Di St. Germain
Tifany merasa sangat puas telah mengerjai duo J—Julio dan Junior—yang sempat meremehkannya. Ia membuat mereka menghabiskan banyak uang hanya untuk mentraktir makan malam. Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa canggung. Tifany masih marah, tak mengucap sepatah kata pun hingga akhirnya mobil tiba di kawasan Germain Apartement. Tanpa basa-basi, ia langsung turun dari mobil dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Julio tampak kecewa—kencan yang ia harapkan malah berakhir kacau karena ulah Junior.
Namun sebelum Tifany benar-benar masuk ke dalam gedung apartemen, sebuah suara pria memanggil namanya dari kejauhan. Ia menoleh tajam, dan mendapati sosok Kevin—kakaknya. Kevin mendekat dan merangkulnya dengan akrab. Bagi siapa pun yang melihat, termasuk duo J di dalam mobil, momen itu tampak seperti interaksi sepasang kekasih. Mereka tidak tahu bahwa Kevin adalah kakak kandung Tifany.
Tifany tersenyum dan tampak senang mengobrol dengan Kevin saat mereka berjalan menuju pintu masuk.
"Ahhh sudahlah, Julio. Masih banyak cewek lain," ucap Junior, berusaha menghibur temannya.
"Ah, merde..." gerutu Julio kesal, merasa direndahkan.
Junior pun melajukan mobilnya pulang menuju rumah mereka yang masih berada di kawasan yang sama.
Sementara itu, Tifany dan Kevin sudah sampai di depan unit apartemen mereka. Tifany mengajak Kevin masuk, tapi karena hari sudah larut malam, Kevin memilih langsung pulang. Tifany mengangguk paham, kemudian masuk ke dalam.
Namun, ia dikejutkan oleh sosok Teresa yang berdiri di balik pintu.
"Untuk apa kau di situ?" tanya Tifany, masih terkejut.
"Aku hanya ingin membukakan pintu. Ternyata kau sudah tahu kode baru pintunya," jawab Teresa ringan.
"Ibu yang memberitahuku," ucap Tifany singkat.
"Oh, begitu... Hmm, kenapa kau bisa bersama Kevin tadi?" tanya Teresa dengan nada menyelidik.
Tifany agak gugup. "Hanya kebetulan bertemu di lobby," jawabnya cepat.
Teresa hanya mengangguk pelan. "Yasudah, aku mau tidur."
Teresa masuk ke kamarnya, dan Tifany pun menuju kamarnya sendiri.
Di Peanthouses Arrondissement 7
Pagi hari yang cerah. Seperti biasa, Catrier memulai harinya dengan berenang. Suasana sepi dan air kolam terasa menyegarkan. Saat ia tengah menyelam, langkah kaki yang nyaris tak terdengar mendekati kolam. Catrier mengira itu asistennya, namun suara yang ia kenal justru terdengar samar dari arah lain.
"Maaf, Tuan... Kolam renang premium milik Anda ada di ruang sebelah," ucap Bae, asistennya.
"Oh, begitu... Baiklah, maaf," sahut seseorang lalu pergi, suaranya sopan namun asing.
Catrier belum sempat melihat siapa orang itu karena masih di bawah air. Saat ia muncul, sosok misterius itu sudah menjauh, hanya terlihat samar dari kejauhan.
Bae menghampiri Catrier. "Itu penghuni baru di peanthouses bawah Anda. Tadi ia salah masuk. Kolam renangnya seharusnya di sisi lain."
Catrier hanya mengangguk, lalu melanjutkan renangnya tanpa banyak pikir.
Di Champs-Élysées
Chanel baru bangun, masih mengantuk akibat pulang larut malam. Di meja makan, sarapan sudah disiapkan oleh kedua orangtuanya yang sibuk—ibunya seorang dokter, ayahnya seorang pengacara.
"Astaga, kenapa kau pulang larut malam? Lihat wajahmu itu," ucap Jenaya sambil menggeleng.
"Ibuu... aku ngantuk," jawab Chanel sambil duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
