Apartemen St. Germain
Kevin baru saja hendak menekan bel di depan pintu apartemen milik keluarga Yuri ketika langkah kaki mendekat dari lorong membuatnya menoleh. Kebetulan sekali, Yuri baru pulang. Perempuan itu masih mengenakan kacamata hitam dan mantel panjang warna krem, tampak lelah namun tetap menjaga sikap anggun dan dingin sebagaimana layaknya seorang model internasional.
Yuri sebenarnya tak terlalu suka dengan kehadiran Kevin—anak dari Suzy, perempuan yang kini menjadi istri dari mantan suaminya, Handika. Hubungan mereka rumit dan penuh simpul-simpul lama yang tak pernah benar-benar terurai. Namun demi citranya di mata publik, Yuri menekan egonya dalam-dalam dan memilih untuk menahan emosi.
Ia menghela napas pelan, lalu membuka suara lebih dulu.
"Hai, Kevin. Mengapa kau berdiri di depan pintu apartemen tante? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bertamu?" ucap Yuri dengan senyum tipis yang menyimpan nada sinis.
Kevin menunduk sedikit, mencoba bersikap sopan. "Tante, aku hanya ingin mengambil seragam untuk Tifany... Semalam dia menginap di rumah temannya."
Yuri menghentikan langkah. Matanya menyipit di balik kacamata hitamnya. "Apa? Dia menginap di mana? Bagaimana bisa?"
Suaranya meninggi, nada marah mulai terdengar. Namun sebelum Kevin sempat menjelaskan, Yuri sudah melanjutkan omelannya tanpa memberi jeda.
Kevin buru-buru mencoba menjelaskan, "Begini, Tante... Semalam mobilnya mogok. Dia ditolong temannya, tapi apartemennya sudah terkunci. Jadi, dia terpaksa bermalam di sana."
Yuri memijit pelipisnya dengan kesal. "Astaga... Anak itu! Di mana dia? Beri Tante alamatnya. Biar Tante yang ke sana sekarang."
Kevin sempat ragu. Ia tahu kemungkinan besar Tifany akan dimarahi. Tapi pada akhirnya, ia memilih menyerahkan alamat itu juga, sambil berharap segalanya tak menjadi lebih buruk.
Arrondissement 7 – Penthouse Keluarga Lemoine
Catrier, seperti biasanya, bangun lebih pagi dari siapapun . Udara pagi Paris masih sejuk saat ia menyelami kolam renang pribadinya dengan gerakan elegan dan penuh kendali. Setiap pagi ia berenang bukan semata olahraga, melainkan ritual keanggunan yang membuat tubuh dan pikirannya segar.
Tak lama, asistennya datang membawa segelas susu hangat. Ketika Catrier keluar dari kolam dan duduk di pinggirannya, handuk hangat langsung disodorkan dengan sigap.
"Oh iya, seragam baru... masih ada, kan?" tanya Catrier, tanpa menoleh.
"Tentu saja, Nona. Masih rapi tersimpan di ruang pakaian Anda," jawab asistennya.
"Hmm... kalau begitu, suruh pelayan mengantarkannya. Dia pasti memerlukannya pagi ini," ujar Catrier ringan.
"Baik, Nona. Akan segera saya siapkan," ucap sang asisten, lalu melangkah mundur, memberi perintah kepada pelayan dengan sistem komunikasi pintar mereka.
"Asisten, bagaimana dengan mobilnya?" tanya Catrier sambil mengeringkan rambutnya.
"Sudah berada di garasi, Nona. Siap digunakan kembali oleh Nona Tifany," lapor sang asisten.
"Bagus," gumam Catrier, lalu berdiri anggun dan berjalan masuk ke dalam.
Di Lobi Penthouse
Yuri baru saja tiba di gedung apartemen elit tersebut. Wajahnya terlihat gelisah, langkahnya cepat, dan matanya tak henti menatap ke sekitar. Ia tahu benar tempat ini, tapi tetap saja ada rasa tak nyaman menyelinap di dadanya. Ia kesal—terutama karena Kevin tidak memberi tahu siapa teman Tifany yang berani mengajaknya menginap di gedung semewah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
