Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mulut manusia tidak akan pernah berhenti mengatai manusia lain, sekalipun manusia suci ━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
"Khemm, gue liat liat sekarang Si Nita lagi deketin si Adeva tuh" Widia memulai bahan pembicaraan dengan suara menggema di kelas, mencari perhatian seluruh kelas agar menyimaknya.
"Ehh iya setiap istirahat berdua mulu," Timpal Zalia membenarkan, pasalnya dulu Adeva dan Anita tidak ada dekat dekatnya. Apalagi dulu rumornya Adeva menaruh rasa pada Yudya.
"Ihh diem deh berisik! Ngapain ngomongin mereka depan gue? manasin gue? sorry gue udah pacaran sama Feri" Ucap Yudya merasakan telinganya panas karena Zalia, Widia dan yang lain membicarakan anita sambil menatap Yudya.
Anita menoleh ke sumber keributan, yaitu bangku sebelahnya. Anita memiringkan kepalanya "Apa? gue? emang gue gak boleh ya deketin Adeva? lagian kita cuman temen" Setelah mengucapkan itu, mata Anita tak sengaja melihat adeva yang sedang menatapnya begitu lekat.
"Temen itu bisa Demen" Ucap Mildia menyenggol lengan Yudya membuat Yudya risih dan mengendus kesal.
Anita tersenyum lebar "Omg! Berati lo temenan sama Faran bisa jadi kalian demen ya" Ucap Anita menutup mulutnya dengan ekspresi yang di buat buat.
"Sialan lo!" Mildia hendak melempar kotak pensilnya tapi tidak jadi karena Widia dan Zalia tertawa keras.
"Bener mil, bener kata Nita. kalo temen bisa jadi demen jangan jangan lo sama Faran.."Zalia menggantung ucapannya karena Widia menyenggol lengan Zalia.
Yudya pun ikut tertawa dengan keras kemudian menjitak kepala Mila " Mampus! Senjata makan nyonya!"
"Tapi serius deh, Ta. lo cocok sama Adeva, kayak lucu banget gak sih orang pinter kayak lo sama orang bego kayak dia hahaha" Widia menertawakan ucapannya sendiri. Dimata orang lain juga begitu, itulah kenapa Widia mengucapkan itu secara terang terangan.
Tak mau munafik, Anita juga merasakan adanya Chemistry antara mereka berdua, sama seperti yang sdmua orang lain katakan. Namun, Anita menggeleng keras akan pendapat itu.
Pipi Anita merah padam menahan malu "Paan sih, lo aja sono sama Mas Yudis" Anita mendelik tajam pada Widia, ucapannya menunjuk pria tinggi berkulit gelap dengan kumis tipis di bawah hidung, belum lagi seragamnya yang selalu tertata acak acakan.
"Anita lope Adeva! Anita lope Adeva! kapal Anita dan Adeva berlayar!" Teriak Zeina dia mengangkat sapu dengan tinggi tinggi, sambil terus bersorak layaknya melakukan demo.
Anita dengan pipi merah padamnya terus marah marah, mengomel pada Zeina membuat Adeva di pojok sana tersenyum kecil.
"Lucu" Gumam Adeva yang sedari tadi mengamati tingkah Anita, tanpa ia sadari Koko menatapnya dengan kerutan marah di wajahnya.
"Apa? lucu? lo ngetawain gue ya!" Ucap Koko dengan sewot, bukan tanpa alasan Koko mengatakan itu tapi kini dia sedang menyisir rambutnya sambil berkaca. Jadi, dia pikir Adeva menertawakan penampilannya saat ini.