haruto di bully

198 17 4
                                        


KELAS A+

Hari ini, kelas tampak lebih sepi dari biasanya. Catrier, yang biasanya hadir paling awal, tidak terlihat sama sekali. "Mungkinkah dia sakit?" bisik beberapa murid. Tidak ada yang tahu. Gadis muda itu memang dikenal tak pernah bolos. Sementara itu, ketidakhadiran Tiffany bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Kelas ini sudah terbiasa kehilangan sosoknya.

Chanel duduk seperti biasa, mencolok dengan aksesori mewahnya. Hari ini ia mengenakan bando merah mencolok, senada dengan kutek merah merona di kukunya.

Guru memasuki kelas membawa iPad di tangannya, lalu mulai mengabsen satu per satu.

Ketika nama Catrier disebut, semua murid hanya diam. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Lalu giliran Tiffany. Tepat saat itu, ia masuk dengan santai, wajahnya tanpa ekspresi bersalah meskipun jelas terlambat. Ia duduk seperti tak terjadi apa-apa.

Guru hanya melirik, lalu melanjutkan absen dan pelajaran.

"Baiklah, kita lanjutkan materi minggu lalu," ucap guru fisika.

"Baik, Bu," sahut para murid.

KAMAR CATRIER

Catrier memilih untuk tidak masuk sekolah hari ini. Luka di dahinya cukup parah dan terlihat jelas. Ia merasa malu.

Ia hanya duduk diam di kamar, mengenakan jubah sutranya, tatapan kosong menatap langit-langit.

"Nona muda, bolehkah saya masuk?" suara asistennya terdengar lembut dari balik pintu.

"Masuklah," sahut Catrier singkat.

Asisten Bae masuk sambil membawa map.

"Surat izin Anda sudah kami kirimkan ke sekolah," lapornya.

Catrier hanya mengangguk pelan.

"Apa sebaiknya Anda ke rumah sakit untuk perawatan, Nona?" tanya Bae hati-hati.

"Panggilkan dokter kulit dan kecantikan. Jadwalkan siang ini. Sekarang aku ingin istirahat."

"Baik, Nona."

Seorang pelayan tiba-tiba masuk tergesa.

"Nona, Nona Nancy datang. Ia memaksa masuk dan berteriak-teriak."

Catrier menarik napas panjang.

"Tenang saja. Aku akan turun."

RUANG TAMU RUMAH KELUARGA KIM

Suara Nancy terdengar hingga ke dalam rumah. Catrier menuruni tangga dengan langkah tenang, namun sorot matanya tajam.

"Ada apa kau ke sini?" tanyanya dingin.

"Sore ini, ayah mengundangmu makan malam. Ia ingin kau hadir," ucap Nancy datar.

Catrier tampak terkejut.

"Aku?"

Biasanya, Nancy dan Junita lah yang paling menentangnya datang ke acara keluarga. Ada apa gerangan?

"Ayah menunggumu. Pastikan kau datang," ucap Nancy sebelum berbalik pergi.

Catrier masih berdiri terpaku. "Mungkinkah ayah... menyesali sikapnya?"

"Nona? Ini terasa janggal," bisik Bae.

"Tapi aku akan datang. Siapkan dress untukku."

"Baik, Nona."

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Celine duduk di sudut favoritnya. Buku tebal terbuka di depan mata, namun pikirannya mengembara.

c³ tTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang