empat

33 10 0
                                        

HAPPY READING!

"Liat, sekarang lo nembak saira, so..gue minta putus sama lo. Kita gak ada hubungan apapun lagi, soal rahasia gue yang lo punya, gue minta lo hangusin di otak lo. Gue juga bisa ngancem lo, kalo lo itu pedofil, pemabok berat, sama pecandu..narkotika" bisik Anita di kata terakhirnya. Anita kini sudah memberanikan diri mengatakan itu, Anita bersedekap dada sambil tersenyum lebar.

"Yaudah putus, lo juga gak guna. Gue pikir badan bagus lo gampang gue sentuh, sok jual mahal ternyata" Ucap Fikden menatap rendah Anita

"Mending jual mahal, daripada pacar lo jual limaa puluhh" Ucap Auf kini mengangkat suara, sejak tadi dia tertawa bersama Adeva di sudut karena melihat ekspresi Fikden. Sudah di tolak Saira, memaksa Saira, kini di putuskan Anita juga, Wajahnya sangat frustasi.

"Right auf! mulai sekarang, Auf sama Adeva gue ambil mereka bukan babu lo lagi. Mereka, temen gue" Tekan Anita menarik tangan Adeva dan menggandengnya.

Adeva melotot terkejut dengan perlakuan Anita seperti itu, dengan perlahan dan tidak Anita sadari Adeva melepas tangan Anita dari lengannya.

﹏﹏﹏﹏𖦹

Hari ini Anita memulai pagi dengan wajah berseri seri, tentang Zora perlahan Anita terima, mungkin kebahagiaan Zora ada pada Harsy. Mengenai Fikden dan ejekan orang, Anita sudah lepas dari itu karena ancaman Auf pada semua orang.

Auf mengatakan pada ornag orang yang mengejek Anita bahwa, Fikden kini pacar Saira, jika ada yang mengatakan Anita pacar Fikden lagi, maka Fikden akan menghajarnya habis habisan. Tidak sungguhan, itu hanya bualan Auf saja. Menggelikan rasanya jika ia ingat ia pernah menjalin hubungan dengan Fikden, mengingat nya saja membuat mual. Belum lagi bualan Auf yang sama menggelikannya itu terkadang membuat Anita menggeleng geli.

Saking bahagia nya hari ini, Mood Anita sangat bagus hari ini sehingga makhluk hidup yang dia temui semua ia sapa, hingga kucing random di jalan.

Begitu ia menginjakkan kaki ke kelas Anita di sambut dengan ruangan kotor, kursi dan meja yang berantakan serta meja guru yang tidak rapih.

Anita manggut manggut menyimpan tas nya kemudian menyapu seraya bersenandung "OMG, terakhir gue ngerasa vibes gini tuh pas gue naik ke kelas delapan dan dapet nilai tinggi ke tiga!" Pekik Anita sendiri, tak takut orang mendengar karena jam menunjukan masih pagi.

"Mikum" Salam Adeva dengan tidak benar kemudian masuk ke kelas menginjak keramik yang sudah di sapu bersih oleh Anita tanpa rasa bersalah atau permisi.

Anita tidak marah, dia malah tersenyum lebar. Anita berjalan mendekati Adeva kemudian membawakan tas Adeva, Ralat lebih tepatnya merebut dari pundak Adeva.

"Met pagi, Tugas Ips lo udah? Kalo belom gue udah kok, lo mau liat?" Tanya Anita dia berubah 180° bagi Adeva, yang semula marah marah kini senyam senyum.

Jawaban Adeva hanya mengangguk kecil.
Tak lama, di depan matanya pun ada buku serta bolpoin.

"Kalo lo butuh pulpen gue bawa pulpen lebih dari satu kok" Ucap Anita kembali menyapu setelah menyimpan buku dan bolpoin di meja Adeva.

Adeva mengucapkan terimakasih dengan suara sangat kecil hingga Anita tidak mendengarnya.

"Nge lagu pagi pagi gini enak kalee!" Monolog Anita kemudian memutar lagu di handphonenya sambil menyapu.

NIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang