Mencintai seseorang secara ugal ugalan adalah bakat seorang Anita Jeissica Seira. Tidak heran, jika dia menyukaimu orang aneh seperti Adeva Sanindyar.
Sudah bersama sejak sekolah dasar, Tetapi Anita baru menyadari adanya Adeva. Selama ini Anita han...
Bulan sangat indah jika berada di malam hari,bukan?
﹏﹏﹏⌑
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anita datang paling awal dan paling pagi kali ini, entah kenapa dia rasa akan malu jika bertemu dengan Adeva di jalan dan pergi ke sekolah bersama.
"Kira kira dia buang gak ya? soalnya dia kan gak peduli sama apapun yang gue kasih," Gumamnya sambil membulak balik kan halaman buku yang sedang ia baca.
Suara langkah kaki terdengar dan mendekat ke kelas benar saja yang Anita pikirkan, pemilik langkah kaki itu adalah Adeva.
Wajah adeva terlihat seperti gugup tapi tertutup kesal "Lo!" Desis adeva tertahan.
Anita terkejut karena tau maksud Adeva "L-lo baca? atau lo di baca in sama siapa?" Anita bingung harus tertawa senang karena Adeva bisa baca atau tertawa karena malu surat itu dibacakan orang lain.
Anita tertawa hambar "Nggak kok gue bercandaa anaknya putri Nina..." Goda Anita sambil menutupi wajahnya menggunakan buku.
Adeva menghela nafas panjang kemudian duduk di bangkunya.
"Nah kan, udah gue bilang jangan ngelamun. Berati lo jangan ngelamun mending bobo aja, ntar gue nina bobo in," Ucap Anita tanpa sadar ucapannya terselip sebuah godaan.
"Nina nyokap gue! dasar Amira!" Kesal Adeva balik mengata ngatai nama ibu Anita.
Adeva membuang muka saat Anita berjalan mendekati meja nya. Adeva sudah ancang ancang akan beranjak dari duduknya tapi dengan refleks Anita duduk di paha Adeva
Adeva maupun Anita membelelakkan matanya sama sama terkejut. Beberapa saat kemudian Anita bangun dan menegakkan tubuhnya.
Keduanya sama sama terkejut dengan apa yang Anita lakukan secara tiba tiba tanpa judul itu.
"Eh! maaf!gue gak sengaja! gu-"
Adeva memukul mejanya kemudian beranjak dari duduknya, mensejajarkan tingginya dengan Anita.
Anita menelan salivanya dengan susah, pikirannya sudah terbang entah kemana. "Apa dia bakal cium gue kayak yang di nov- eh anjing! paansih! gue mikir apa?!" Anita memang diam saat ini, tapi batinnya tidak diam untuk berteriak.
"M-mau apa lo? m-mundur gak lo!" Anita mulai kehilangan atmosfer hingga dia meninggikan nada bicaranya.
Adeva tidak berbicara sedikitpun, matanya mengamati wajah Anita dari dekat. Setelah cukup, Adeva keluar dari kelas meninggalkan Anita yang masih tertegun.
"Gue jadi lupa lagi mau ngapain" Gumam Anita memegangi kepalanya yang terasa pening, belum lagi nafasnya yang masih tersenggal ketika Adeva telah keluar dari ruangan itu.
⚘⌑⌑⌑⚘
"Ta, ini baru pelajaran pertama lhoo. kok lo udah senyam senyum kek orang gila?" Tanya Juliani, dia bisa lihat jika Anita sejak tadi terus bergumam dan senyum tipis kemudian terkekeh kecil.
"Iya, Juliani ajaa kiranya lo gila. Apalagi yang lain," Timpal Naya. Anita menoleh kemudian tersenyum lebar.
"i feel, like a butterfly flying in my stomach," ungkap Anita dengan senyuman lebarnya pada Juliani dan Naya.
"Ciee kenapa tuh kalo boleh tau," Tanya Juliani dengan senyuman menggodanya.
"Kalian kalo suka sama orang biasanya ngapain?" Tanya Anita, Ini memang bukan pertama kali menyukai seseorang bagi Anita. Tapi yang kali ini sangat berbeda.
"Gue sih ngasih effort gue, meskipun gue mau nya di kasih effort tapi demi dia, gue sih rela. Kayak udah cinta beratt gitu" Ucap Naya, tentu saja ucapannya itu untuk Crush nya yang adalah Manaf.
"Kalo gue.. gak tau sih, gue kalo suka sama orang pasti bilang ‘ih najis, gak mau’ padahal dari hati seneng banget" Ungkap Juliani menahan senyuman salah tingkahnya
"Ooohh, berati si juli inii kalo kita jodohin sama si Yudi kelas sebelah bilang gak mau berati mau" Ucap Anita mengangguk anggukan kepalanya seolah paham sesuatu
"Nah bener, dia juga kalo di jodohin sama si Lam kelas sebelah yang badannya gede kan suka ngomong ‘Dih najis’ berati dia emang suka" Timpal Naya tersenyum melihat wajah kaget Juliani.
"Gak gitu konsepnya ferguso!" kesal Juliani memanyunkan bibir tebal nya itu.
"btw, kenapa lo nanya gitu? lo lagi suka sama orang ya?" Tanya Naya pada Anita, tentu saja anita menggeleng.
"Gue gak tau, gue gak mungkin suka sama dia sih. Kita cuman temen doang," Jawabnya mengedikkan bahu, matanya tak sengaja bertemu dengan mata Adeva yang kini menatap Anita lekat lekat bagai di lem.
Juliani melambaikan tangannya di depan wajah Anita "Woee ngalamun aje lu, eh.. ohhhh lo lagi eye contact gituu yaudah lanjutin, Nay kita ke kantin yuk" Juliani mengalihkan obrolannya kemudian menarik tangan Naya meninggalkan Anita yang kebingungan
"Lah? gue gak di ajak?" tanya Anita kebingungan sendiri melihat Naya dan Juliani telah beranjak meninggalkan dirinya.
"Lo mending pdkt an dulu sama noh orang," Tunjuk Naya pada Adeva yang kini sudah memalingkan wajahnya, Juliani tertawa mengejek lalu pergi meninggalkan kelas.
━━━━━━━
Di karenakan hari ini pulang lebih awal, Anita memilih untuk berjalan di sekitar sekolah lamanya yaitu SMPN Nadrasari yang tak jauh dari SMAN Basstronesia five.
Banyak adik kelas yang menyapa nya, Anita hanya tersenyum ramah karena sudah lupa dengan nama mereka yang menyapa Anita.
"Ta," Panggil Adeva dengan suara pelan tapi terdengar.
Anita menoleh ke asal suara yang pemiliknya adalah Adeva. "Lhoo? kok lo di sini?" Tanya Anita pada Adeva
"Lo lupa? Bu Eris, nyuruh kita ambil Ijazah" Ucap Adeva menjawab se adanya.
Sebenarnya Anita lupa akan hal itu, yang ada di benaknya hanyalah merindukan suasana sekolah lamanya. Rupanya, wali kelas kesayangannya dulu ternyata memanggilnya.
"Emang udah di panggil dari hati nurani kali, makanya gue lupa di panggil bu Eris," Kekeh Anita, dia berjalan beriringan dengan Adeva. Namun, tetap dengan jarak.
"Tapi serius deh, dev. Gue masih penasaran kok lo bisa lulus? padahal kan, kalo lo nyontek juga pasti keliatan sama cctv pas ujian waktu itu," Ucap Anita, dia masih penasaran dengan itu.
Adeva hanya tersenyum kecil, hanya dia yang tau.
"Gue sempet mikir, kalo lo nyogok. Duit darimana lo? bukannya yang tinggal di Desa Joba itu orangnya palsu semua? apa lo juga?" Tanya Anita beruntun tapi Adeva tidak menjawab satu pun.
"Nak, aduhh kalian cuma datang berdua ya? Aziz sama Zarel gak datang? Anita, kamu makin cantik ya," Sapa Bu Eris,dia mengusap kepala Anita dengan lembut. meskipun di lihat dari umur dia sudah tua, namun wajah rupawannya masih cantik, dan terlihat awet muda.
"Ehh aamiin Masya Allah buu. Ibu juga makin tua makin cantik bu, ibu gimana sehat?" Tanya Anita dengan ramah.
"Baik, kok." Jawab Bu Eris, sadar sesuatu ia mengerutkan keningnya, "Lhoo kamu gak sama Zora?"