tiga puluh satu

5 0 0
                                        

"Tadi gue sama Adeva ketemu tau di jalan, yaa dia sama temen temennya. Katanya sih abis main" Ungkap Anita sambil terfokus pada handphone nya.

"Ohh, terus gimana? nyapa gak?" Tanya Liviya, ia juga terfokus pada handphone nya.

Keduanya sibuk memainkan handphone tetapi mereka juga mengobrol sangat seru sedari tadi.

"iya lah. Ehh lo tau gak sih, jadwal piket kelas gue di ganti sama sekertaris. Dia bilang giliran," Ucap Anita, ia terus bercerita pada Liviya yang bahkan menanggapinya dengan malas.

"Lo piket jadi hari apa?" Tanya Liviya tanpa menoleh pada Anita

"Gue awalnya hari selasa, jadi hari rabu sih. Sialnya, sama si Adeva. Ihh gue pernah cerita kan sama lo, si adeva itu kalo piket pasti pulang duluan. Nyebelin" Omel Anita

"Ohh hmm" Sahut Liviya ia seakan sibuk dengan gadgetnya.

Hening kemudian, keduanya malas mencari topik untuk mengobrol. Lagipula keduanya sibuk dengan mainannya sendiri.

"Ta," Panggil Liviya tiba tiba diantara keheningan

"Apa?" Sahut Anita dengan nada malas

"Lo suka sama Adeva?" Tanya Liviya, jawabannya saja Liviya tau tapi kenapa malah bertanya.

"Kenapa?" Tanya balik Anita, perasaannya jadi tidak enak.

"Lo tau dia punya pacar nggak?" Tanya Liviya membuat Anita tertawa terbahak bahak membayangkan seorang Adeva memiliki kekasih.

"Paansih, masa cowok kayak dia punya pacar. Lagian ya, Adeva juga gak pernah bilang punya pacar atau nggak," Ucap Anita disela sela tawanya.

Liviya merotasikan bola matanya, ia menampilkan layar handphonenya pada Anita.

"Dia, Susi temen kuliah gue. Gue nanya Adeva punya pacar karena cowok di sebelah Susi itu Adeva," Jelas Liviya dengan malas kemudian menarik lagi handphone nya.

"Eh liat liat gue mau liat dulu ihh" Anita merebut handphone Liviya dan meneliti dengan matanya. "Bukan kali, masa ini adeva sihh" Lanjut Anita terkekeh kaku.

"Yaudah kalo gak percaya." Liviya merebut handphone nya dari tangan Anita.

"Ehh, btw vya kirim sama gue dong" Pinta Anita. Dan notifikasi pun menunjukkan hasil screenshot Tweet yang berisikan foto Adeva dengan perempuan bernama susi itu.

"Kenapa? cemburu ya lo? mana ada love nya lagi" Ledek Liviya menoel noel pipi Anita

"Ihh diem ah, gue gak cemburu. Buat apa gue cemburu? kita cuman temenan kok. Lagian kan, bagus dong kalo dia udah punya pacar biar dia gak deketin gue terus, ntar gue bilangin sama pacarnya kalo dia deketin gue," Oceh Anita tidak jelas, rasanya sesak.

"Keliatan banget nyenggol jefri nicol nya" Tawa Liviya sangat keras memenuhi kamarnya.

"Udah ah, udah sore. Gue mau pulang," Cemberut Anita, ia sudah beranjak dari duduknya.

"Yee nangess. Kan kita mau ke pasar sore tholol. Pake pulang sekarang segala" Ledek Liviya ia melempar bantal ke arah Anita. Liviya tau tabiat anak itu, dia pasti akan menggebrak pintu jika ia benar-benar menangis.

BRAK!!

"Ah udah ah gue pulang dulu bye!" Anita menutup pintu dengan keras. Benar kan dugaan Liviya.

"Huu cengeng!Cielah cemburuu! Nangess lo!" Teriak Liviya dari jendela begitu Anita sudah keluar dari rumahnya.

"Berisik!" Teriak Anita berlari pulang.

"Dasar bocil. Cemburu aja nanges, lo pikir gue gak tau lo cemburu hah!" Gerutu Liviya sambil terkekeh geli melihat tingkah saudaranya itu.

╍╍╍╍

" Tumben lo mau cepet cepet pulang dev?"Tanya Lias, pasalnya gebetannya menyapa di jalan saja Adeva masih terburu buru ingin pulang.

"Ck. Gue lupa sodara gue datang hari ini," Jawab Adeva, ia langsung masuk ke dalam rumahnya.

"Tuh Sanindyar, dari mana aja lo?" Tanya Kalen tangannya memegang segelas air, tangan lainnya merangkul Adeva duduk di sofa.

"Nah, Sanindyar, Kalen, Susi, bawa anak anak keluar dulu. Kita orang tua mau ngomong" Usir Tina, begitu Adeva dan kalen baru duduk.

Adeva dan kalen bertukar pandang kemudian beranjak dari duduknya.

"Dev! Tolongin gue bawa Kim!" Teriak Susi dari halaman belakang, Adeva berjalan dengan santai begitu terkejutnya Adeva ketika melihat Susi kewalahan mengasuh enam anak sekaligus.

Mereka adalah bersaudara, semuanya. Tetapi kebanyakan anak kecil membuat Susi kewalahan karena mengasuhnya hanya sendiri.

Adeva menggendong Kim, kemudian menuntun Mimi sedikit menjauh dari Susi yang kewalahan dengan anak lain.

"Dari mana sih, dari tadi gue kewalahan tau. Eh btw, lo makin ganteng juga ya. Padahal cuman beberapa bulan kita gak ketemu," Ucap Susi memuji tampang Adeva yang lebih fresh daripada biasanya.

"Lo juga, makin tua," Celetuk Adeva membuat Susi naik darah. Susi melempar Mpeng ke arah wajah Adeva.

"Susuin Kim, dia lapar!" Teriak Susi.

Tiga jam berlalu, Kalen, Adeva dan Susi berhasil menidurkan anak anak itu hingga tertidur lelap.

"Kasian sih, orang tuanya ngurusin warisan sedangkan anaknya pada diasuhin sama kita," Ucap Susi kini fokus memainkan handphone nya.

"Lo punya pacar?" Tanya Adeva, ia sedikit memperhatikan Susi yang sejak tadi senyam senyum sendiri.

"Iyalah, gak kayak lo jomblo karatan" Celetuk Susi sangat menusuk.

"Yaelah,siw. Dia kan begitu nunggu lo terima cintanyaa," Kalen Nimbrung, padahal tidak di ajak.

"Paansih, gue..gue, udah punya kok" Ucap Adeva dengan ragu. Pantaskah dia menganggap Anita miliknya? atau sekedar memamerkannya?

"Masa sih seorang Sanindyar Mardenian Adeva punya pacar?" Sial, susi meragukannya.

"Udah lahh, lagian kalian sodara antar ayah dan ibu. Bisa kali pacaran doang" Ucap Kalen, entah kenapa dia sangat semangat jika Susi dan Adeva bersama.

"Sorry ya, sorry nih mas kalen. Gue sih ogah" Ucap Susi mendelik menatap Adeva dsri atas hingga bawah.

"Gue juga kali" Ucap Adeva dengan malas seraya membuang muka.

"Sial, cowok gue sama cewek lain. Sini dev, kita selfie terus bilang kalo gue juga punya yang lebih baik dari dia" Susi menarik leher Adeva begitu saja dan mengambil foto.

Telinga Adeva kini memerah dengan perlakuan itu. "Senyum! Kalo gak senyum gue jewer telinga lo!" Bentak Susi dan Adeva hanya bisa menurut dan senyum terpaksa.

"Oke beres, tinggal gue post di Tweet. panas lah wahai cowok gue!" Ucap Susi, ia bahkan terlihat konyol di mata Kalen atau Adeva. Entah apa yang akan Susi perbuat, Adeva tidak peduli.

Susi memang cantik, tetapi tidak dengan gaya berpakaian dan gaya bicaranya. Orang orang menilai Susi dengan cap "Gadis cantik yang mencolok mata gagak". Ungkapan itu memiliki artinya tersendiri.

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang