Anita berdecak kesal sepanjang jalan, merutuki dirinya sendiri kenapa juga dia harus mengatakan bahwa Adeva bodoh padahal Anita tau sendiri kalau Adeva itu sering insecure.
Anita menghela nafas gusar begitu sampai di rumah. Anggraeni yang sedang menjahit melihat itu mengernyitkan dahinya.
"Kenapa pulang pulang lesu gitu?" Tanya ibunya, biasanya putrinya itu akan pulang dengan wajah yang baik baik saja atau senyam senyum sendiri.
"Enggak kok ma. Capek doang" Jawabnya menyimpan tas kemudian langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di kamar mandi ia malah melamun.
"Gimana kalau dia jadi gak suka gue karena gue udah bikin dia kesinggung?"
"Gimana kalo dia udah gak respect lagi sama gue?"
"Gimana kalo dia jadi benci sama gue?"
"Liat besok aja deh, gue capek"
───────
"Huaaaa Adeva lo jangan diemin gue dong, gue minta maaf buat kemaren!" Teriak Anita ia berlari ke ambang pintu saat dari jauh melihat Adeva sedang berdiri di depan pintu kelas.
Anita menggenggam tangan Adeva dan menyalimi tangan itu terus menerus membuat Adeva merotasikan bola matanya.
"Ngapa sih?" Kesal Adeva heran dengan kelakuan Anita, ia menarik tangannya dengan sarkas.
"Huhuhuh maafin gue buat kemaren ya dev, gue keceplosan sumpah! lo kemaren langsung tinggalin gue di kelas sendiri gue takut. maafin gue yaa, lo tau hal yang paling gue benci? di diemin anjiir, gue gak sukaa itu pleaseee jangan diemin gue atau tinggalin gue," Cerocos Anita tanpa membiarkan Adeva bicara
"Lo yang ninggalin gue. Gue tinggal ke toilet juga, pas balik lagi udah gak ada," Omel Adeva kemudian berjalan ke bangkunya tetapi Anita masih mengekor padanya
"Asstagaa? iyakah? gue kira lo kesinggung! ihh lo kok gak ngomong. Yaudah pokoknya maafin omongan gue yang kemarin. Ini hoodie lo," Anita mengeluarkan hoodie berwarna hitam milik Adeva dari tas nya.
"Ini bukan punya gue. Punya ko-"
"Baguss yee! pagi pagi udah bucin! hoodie gue juga lo ambil ta?!" Teriak koko bersedekap dada menatap dua insan yang kini sedang mengobrol.
"Hah? punya lo?" Bingung Anita kemudian menatap Adeva meminta penjelasan.
"Iyalah itu punya gue! Lo pikir apa hah? punya si adeva? si adeva yakali punya beginian" Kesal Koko dia merebut hoodie di tangan Anita.
"Eittss bukan gue yang ambil, ini dari Gledis katanya punya Adeva. Lo juga ngapain ngasih punya orang," Kesal Anita sudah melayangkan pukulan nya pada pundak tegak Adeva.
"Heh! Gledis? awas hoodie gue jadi bau" Koko Melotot kemudian mencium hoodie nya "Ohh aman aman" lanjutnya.
Anita meringis pelan, itulah kenapa kemarin dia heran Adeva memiliki Hoodie. Padahal Adeva tidak pernah sekalipun memakainya.
Adeva terkekeh kecil melihat wajah anita yang sangat kesal. "Jangan salahin gue, marahin bestie lo" Ucap Adeva
"Anjor bestie hahahah!" Koko juga ikut tertawa membuat Anita merasa tak nyaman dan duduk di bangkunya.
"Paansih kalian, Gledis tuh jodoh salah satu dari kalian jangan gitu ntar bucin mampus tau," Ucap Anita dengan santai
"Si Deva!" Tunjuk Koko pada Adeva yang kini menganga bingunh.
"No! Big no! He's a silly boy, so he's mine!" Ucap Anita dengan bahasa Inggris dengan aksen yang sedikit berantakan.
"Mine? ohh gue sedikit paham kata itu. Jadi? lo pikir gue jodoh gledis? Hueekk! baru naik pelaminan aja gue udah mati" Sungut Koko dia tak sadar Gledis sudah berdiri sejak tadi si ambang pintu.
"Dis, kemaren lo ngasih gue hoodie punya siapa?" Tanya Anita pada Gledis yang kini sedang menahan tangis.
"Punya Adeva" Jawabnya dengan tampang polosnya.
"Yang lo kasih itu hoodie gue bukan punya adeva!" Kesal Koko, ia masih di posisi yang sama.
"Gue gak tau, Adeva yang kasih gue gak tau apa apa sumpah!" Ucap Gledis dengan perasaan yang sulit di artikan, mata nya berkaca kaca menyanggah tuduhan mereka saat ini.
"Yaudah lah, udah lewat." Lerai Adeva supaya suasana menenang, pasal nya ini masih pagi dan Adeva tidak ingin ada keributan untuk saat ini.
Anita menatap Adeva heran, kemudian ia pun mendudukkan bokongnya di tempat favorit nya. Sudut kursi paling depan di kelas.
┄♢┄
Jam istirahat, kelas begitu sepi. Seperti biasa, orang orang tengah sibuk berkeliaran menuruti kemauan perut mereka yang meronta. Sementara Adeva dan Anita menetap di kelas bak security yang menjaga anjing dalam ruangan.
Adeva merasa bosan, ia menoleh pada Anita yang masih berkutik pada buku novel nya. Melihat itu Adeva menghela nafas panjang karena pasti akan membosankan jika dia hanya diam saja.
Adeva mengambil alih bola yang tergeletak di pojok kelas, ia memainkannya sendiri di kelas sehingga suara benturan benturan nyaring bola itu sangat menggema—mengganggu ketenangan Anita yang tengah fokus.
"Lo diem deh, Dev" Ucap Anita dengan nada yang sangat datar membuat Adeva heran. Gadis se bawel Anita? bicara hanya empat patah kata? itu tidak mungkin.
Adeva tersebut lebar ketika sebuah ide terbesit dalam otaknya, ia melempar bola itu ke arah Anita berharap Anita menangkapnya.
BUM!
Lemparan bola Adeva meleset, ia hanya mengenai tembok di samping Anita dan hampir mengenai wajah Anita. Sang empu menatap nyalang pada Adeva ketika bola itu bergelinding di atas meja nya.
Kotor. Satu kata yang bisa Adeva simpulkan ketika melihat bola itu menggelinding menularkan debu debu atau tanah yang menempel dari bola itu ke buku novel Anita.
Adeva tersenyum lebar tanpa dosa, menampilkan deretan gigi rapih nya. "Siniin bola nya, Ta" Pintanya.
Anita menghela nafas gusar, ia melempar bola nya tepat pada wajah Adeva membuat sang empu meringis kesakitan.
"Cih, lo kenapa sih, Ta?" Tanya Adeva seraya sibuk memainkan bola nya. Menendangnya kesana dan kemari, seperti anak kucing yang bermain bola benang.
"Diem!" Sarkas Anita. Tentu saja Adeva tidak menyukai sarkas an itu, ia menoleh pada Anita lalu menjadikan Anita sebagai target bola nya.
Buk!
Anita meringis kesakitan ketika lengannya mengenai bola yang di tendang Adeva. Gadis itu mulai menangis membuat Adeva panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIDE
Teen FictionMencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar. Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
