak, kali ini Anita hanya berdecak sebal.
"Jangan ganggu gue, gue lagi gak ganggu lo" Anita menyibukkan dirinya dengan memainkan handphone nya.
"Zora gak masuk udah beberapa bulan, bentar lagi juga penilaian tengah semester" Ucap Nafa, cewek tomboy itu juga berbicara sambil memainkan handphone nya.
"Gue tau" Ucap Anita singkat, Anita sangat malas jika orang orang menanyakan Zora. Anita juga rindu sahabatnya itu.
"Yaudah sih" Nafa merasa teracuhkan pun dengan perlahan namun pasti pergi dari samping Anita.
﹏﹏﹏﹏﹏
"Ta, lo tau Fikden ga? dia suka sama lo, dia minta nomor lo" Ucap Gledis, Gledis harap Anita menanggapinya atau menyahuti nya, tapi tidak, Anita hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Gue kasih yaa" Ucap Gledis kini mengutak-atik handphone nya, Anita sungguh tidak peduli apapun yang Gledis lakukan.
"Haii Anitaa kiww, jadi pacar guee yok!" Goda Fikden-pria berkulit coklat gelap dengan bibir lebar-dia menyembulkan kepalanya dari jendela kelas Anita dan itu di samping Anita.
"Gila, rabies gue deket deket lo" Anita langsung menukar posisinya dengan Gledis.
"Halahh palingan lo juga bakal terima gue nanti" Setelah mengatakan itu Fikden terus mengganggu Anita membuat Anita kesal sendiri.
﹏﹏﹏﹏
Jam istirahat selalu semua orang tunggu, Terkecuali Anita selain malas berteman dengan orang lain, kekurangan uang saku adalah salah satu alasan Anita malas keluar kelas.
Semua orang dengan antusiasnya keluar kelas, lagi lagi kecuali Anita. Anita lebih memilih memainkan handphone nya membaca novel di Aplikasi Oren.
"Kheemmm" Deheman keras berasal dari kursi belakang, Anita menoleh ke belakang mendapati Adeva yang bersedekap dada memperhatikan Anita sejak tadi.
Anita mematikan handphone nya beralih menatap balik Adeva dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa?" Tanya Anita dengan wajah judesnya pada Adeva, jawaban Adeva hanya menggeleng kemudian menyugar rambutnya sambil tersenyum kecil.
"Lo gak istirahat? borong kantin? atau sekedar keluar kelas?" Tanya Anita, entahlah jika berdekatan dengan Adeva hati kecilnya selalu di kelilingi kupu kupu dan pikirannya selalu di paksa mencari pertanyaan, mulut nya selalu di dorong untuk sekedar bertanya dengan lembut sembari tersenyum.
Jawaban Adeva tetap sama, Menggeleng. Anita tau, pria aneh itu tidak berminat membuka suaranya hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan tidak penting darinya, siapa peduli juga. Anita tidak peduli.
━━━━━━━━━━━━━━━
see you next time..
KAMU SEDANG MEMBACA
NIDE
Novela JuvenilMencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar. Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
