tiga puluh

6 0 0
                                        

Mata Anita yang tadinya melotot malah berkaca kaca, Anita memalingkan wajahnya dan menangis tanpa suara.

Adeva bingung dengan apa yang terjadi, tadinya dia berniat menjahili Anita saja, lagi pula tendangannya tidak terlalu kuat, apa sakit? kenapa menangis?

Sudah lah, mumpung masih sepi Adeva menghampiri meja Anita dan dengan ragu ragu menyentuh puncak kepala Anita.

"K-kenapa?" Tanya Adeva, ia kaget sekaligus terkejut ketika melihat wajah Anitayang sudah sangat memerah entah karena memang tendangan nya pada bola sangat keras sehingga membuatnsakit atau Anita menangis karena hal lain.

"Perut gue sakit.." Anita semakin menangis dan menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Mendengar itu, adeva semakin bingung. Pasalnya, bola yang ia tendang mengenai lengan kanannya jelas ia melihat nya. kenapa jadi di perut?

"sial, sial,sial gue malah nangis sial sial sial!!" Maki Anita di dalam hatinya, tapi ia senyum senyum sambil menangis Anita juga bingung dengan dirinya sendiri.

Anita ingin sekali terbang saat merasakan usapan di puncak kepalanya. Itu'kan tangan Adeva?

"Perasaan gue lempar bola ke tangan deh bukan ke perut" Gumam Adeva masih tak mengerti dengan suasana hati Anita tapi ia rasa wajah itu sangat menggemaskan di mata Adeva.

Terkadang marah marah, terkadang malu malu dan sekarang menangis. Perempuan memang merepotkan, Pikir Adeva.

Sial, Anita mendengar ucapan Adeva tadi menambah tingkat malunya. Anita menyingkirkan tangan Adeva terlebih dahulu kemudian menyeka air matanya dengan kasar.

"Gue lagi datang bulan. Lo jangan iseng dong, mood gue lagi kacau. Kalo gue marah gue cincang lo!" Ucap Anita yang kini cemberut, ia mengubah posisi duduknya jadi bersandar ke tembok lagi.

Adeva berdiri di belakang bangku Anita atau bangku Juliani dan ikut bersandar ke tembok."Yang ada pas pegang pisaunya keburu gemeteran lo" Batin Adeva.

Membayangkannya saja membuat Adeva terkekeh kecil. Anita menoleh kebelakang.

"Kenapa lo senyam senyum? udah ah gue males ngomong. Mending gue baca novel!" Anita jujur saja dalam hatinya dia sangat malu urang aring tak jelas dan juga karena menangis di depan Adeva. Apakah wajahnya sejelek itu sampai Adeva menertawakannya?

Karena bosan berdiam diri seperti patung, Adeva mengambil bola tadi dan memainkannya sendiri di kelas.

"Berisik!" Tegur Anita lagi, ia memelototi Adeva dengan mata tajamnya.

Tapi karena Adeva sudah melihat wajah lucu Anita ketika menangis tadi, Adeva sudah tidak takut dengan mata itu dan memilih melanjutkan aktivitas nya meskipun mengganggu Anita.

Anita hanya menghela nafas gusar dan memilih untuk tidur, dalam hitungan menit pun Anita sudah terlelap ke alam mimpi.

Adeva tersenyum melihat Anita yang baru saja protes kini sudah terlelap dan wajahnya tampak kelelahan.

Adeva menghampiri meja Anita, ia menyingkirkan rambut yang membelit menutupi wajah Anita.

"Keciduk!" Teriak Koko menggebrak pintu mengagetkan Adeva terutama Anita yang langsung terbangun dengan wajah sangat terkejut.

"Anjing! Lo-! SIALAN LO KOKO!!!" Teriak Anita sangat keras memenuhi kelas yang kini sepi. Koko dan Adeva menutup telinga masing masing karena suara Anita mampu merusak gendang telinga.

"Sialan lo, gue juga kaget!" Adeva melempar bolanya dan tepat mengenai wajah Koko.

"Y-Ya sorry! Gue gak tau kalian lagi nge bucin" Ucap Koko dengan tampangnya yang tidak merasa bersalah sedikitpun.

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang