umpatan kata kasar

419 43 1
                                        

Jangan lupa vote ya 😀
Komen lanjutt kuy

Penthouse Catrier – Arrondissement 7

Langit sore Paris terlihat memerah ketika Junita dan Nancy tiba di penthouse mewah Catrier, yang terletak di kawasan elite Arrondissement 7. Gedung tinggi dengan lobi megah, lantai marmer berkilau, dan aroma parfum mahal menyambut mereka. Petugas keamanan hanya memberi anggukan sopan saat nama Catrier disebut—semua orang di sini mengenal pewaris Dior itu.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di dalam penthouse milik Catrier, yang terletak di distrik bergengsi Arrondissement 7, kemewahan menyapa dari setiap sudut. Arsitekturnya elegan dan bernuansa klasik modern, mencerminkan status tinggi pemiliknya. Junita dan putrinya, Nancy, datang untuk pertama kali sejak Catrier memutuskan untuk hidup mandiri, jauh dari mereka. Aura kekayaan yang kental membuat Junita tak bisa menyembunyikan rasa iri yang perlahan merambat di hatinya, melihat betapa mewahnya kehidupan anak tiri yang selama ini tidak ia sukai. Ia melangkah perlahan menyusuri setiap ruangan, menatap dinding marmer, lampu gantung kristal, dan hiasan seni berkelas yang terpajang rapi.

Ketika mereka tiba di salah satu kamar pribadi—yang jelas-jelas jauh lebih megah dari kamar tidur Junita di rumah mereka—Nancy terpaku sejenak. Pandangannya menyapu keseluruhan ruangan, dari jendela besar yang menghadap panorama kota Paris, hingga ranjang king-size dengan sprei satin putih berkilau. Tanpa berpikir panjang, Nancy langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, tenggelam dalam kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Mah, aku ingin tinggal di sini," ucap Nancy dengan nada penuh antusiasme, matanya berbinar oleh bayangan kehidupan baru yang membuai imajinasi.

Junita duduk santai di sofa beludru berwarna maroon, menyilangkan kaki dengan anggun.

"Kau menyukainya?" tanya Junita, sorot matanya tajam namun penuh perhitungan.

"Sangat... sangat suka, Mah," jawab Nancy dengan tegas, senyumnya merekah seperti anak kecil yang baru saja menemukan dunia dongengnya.

"Kalau begitu, tinggallah di sini. Karena sebentar lagi ini juga semuanya akan menjadi milikmu," ucap Junita, tenang namun penuh makna, seolah menyimpan rencana besar di balik senyumnya.

"Benarkah? Aku boleh tinggal di sini?" Nancy setengah berteriak, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Ya, tentu saja. Besok, siapkan saja baju-bajumu," ucap Junita, tangannya melambai santai seperti seseorang yang memberi izin atas kerajaan kecilnya.

"Tapi... dia nggak mungkin setuju dengan hal ini," ucap Nancy, nada suaranya mulai ragu dan penuh kecemasan.

"Memangnya dia bisa berbuat apa? Meskipun ini adalah milik ibunya, tapi ia juga tidak akan menolak perintah dari ayahnya, kan? Tenang saja, aku akan pergi membujuk ayahmu untuk memperbolehkanmu tinggal di sini," ucap Junita, dengan nada keibuan namun sarat dengan kelicikan tersembunyi.

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang