Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Mengajarkan apa yang kita bisa pada orang yang tidak bisa, ituu perlakuan spesial bentuk dari malaikat bersayap mini
───────
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hello.." Anita duduk di kursi depan Adeva sambil menghadap adeva, dia memasang senyuman terbaiknya.
"Liat, gue bawa apa? lo mau gak gue ajarin baca? ntar lo ajarin gue pake sepedah," Anita menatap Adeva dengan penuh harap.
Adeva menatap kosong buku Bacalah yang Anita bawa. Apa yang harus dia lakukan? apa dia harus mengikuti kata kata Anita? Adeva beralih menatap Anita,dia menggigit bibir bawahnya bingung harus menanggapi seperti apa.
"Lo tau, gue kasian sama lo kalo di suruh baca buku pelajaran makanya gue inisiatif buat ngajarin lo, tenang aja gue gak butuh bayaran dari lo kok," Ucap Anita masih berharap Adeva mau belajar dengannya "Masa...udah delapan belas tahun gak bisa baca" lanjut Anita dengan suara yang di kecilkab.
Adeva membelelakkan matanya "lo tau?" Tanya nya agak kaget
"Tau lah! lo pikir gue bodoh? kelahiran lo aja cuman beda dua puluh delapan hari sama Zora, berati lo udah tua pas kelas dua belas" Ucap Anita sedikit sewot, pasalnya dia sangat kesal pada Adeva.
Adeva terkekeh kecil melihat ekspresi kesal Anita "emang gue lahir tanggal berapa?"
"Lo beneran gak tau atau ngerjain gue?" Tanya balik Anita,bahkan dia sudah mematahkan pensil pemilik bangku itu karena kesal.
Adeva hanya menggeleng pelan menahan tawa. "Lo ulang tahun tanggal dua puluh empat juli, i know" Ucap Anita sambil mendelik.
"bukan" Ucap adeva masih dengan wajah menyebalkannya.
Anita melotot tajam "Gue udah liat ya di kartu keluarga lo!"
"Gue aja gak tau kelahiran gue, kok lo tau?" Ucapan Adeva yang menahan tawa membuat tawa Anita pecah.
"Yakali ada orang yang gak tau sama ulang tahunnya sendiri hahahaha," Tawa anita pecah sekarang, menurut Anita sangat tidak mungkin jika iya "Terus, lo selama delapan belas tahun gak pernah ngerayain ulang tahun? atau sekedar orang yang ngucapin?" Tanya Anita, dan jawaban Adeva hanya menggeleng
"Yaudah kalo gitu, sekarang lo belajar baca sama gue. Gak ada penolakan lagi" Paksa Anita kini membuka buku BACALAH untuk anak tk di depan adeva.
"lo udah tau huruf kan?" Tanya Anita di balas anggukan oleh Adeva.
Anita mengarahkan telunjuknya di huruf A. Adeva malah menatap lekat Anita, dan tentu saja pipi Anita memerah karena itu.
"A.." Ucap Adeva menatap huruf selanjutnya yang di tunjuk Anita.
Dua puluh enam huruf sudah Anita tunjuk satu persatu, dan benar Adeva sudag mengenal huruf huruf alfabet.
"Oke, lo udah bisa huruf. Sekarang ayo ke halaman mengeja"Ucap Anita sambil membuka lembaran selanjutnya, tapi Adeva mengedikkan bahunya kasar pertanda ia tak mau melanjutkannya lagi.
" Kenapa?" Tanya Anita
"Udah, gue bisa sendiri" Ucap Adeva dia merebut buku itu dari tangan Anita.
Anita membelelakkan matanya "Heh! apaan gue yang ajarin, liat aja kalo sekarang gak bisa masih ada hari esok dan hari selanjutnya" Setelah mengucapkan itu, Anita merebut kembali bukunya dan menunjukkan halaman selanjutnya.
Anita menatap adeva menyuruhnya membaca halaman yang dia buka menggunakan bahasa isyarat mata.
Adeva berdecak dan memalingkan mukanya.Anita menghela nafas panjang kemudian menarik wajah Adeva agar menatap buku yang ada di hadapannya.
"Baca, Adeva.." Titahnya lembut, entah mengapa pipi Anita yang malah memerah padahal anita sendiri yang mengatakannya.
Tanpa disadari juga, Adeva susah menelan saliva nya sehingga jakunnya tidak diam dan malah naik turun tak jelas. Jangan lupakan telinga Adeva yang memerah juga.
Adeva malah terus menatap mata Anita bukan bukunya.
"Liat ini, ini huruf B. dan di depannya ada huruf A. jadi lo bacanya Ba, ngerti kan?" Tanya Anita menunjuki halaman berhuruf menggunakan bolpoinnya.
Adeva mengangguk kaku "Ba..,b-bii..,b-b-b.."
"Bu.." Anita membantu dengan mengeluarkan suara kecil karena geram dengan Adeva.
"Bu, b-b-be..b-be.. "
"Ini O, jadi..?"
"Bo"
"Pinter, sekarang yang ini. Ini C, di depannya ada A, jadi CA. paham?"
"Ca..C-ci..C-c-cu..Ce, C-c-co"
"Oke, lanjut ke bawah yaa. Ini D, kayak yang tadi berati ada A I U E O nya"
"Di..eh Da.. Di..D-du..D-de..De, D-do"
"Lan-"
"Udah ah, males gue gue udah tau kok" Elak Adeva, jujur telinganya memerah dan sangat panas. Ia tak mau melanjutkannya.
"Ehh apaan, ini masih ada tujuh belas huruf lagi yang harus lo eja. kalo nggak yaudah lewat tujuh belas hurufnya kita belajar ngeja langsung" Cerocos Anita kemudian membuka halaman baru lagi.
"Udah. Gue. Nggak. Mau" Tekan Adeva di setiap katanya kemudian beranjak dari mejanya hendak pergi.
Anita memutar bola matanya kemudian menjulurkan kakinya, benar saja Adeva hampir terjatuh kalau tidak memegang meja di sampingnya.
"Gila lo" Desis Adeva tapi Anita mengacuhkannya.
"Lo tau dimana Zora?" Tanya Anita tiba tiba membuat suasana sangat hening. Entah ingatan apa yang membuat Anita sangat ingin mengetahui tentang Zora.
"Gak tau, bisa aja dia udah mati" Ucap Adeva tanpa berfikir kemudian keluar dari kelas.
Tidak, belum sepenuhnya keluar kelas. Adeva menghentikan langkahnya di ambang pintu—menunggu kalimat Anita selanjutnya, tanpa memutar badan menoleh padanya. "Lo, jangan nyari Zora. Dia udah pergi, anggap dia masa lalu. Lo gak pantes sama Zora terus. Hasry udah ambil dia"
"Gue sahabatnya, jelas gue nyari dia terus!" Anita melakukan gebrakan kecil seraya bangkit dari bangkunya.
"Jangan, Harsy aja udah berani sama keluarganya apalagi sama lo. Jangan, Ta" setelah itu Adeva benar benar keluar dari kelasnya.
"Apa sih yang di lakuin Harsy sampe keluarga Zora gak mau nyari Zora lagi? Iya, gue emang udah berhenti nyari Zora. Tapi gue gak bisa berhenti hilangin kenangan yang ada di kota ini, di sekolah ini, Gue kepikiran Zora.."Monolognya.
━━━━━━━━━
Seseorang memperingati seseorang karena mereka peduli,bukan berarti dia juga ingin di perhatikan.