Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oke, jadi tugas kelompok kita itu buat Teks Eksposisi. Kata pak mulayana, boleh buka buku atau searching di browser" Jelas
Anita setelah mendapat tugasnya dia kembali ke posisinya.
"Kalo gitu, mending nyari di google aja biar gampang" Ucap Yudya, dan itu di setujui semuanya terkecuali Adeva yang tidak mengerti apa apa.
"Yaudah bagi bagi tugas, Yudya lo nulis dan gue bacain. Tapi gue mau nyari dulu teksnya. Andre lo gapapa kan gue minta wifi dari lo?" Tanya Anita pada Andre setelah memberi tugas pada Yudya.
"Oke, nih password nya" Andre memberikan handphone nya langsung pada Anita, setelah tersambung Anita kembali menjelaskan pembagian tugasnya.
"Makasih, jadi fiks ya. Yudya nulis, Gue searching, Andre hospotin. Ntar gue yang presentasi sama Adeva. tenang aja, adeva ada kerjaan kok," Anita mengatakannya sambil melirik Yudya yang hendak protes sebelum ia mengucapkan nama Adeva.
Selagi Anita searching di google, Yudya tak hentinya diam. Dia berjalan jalan ke kelompok lain dan mengganggu orang orang.
Sedangkan Andre, karena dia bosan dia memutuskan untuk pergi ke toilet. Kini hanya ada Adeva dan Anita di meja, berdua.
Adeva kini menggenggam handphone Andre, dengan kebingungan dia asal menyentuh apa yang dia lihat di layar.
Anita terkekeh kecil melihat Adeva yang asal menyentuh handphone hingga handphone Andre nge-lag.
Adeva menatap Anita dengan kesal, kemudian menaruh handphone Andre di meja dan di biarkan terlantar.
Anita semakin tak bisa menahan tawa nya "Kenapa? lo gak bisa main hp nya? sini gue ajarin" Anita mendekatkan kursi miliknya ke tempat duduk Adeva.
"Lo gak tau sama sekali?" Tanya Anita pada Adeva, bukannya menjawab Adeva malah menatap Anita dengan tatapan yang kesal.
"Yaudah,nih liat ya lo jangan asal mencet ntar punya Andre rusak dia marah. Liat aplikasi hijau ini, ini namanya whatsapp kayak sms lagi tapi kegunaannya lebih banyak. Kayak, video call, voice call, sama lo bisa pesan suara. ini alat komunikasi zaman sekarang. Bukan maen surat surat an kayak kita pas sekolah dasar hahaha," Jelas Anita, dia terkekeh kecil mengingat masa SD nya yang sering bertukar surat dengan anak kelas sebelahnya dulu.
"Ini apa?" Tanya Adeva dia langsung menyentuh aplikasi berlogo G
"Nah ini Google, lo bisa nanya apa aja ke google. Bisa pake suara terus bisa juga di tulis, ntar di jawab sama google nya" Jelas Anita tapi ia melihat wajah Adeva yang seakan tidak percaya.
"Coba lo nanya apa aja random sama google" Titah Anita, dia sudah menekan mikrofonnya.
Adeva menatap Anita ragu, tapi dia masih penasaran hingga dia pun membuka suaranya "Siapa jodoh gue?"
Anita tak kuat menahan tawa hingga akhirnya tawa Anita pecah, beberapa orang menoleh karena agak terganggu dengan Anita yang tertawa agak keras.
"Lo ngapain sih nanya begituan? Bukan kek gitu anjir, lo bisa nanya apa aja kecuali tentang lo-"
"Jodoh Anda berada lima centimeter di hadapan Anda, ketuk lokasi untuk maju lebih dek-"
Karena Anita kesal dengan suara Google itu dia mengembalikan layarnya ke beranda, sehingga tak terdengar lagi suara google.
"Lima sentimeter katanya Ta, berati?" Adeva menghitungnya dengan jari jari tangan hingga hitungannya berhenti di depan Anita duduk.
"Wahh ternyata-"
"Heh! Apaan! Cepetan ah kita kerjaim udah maen maennya" Sela Anita dengan pipi memanas. Bisa bisanya google itu mengarang sesuatu yang membuat Anita sebal.
Adeva tersenyum kecil melihat Pipi anita yang kini memerah dengan jelas.
"Nih, Yud tulis" Titah Anita dia menyodorkan handphonenya pada Yudya begitu yudya datang kembali ke meja dengan suasana meja yang entah kenapa.
"Mana judulnya?" Tanya Yudya, karena tak melihat teks yang berjudul.
"Ini yang Teks Eksposisi tentang Bahaya Narkoba Bagi Generasi Muda," Ucap Anita ia membacakan Judulnya.
Koko yang melewat di hadapan Kelompok Anita berhenti sejenak, Matanya seperti menatap Adeva dan mengisyaratkan sesuatu.
Adeva menatap Koko dengan bingung, kemudian ia melihat koko berbisik pada Anita.
"Maksud lo?" Tanya Anita membuat kaget seketika, karena itu sangat mencurigakan. Setelah koko membisik pada Anita, Anita seperti terkejut.
Adeva menatap koko yang kini tertawa jahil membuat Adeva bernafas lega.
"Heh koko. Maksud lo apa? gue gak ngerti" Anita sangat kesal jika ia di ganggu sedang serius apalagi gangguannya membuat ia bingung, seperti si koko.
"Nggak, itu kucing ngelahirin telor naga yang kayak sapi," Ucap koko dengan ngasal kemudian melangkah kembali ke meja kelompoknya.
﹏﹏﹏﹏⌑
"Capek banget udah capek capek presentasi malah kelasnya berisik. goblok banget deh," Gerutu Anita dia sangat kesal karena suara nya habis di pakai presentasi di depan kelas tapi isi kelas malah ribut.
"Mulut!" Adeva menyumpal mulut Anita dengan permen loli yang ia bawa.
"Abisnya nyebelin, lo juga malahan diem aja berdiri. Nyebelin banget sih hari ini," Anita mengeluarkan permennya dan melanjutkan menggerutu.
"Kata Pak Abdurrahman langsung pulang, soalnya guru IPS sama Seni budaya kita lagi gak ada jadi kelas kita di pulangin aja katanya," Ucap Andre, sudah dengan tas di pundaknya.
Anita menghela nafas lega "Untung pulang awal, jadi gue gak perlu diem di kelas pasar kek gini," Anita menarik tasnya dengan kasar kemudian pergi dari kelas setelah berpamitan pada guru yang masih ada di ruang guru.
Adeva berjalan beriringan dengan Anita di banding dengan Tafian dan Koko yang kini berjalan di depannya.
"Diem" Adeva menghentikan langkah kaki Anita dan berjongkok di depan sepatu Anita membuat Anita sedikit mundur.
"Apa apaan lo?" Anita memundurkan kakinya
"Tali sepatu lo, Ta" Adeva menarik kaki Anita agar mendekat dan ia pun mengikat tali sepatu Anita dengan telaten.
"Gue bisa sendiri, Dev" Anita menarik Adeva agar berdiri, ia agak tak nyaman jika Adeva berjongkok di depannya, karena ia memakai rok pendek.
"Kalo lo bisa, daritadi udah lo benerin," Gumam Adeva. ia berjalan dengan tatapan yang lurus ke depan dengan senyuman tipisnya, membuat anita kebingungan. sendiri.