Pertemuan haruto x cat

83 12 2
                                        


**Lorong Gelap Sayap Timur – Hotel Makan Malam Resmi Keluarga Bayerische**

Catrier berjalan cepat meninggalkan meja makan panjang yang semula dipenuhi tawa formal dua keluarga elite. Rona mukanya dingin, langkahnya mantap, namun matanya... kosong.
Gaun satin malamnya menyentuh lantai marmer, berkilau samar terkena cahaya gantung dari atas.

Tiba-tiba dari arah berlawanan, seseorang menariknya, memojokkannya ke dinding koridor terpencil. Hansen.

"Catrier..." ucapnya, rendah namun menekan.

Tangan Hansen menahan salah satu sisi tubuh Catrier, menutup jalan keluar, napasnya dekat sekali. Mata mereka bertemu, namun Catrier segera membuang muka, menahan emosi yang berkecamuk di balik wajah tenangnya.

"Aku tidak ingin bicara..." lirihnya pelan, hampir seperti bisikan.

Namun sebelum Hansen sempat menyentuhnya, langkah cepat terdengar mendekat.

**James.**

Ia menarik kerah jas Hansen dan mendorongnya dengan kasar menjauh dari Catrier. Pandangan James tajam, nyaris membara. Tangan kanannya mengepal, mengayun sedikit ke udara, siap menonjok... namun ia urungkan. Napasnya berat, tapi kendali dirinya masih utuh.

"Merde," tegas James, suaranya menahan amarah.

Catrier telah pergi jauh. Hanya bayangannya yang tertinggal di balik koridor, menjauh dari segalanya.

James menatap Hansen dengan jijik, lalu melepaskannya seolah ia tak berarti. "Kembali ke meja makanmu. Jangan ikuti dia lagi."

---

**Di Dalam Taksi – Malam Paris**

Catrier duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota Paris membias di kaca, berbaur dengan pantulan wajahnya yang murung. Ia tak tahu ke mana tujuannya. Ia hanya ingin... keluar. Jauh dari segala label, nama besar, dan meja-meja makan palsu.

"Nona , ke mana?" tanya sopir taksi sopan.

Catrier hanya menatapnya lewat kaca spion, lalu menjawab pelan, "Jalan saja. Jangan berhenti."

---

**Kediaman Keluarga hanlim – Larut Malam**

Teresa berdiri di depan pintu gerbang bergaya klasik yang menjulang tinggi. Topi bertepi lebar dan kacamata hitamnya menyamarkan wajah. Dari kejauhan, ia tampak seperti Tiffany. Itu disengaja.

Pelayan membawanya masuk sesuai arahan. Ia tidak banyak bicara, langkahnya cepat, dan wajahnya dingin seperti malam itu.

Ketika sampai di sebuah ruang privat yang tertutup, suara musik dan tawa samar terdengar dari dalam. Pintu terbuka. Terlihat Julio dan Davic tertawa dalam kondisi setengah mabuk, bersandar di sofa beludru mahal. Di sampingnya duduk Junior—dengan Bella di sebelah nya , tangannya masih memegang gelas wine.

Saat Teresa melangkah masuk, ruangan seketika hening. Semua mata mengarah padanya. Mereka pikir itu Tiffany.

Namun tanpa basa-basi, Teresa mendekat dengan langkah tenang... lalu **mengangkat sebotol wine dan menyiramkannya ke kepala Julio**.

Cairan merah mengalir di wajah dan pakaiannya.

"APA—?!" teriak Bella.

Julio bangkit setengah sadar, tapi Teresa sudah memutar tubuhnya dan berjalan pergi begitu saja tanpa izin.

Junior langsung bangkit dan berlari menyusul. Amarahnya meledak.

---

**Lorong Pribadi – Kediaman junior

c³ tTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang