2013

740 47 0
                                        

* di Prancis, Paris 2013

* Pitie Salpetriere Paris

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* Pitie Salpetriere Paris

Pitié-Salpêtrière adalah rumah sakit umum multidisiplin besar di Paris. Dibentuk dari penggabungan dua institusi medis: Salpêtrière yang didirikan pada tahun 1656 dan Pitié pada tahun 1964. Rumah sakit ini memiliki 1.784 tempat tidur dan menawarkan lebih dari tujuh puluh layanan medis.

Angelina dilarikan ke ruang gawat darurat akibat pendarahan hebat di kepala setelah jatuh dari lantai 20 penthouse miliknya. Diorta, ayahnya, panik bukan main begitu menerima kabar tragis itu. Ia segera meluncur ke rumah sakit untuk melihat langsung kondisi putri kesayangannya.

Di sudut ruang tunggu, Catrier, putri kecil Angelina, menangis terus-menerus. Polisi dan penyelidik tampak berjaga di depan ruang perawatan. Diorta menghampiri cucunya, memeluknya erat untuk menenangkan tangisnya.

"Kakek, ibu nggak apa-apa, kan?" lirih Catrier.

"Pasti, pasti tidak apa-apa, Nak. Tenanglah," jawab Diorta dengan suara bergetar.

Namun kenyataan berkata lain. Jenaya, dokter keluarga yang memeriksa Angelina, telah berusaha maksimal. Tapi takdir berkata lain—Angelina tidak berhasil diselamatkan.

Tubuh Diorta limbung, hampir jatuh. Ia menurunkan Catrier dari pelukannya karena tak sanggup lagi berdiri tegak. Putri kesayangannya kini tiada. Kehilangan yang begitu menghantam.

Diorta adalah ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya, terlebih Angelina. Sejak kecil hingga ia menikah, Angelina tetap menjadi cahaya hidupnya. Kini yang tersisa hanyalah berita duka dan ruang hampa dalam hatinya.

Jenaya pun menyesali semuanya. Ia merasa bersalah karena tidak menemani Angelina saat masa-masa terpuruknya. Semua ini bermula dari Kim, suami Angelina, yang berselingkuh dan tetap menceraikannya meski Angelina memohon. Sejak saat itu, Angelina tenggelam dalam kesedihan. Mabuk, murung, dan mengurung diri di kamar.

Sekitar pukul enam sore, saat Jenaya baru saja mengantarkan Catrier pulang, ia menemukan kerumunan polisi di sekitar penthouse. Angelina ditemukan jatuh dari balkon, tubuhnya hancur diterpa kenyataan yang begitu kejam.

Chanel dan Calvin tiba di rumah sakit. Mereka segera memeluk Catrier yang masih menangis.

"Nangislah sekencang-kencangnya," ucap Calvin sambil merangkul mereka.

Calvin, yang sudah lama menganggap Catrier seperti adik sendiri, menjadi penopang dan penguat dalam duka mendalam itu.

St. Germain, Paris

Kawasan ini terletak di arrondissement ke-6 Paris, tempat di mana seniman seperti Monet dan Renoir pernah tinggal, serta para pemikir seperti Camus berdiskusi. Pada era 1950-an, musik jazz memenuhi restoran dan bar di sini. Kini, suasananya dipenuhi semangat muda, toko buku, galeri seni, gereja tua, hingga butik kelas dunia.

Yuri memutuskan pindah ke St. Germain bersama kedua anaknya. Ia ingin melanjutkan karier modeling-nya, dan juga membangun masa depan anak-anaknya di kota kelahiran yang penuh kenangan.

"Mulai sekarang, kita akan tinggal di sini," ucap Yuri tegas.

"Tapi, Ayah...?" tanya Tiffany ragu.

"Jangan pikirkan dia. Percayalah, suatu hari dia akan datang dan memohon untuk kembali," balas Yuri dengan senyum sinis.

"Kalau Ayah nggak kembali?" timpal Teresa.

"Itu tidak mungkin," jawabnya yakin.

"Ayo, bereskan barang-barang. Kita harus tandatangan kontrak dengan Hermès hari ini," perintahnya.

"Secepat itu?" tanya Teresa.

"Ibu sudah siapkan semuanya. Kita ke Paris bukan tanpa alasan. Karier menanti."

Yuri memang sudah menyusun rencana bahkan sebelum pertengkarannya dengan sang suami. Ia mendapat tawaran sebagai brand ambassador Gucci, dan ingin kedua putrinya mengikuti jejaknya sejak dini. Mereka akan mulai les modeling dan bergabung dengan agensi ternama.

Mereka pun meluncur ke agency. Tiffany dan Teresa, dua anak kecil yang seharusnya masih menikmati masa bermain, kini bersiap menjalani pemotretan dan hidup sebagai model profesional.

"Putrimu sangat cantik," puji manajer .

"Tentu saja," balas Yuri tanpa ragu.

Domme, Dordogne

Domme adalah sebuah bastide abad pertengahan di puncak bukit setinggi 150 meter. Didirikan tahun 1281, desa ini memiliki benteng dan gerbang yang masih terawat. Reruntuhan dan gua bawah tanahnya menyimpan kisah para ksatria Templar abad ke-14.

Di sinilah Celine, Haru, dan neneknya memulai hidup baru. Kehilangan kedua orang tua memaksa mereka meninggalkan kota dan tinggal di rumah kecil peninggalan masa muda sang nenek.

"Ini kamar kalian," ucap sang nenek lembut.

"Tempat ini lebih kecil dari kamarku dulu," kata Haru polos.

"Maaf ya, Nak. Nenek hanya bisa sediakan ini. Nenek akan bersihkan dulu..."

"Tak perlu, Nek. Biar aku saja. Nenek temani Haru di ruang TV," ujar Celine.

Kamar itu berdebu, sempit, dan jauh dari rumah besar mereka sebelumnya. Tapi inilah kenyataan. Uang tabungan hampir habis karena membayar utang orang tua mereka. Nenek sudah terlalu tua untuk bekerja.

Usia Celine baru sembilan tahun, tapi kini ia harus menjadi dewasa—untuk dirinya, untuk adiknya.

c³ tTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang