tiga puluh tiga

7 0 0
                                        

"Heeeiii pengumuman! pengumuman! jadwal piket di ganti, dan ini hasil acak random kita! jadi no komen! kalo ada yang mau pindah jadwal harus bayar lima juta!" Teriak Milladia membeberkan kertas karton yang di hias.

Anita melirik keributan di hadapannya, ia mencari namanya di atas karton itu.

*RABU*
KIKI
•ANITA
GLEDIS
UDIN
ADEVA

"Lo bilang di acak random, yakali gue bisa se hoki itu bisa piket bareng dia yang males dan gak pernah piket dengan tertib itu?" Protes Anita—Adeva yang mungkin sedikit mendengarnya tersinggung dan ikut mendelik.

"Lo pikir gue mau piket sama lo," Dalam hati Adeva juga ingin berteriak dan mengatakan itu pada Anita karena kesal mendengar ucapan Anita.

"Heii, kalian kan temen sebangku yang gak mungkin di pisah" Ucap Milladia mengedikkan bahunya

"Yakali takdir se mendukung itu?" Tanya Anita dengan nada jengkel.

"Beneran gue acak random, ta. udah deh jangan protes ah!" Ucap Milladia kemudian menempel karton itu di tembok dan melepas jadwal piket yang lama.

'Gledis? jadi tadi ngomongin gledis? tcihh' Adeva hanya berdecak sebal, dari kemarin Anita seperti marah padanya gara gara sesuatu.

Jangankan berbicara bertatap mata pun Anita sering membuang muka, seperti tadi Anita ke meja Koko untuk mengambil pulpen dia tidak melirik ke arah Adeva sedikit pun.

"Heh, lo berdua lagi marahan apa gimana?" Kiki menyenggol lengan Adeva

Adeva berdecak sebal "Kepo lu,"

"Masalahnya, si Sugiono ntuh ada di rumah lo dev. Gue khawatir lo suka lagi sama kakak sepupu lo sendiri, kasian kan si Nita" Omel Kiki, mulutnya tidak berhenti sama seperti tangannya yang fokus memainkan game.

Adeva tidak lupa niatnya untuk menghapus perasaan untuk Susi, dia hanya saja sedikit kesal ketika di ganggu oleh Susi.

Perasaannya tidak sama lagi seperti waktu itu, seperti saat ia mencintai saudaranya sendiri.

"Woe! ngelamun lo bangbang! guru noh udah di depan" Kiki mengusap wajah Adeva menggunakan buku membuat Adeva tersentak kaget.

"Assalamu'alaikum Anak anak, selamat pagi. Dikarenakan hari ini bapak sedang ada rapat penting, kelas X-A di izinkan untuk belajar mandiri, Ingat tidak boleh berisik atau membolos! dan tidak boleh ada yang keluar kecuali izin pada guru yang ada" Ucap pak Djarma begitu datang ke kelas.

"Siap pak!" Ucap serentak para murid krlas X-A. mendengar persetujuan penghuni kelas, Pak Djarma pun keluar meninggalkan kelas yang kini menjadi ribut.

﹏﹏﹏﹏﹏

"Jam pelajaran ke tiga kan, pelajaran penjas. Anter ganti baju yuk" Ajak Juliani pada Anita.

Anita langsung mengikutinya di belakang, ia tahu pasti Juliani akan bertanya lagi soal hubungannya dengan Adeva itulah kenapa ia enggan untuk membuka topik terlebih dahulu.

"Ta, soal lo sama Adeva-"

"Gak ada apa apa, gue cuma ngerasa gak enak aja. Kita kan cuma temen, orang ngira nya kita jadian, jadi sebisa mungkin gue jaga jarak sama Adeva," Sela Anita, dia sudah mempersiapkan jawaban ini sejak awal itulah kenapa ia tergesa gesa menjawab

"Astagaa, gue baru juga mau nanya udah di jawab duluan aja. Pasti banyak ya yang nanyain lo sampe lo nebak pertanyaan gue kayak gitu," Tebak Juliani, Anita hanya mengedikkan bahunya Acuh.

"Gue rasa, lo lagi tarik ulur nih sama hubungan lo. Lo tau? kamaren kemaren romantis banget, tapi sekarang malah jauhan kayak kucing sama Air," Oceh Juliani, Anita tidak peduli dan lebih baik melanjutkan aktivitas nya mengganti seragam.

Tak lama, Juliani dan Anita kini berdiri di lapangan besar yang hanya di isi oleh sekitar 30 sampai 35 orang kelas X-A.

"Yok pemanasan, Dipimpin oleh Farel!" Titah Guru penjas—Pak Fahri.

Setelah barisan rapih dengan jarak yang dihitung dari setiap rentangan tangan siswa, Pemanasan pun dimulai. Tanpa Anita sadari, Adeva sejajar dengan barisannya hampir saling bersampingan.

Adeva terus memperhatikan Anita lekat lekat sehingga tidak fokus pada pemanasan. Matanya terkunci pada Anita yang tak melirik padanya sedikitpun.

"Selesai!" Kata Farel dengan suara lantang yang membuat para siswa bernafas lega.

Anita sadar tengkuknya terasa merinding dan merasa diawasi, ia menoleh ke arah sumbernya. Adeva masih menatap Anita dengan tatapan aneh membuat Anita membuang muka.

"Ngapain dia liatin gue? nyebelin, udah punya pacar masih aja genit sama cewek lain. malu maluin," Batin Anita, ia mendelik tajam pada Adeva.

Aktivitas lari memutari lapangan dimulai, semuanya tengah berlari mengitari lapangan. Ada yang hanya berjalan, ada yang lari dengan cepat, adapun yang hanya berjalan gontai.

Anita berlari tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, di belakangnya diiringi oleh Adeva yang tepat di belakangnya.

"Ta," Panggil Adeva mulai mensejajarkan diri dengan Anita. Anita hanya menyahut dengan angkatan dagu, lama menunggu Adeva tak mengutarakan maksudnya membuat Anita merotasikan bola matanya lalu berlari menjauhi Adeva.

Adeva melambatkan larinya membuarkan Anita menghindarinya, "Dia kenapa?" Bingung Adeva.

Tanpa sadar, olahraga pun telah selesai hingga jam pelajaran terakhir. Semuanya boleh langsung pulang, terkecuali yang memiliki jadwal piket hari ini.

Anita berlari kecil ke arah kelas meraih tas nya. "Ta, lo awasi dulu yang piket ya!" Titah Farel sebelum Anita meninggalkan kelas.

Anita mengangguk sebagai jawaban. Ia menggendong tas nya, tangannya sibuk membuka tutup botol yang sulit sekali dibuka.

Tiba tiba tangan seorang pria meraih botol minum itu dan membukanya dengan lihai tanpa mengeluarkan otot sedikitpun.

Anita menatap pria itu tanpa ekspresi, ia mengambil alih botol itu kemudian meneguknya tanpa jeda karena kelelahan.

"Ta, lo-"

"Juliani kalian piket ya hari ini? Gue percaya sama lo, gue pulang duluan ya," Ucap Anita menghiraukan Adeva yang hendak membuka mulut untuk berbicara.

"Okey!" Jawab Juliani seraya berjalan mengambil sapu.

Anita menatap sejenak Adeva yang menghalangi jalannya untuk keluar dari kelas. Adeva mengerti, ia pun menggeser tubuhnya memberikan akses pada Anita untuk keluar dari kelas.

Adeva menatap kepergian Anita yang tanpa sepatah katapun bicara padanya membuat ia khawatir dan gelisah. Dengan cepat Adeva meraih tas nya kemudian mengejar langkah Anita mencari jawaban dari kebingungannya.

Adeva mengedarkan pandangannya di sekitar jalan itu, namun nihil. Tidak ada sosok Anita yang berjalan dengan gaya khas nya itu. Benar-benar tidak ada, sepertinya Anita benar benar menghindari Adeva. Sang empu hanya menarik nafas gusar dan berdecak sebal menghadapi kebingungan ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang