Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ngomong paan sih lo tadi? kok gak kedengeran? lo kalo ngomong bisa gak sih ber volume dikit ngapa"Keluh Anita dengan kesal.
"Ko!"
Perhatian Anita teralih pada suara pria yang memanggil Koko dengan sapaan yang akrab namun terdengar seperti sudah lama tak bertemu.
"Eh Ca! Pa kabar lo?" Tanya Koko, mereka ber tos ria layaknya kedua pria yang berteman.
"Baek! Eh! Nita! lo nita kan! Wanjerr lo pacaran sama si Dedev" Ranca, Pria itu menyapa Anita ia ikut berjalan di samping Anita.
"Eee ohh? lo Ranca? kok beda sih? dulu lo kan gak gini? sekarang rambut lo kebakaran ya matanya jadi merah?" Tanya Anita dengan menyebalkannya.
Ya, Ranca dan Anita saling mengenal itulah kenapa suara Ranca sangat familiar saat menyapa Koko.
"Sialan lo. Rambut gue di warnain bukan kebakaran" Kesal Ranca seraya terkekeh
"Oh iya, gue gak pacaran sama Adeva. Semborono lo ngatain gue, kita cuman temenn tau" Ucap Anita dia menggandeng lengan Adeva.
"Nih liat, kalo gue pacaran sama si Adeva mana mungkin gue berani gandengan kek gini" Anita menunjukan lengannya dan Adeva yang bergandengan.
"Iya iya gue percaya, lagian gue tau kok kalo lo suka sama orang pasti burtal abis" Kekeh Ranca, pasalnya dia tau ketika Anita menyukai kakaknya yang benama Nabiel. "Yaudah Ta, Ko. Gue mau ke depan dulu. Duluan Yeh!" Pamit Ranca. Kehadiran Ranca yang sesaat itu menghancurkan mood Adeva.
Adeva langsung melepaskan gandengan tangannya dengan Anita, dan mengambil jalan lain untuk pulang.
"Lahh dev? lo mau kemana?" Tanya Tafian melihat Adeva belok ke jalan lain
"Pulang" Jawabnya, dia sudah berada sedikit jauh dengan Tafian, Koko dan Anita.
"Kok jalan sana sih? Gak bareng aja gitu sama kita?" Tanya Anita dia agak tersinggung dengan Adeva yang langsung melepaskan gandengan tangannya dan pulang ke jalan lain.
"Pengen cepet aja," Jawab Adeva kemudian sudah hilang dari pandangan mereka bertiga.
"Gila tuh bocah, biasanya aja gak mau balik cepet cepet" Koko menggeleng melihat kelakuan Adeva
"Yaudah deh gue juga belok, Dah ko!" Anita juga sidah pulang namun dengan pikiran yang tak tenang.
"Kenapa si Adeva langsung pulang lewat jalan pintas?" Bingung Anita.
"Ah udahlah, mungkin dia kebelet cepirit" Gumam Anita, ia berusaha positif thinking.
﹏﹏﹏⌑
"Gue ketemu lagi tau sama si Ranca, tadi pulang sekolah. Rambut nya jelek, padahal dulu gue harap gue bisa jadi kakak iparnya" Ungkap Anita, kini ia sedang mengobrol dengan sodara perempuan nya - Liviya.
"Iyakah? kenapa sama rambutnya?" Tanya Liviya dengan Antusiasnya.
"Rambutnya jelek, jadi warna merah kayak kebakaran aja" Ledek Anita dengan kekehan di akhir kalimat nya.
"Lo jangan gitu anjir. Dia pantes kayak gitu, dia kan jametss" Timpal Liviya, dua gadis itu tertawa.
"Tadi Adeva kayaknya marah atau kenapa ya, dia aneh soalnya. Sebelumnya dia bantuin gue ngiket tali sepatu, tapi pas ada Ranca nyapa dia langsung pulang. Gak tau perasaan gue aja atau emang bener nih ya, wajah Adeva kayak kesel" Ucap Anita sambil memakan es krim nya.
"Lah? dia ngiketin tali sepatu lo?" Tanya Liviya agak terkejut
Anita mengangguk "Lagian gue gak nyuruh, dia sendiri yang mau dengan sukarela. padahal gue udah larang, malu'kan. ntar gue di kira memperbudak"
"Bukan itu njir, kata temen gue kalo cowok udah gitu berati love language nya itu udah muncul, emhh gue mencium bau bau feeling love," Goda Liviya dia berjalan mengitari Anita seraya mengendus
"Ehh! No! gue sama adeva kan cuman temen, yakali dia suka sama gue yang iyuwwhh jelek kek gini" Hina Anita menatap wajahnya di cermin.
"Lo cantik nita! jangan gitu. Lo cantik makanya adeva suka sama lo" Ucap Liviya dia kembali duduk di samping Anita.
"Nggak tuh"Tolak Anita dengan sarkas.
" Yaudah terserah lo deh! eh ini udah sore ternyata, jalan jalan sore yuk"Ajak Liviya dan Anita hanya membalasnya dengan anggukan.
﹏﹏⌑
"Eh ta, itu kayak Adeva bukan sih?" Tanya Liviya dia menyenggol lengan Anita yang sedang bergandengan dengannya.
"Iya, emangnya apa?" Tanya Anita dengan bingung, kalau bertemu dengan Adeva di jalan dia harus apa? berpelukan layaknya teletubbies?
"Iya.. ya gapapa sih. Tapi sapa kek, katanya kalian cuman temenan" Ujarnya sambil kembali menyenggol lengan Anita.
Kebetulan Anita dan Adeva berpapasan, Anita meleparkan senyum termanisnya untuk menyapa Adeva, sayangnya respon Adeva hanya mengangguk pelan dan mengulum senyuman.
"Apaan sih pake salting segala, kita cuman temen vyaa.. cuman temen!" Anita menegaskannya hingga terdengar oleh telinga Adeva.
Adeva tau, mereka hanya teman. Tapi, tidak ia sangka bahwa hanya berteman ternyata semenyakitkan ini. Adeva mempercepat langkahnya untuk menjauh dari Anita.
"Ih lo jangan keras keras ntar dia denger kasian dia sakit hati. Gimana kalo dia beneran suka sama lo, ntar kecewa sama kata kata lo barusan" Tegur Liviya tangannya juga menggeplak lengan Anita
"Tadi gue sama Ranca ngomong gitu dia gak masalah," Ucap Anita, tapi Liviya hanya diam sambil tersenyum tipis "Oh! gue paham maksud lo! eh gue ngerti! Jadi tadi dia pulang lewat jalan pintas gegara gue-"
"Iya dodol! ngeleg banget sih otak lo. Abis makan apa sih, sodara gue ini lucu banget. Saking lucunya kayak bayi bagong" Ejek Liviya sambil mencubit kedua pipi Anita dengan gemas.