makan sore keluarga kim

254 19 2
                                        

Di rumah Kim

Kai, Keara, dan ibu yang merupakan keluarga adik kim mereka sudah tiba lebih awal. Mereka disambut hangat oleh Junita, meski hatinya tak sepenuhnya menerima sikap keras kepala Kai. Namun, karena Kai adalah keponakan kesayangan Harto, suaminya, Junita tetap bersikap ramah.

Nancy dan Jeno—anak Junita—baru saja turun dari lantai empat. Tanpa menunggu lama, mereka semua bergegas menuju ruang makan yang terletak di dekat kolam renang dan taman.

Sambil menanti Harto yang masih menyelesaikan pekerjaannya, Junita mengajak anak-anak dan keponakannya duduk lebih dulu. Ia akan memeriksa status hidangan bersama adik iparnya hartini.

Di sisi lain, Catrier baru saja tiba di rumah Kim. Mengenakan gaun putih kesukaannya dan membawa seikat mawar untuk ayahnya, ia disambut pelayan.

"Tolong letakkan bunga ini di vas, ya," pinta Catrier, lalu melangkah menuju ruang makan.

Seperti diduga, kursinya telah terisi. Nancy, yang tadi berdiri sambil menelepon, kini duduk di tempat itu.

"Sekarang ini tempatku," ujar Nancy pongah.

Kai menatap dan berkata, "Tidak apa–apa, duduk di sini saja."

Jeno menimpali, "Iya, sini, Catrier."

Catrier tersenyum tipis lalu duduk di antara Kai dan Jeno.

Tak lama kemudian, hidangan pun diantar. Harto datang tak lama setelah itu.

"Catrier, bagaimana kabarmu, Nak?" sapanya lembut, disusul ucapan hartini yang ikut prihatin: "Kau terlihat kurang sehat."

Catrier membalas, "Baik, Bibi. Hanya sedikit lelah."

Junita lalu mengajak semua duduk. Acara makan sore pun dimulai—tanpa banyak bicara, hanya hening menikmati hidangan khas keluarga Kim.

Hingga akhirnya, yunita membuka percakapan:

"Suamiku, putri kita membawa kabar baik lagi."

Kim tersenyum, "Oh ya? Apa itu?"

Junita menatap Nancy, lalu Nancy melanjutkan, "Aku mendapat nilai terbaik semester ini ayah..."

Kim bangga, "Hebat! ayah yakin kau akan dapat nilai terbaik s1. lalu setelah itu S2 di Amerika sudah kupersiapkan."

Nancy mengerutkan kening, "Kenapa S2?"

"Setelah sarjana kedokteran, S2 akan mempercepat kariermu di rumah sakit," jelas Kim.

Nancy hendak protes, tapi Junita cepat memotong, "Nanti saja kita bahas lebih jauh."

Mata Nancy berkaca-kaca. Ia menahan rasa kesalnya.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Kim berganti kepada anak-anak dan keponakannya.

"Jeno baru mulai sekolah lagi, tapi dia pasti bisa mengejar target,"
jawab Junita.

"Kai dan Keara sama-sama masuk sepuluh besar," tambah hartini karena ia tau ambisi kaka nya terhadap pringkat merupakan kualitas .

"Bagus," puji Kim.

Giliran Catrier:

"Catrier tak pernah mengecewakan. Dia juara olimpiade sains dan panutan di sekolah," puji Kai.

Kim mengangguk, "Guru-gurumu memang sering melapor. Jadi, kau akan masuk kedokteran?"

Catrier menatap ayahnya tegas. "Tidak...aku tidak suka kedokteran aku akan melanjutkan bisnis ibuku"

Suasana mendadak tegang. Kim menatapnya tajam, lalu meletakkan sendok, meneguk air, dan berdiri.

"Aku sudah selesai. Kalian lanjut saja..." ucap hartono

c³ tTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang