Balapan di tabrak dengan sengaja

160 18 11
                                        


---
Keesokan harinya – Anggera International School**

Video unggahan Bella di Instagram sudah menyebar ke seluruh sekolah. Setiap sudut koridor dipenuhi bisik-bisik soal balapan liar semalam.

Bella duduk dikelilingi teman-temannya, penuh percaya diri saat menceritakan versi dramatisnya. Tangannya heboh bergerak, sesekali menirukan ekspresi James maupun Brian. Tawa dan jeritan kagum terdengar di sekelilingnya.

Tak jauh dari situ, Chanel dan Kai baru saja masuk gerbang. Chanel spontan melambat ketika mendengar nama James dan Brian disebut-sebut.
"Lalu siapa yang menang?" tanya Chanel polos.

Kai malah terkekeh lebih dulu, mendekat dan berbisik pada Chanel.
"Sudah jelas, Brian si kutu buku itu kalah. Mana mungkin bisa ngalahin James."
Chanel mendengus pelan. "Astaga... sebenarnya apa sih masalah mereka berdua?"
Kai mengangkat bahu sambil tertawa, pura-pura santai. "Jangan dipikirin. Udah, kamu masuk kelas sana. Bukannya hari ini ada kelas khusus anak komunitas?"

Chanel akhirnya mengangguk dan pamit. Sementara Kai, meski wajahnya santai, menyimpan sedikit rasa khawatir. Ia tahu sahabatnya bonyok parah, tapi tetap saja memilih menyembunyikan perasaan itu dengan candaan.

---

**Kelas Komunitas Anggera**

Kelas ini berbeda dari kelas biasa—lebih seperti ruang rapat elit. Meja panjang dengan kursi mewah, papan digital, dan suasana yang jauh lebih formal. Awalnya hanya diisi 3 orang: Catrier, Chanel, dan Junior. Namun kini, tiga nama besar lain telah resmi bergabung: Hansen, James, dan Alfredo.

Kelas ini bukan sembarang kelas. Anggota komunitas bukan hanya anak orang kaya, tapi juga pewaris keluarga yang benar-benar berpengaruh. Bahkan, salah satu syarat masuknya adalah menyumbang miliaran ke sekolah.

James datang paling akhir, wajahnya masih penuh lebam. Namun tak ada satupun yang menyinggung hal itu—semua pura-pura tak melihat, karena mereka sudah Jelas tau Dan untuk dipertanyakan seperti nya tidak penting.

Pertemuan dimulai dengan agenda rutin: pembahasan proyek sekolah. Dalam waktu tiga bulan, ulang tahun Anggera akan digelar besar-besaran, dan kelas komunitaslah yang berhak memimpin segala persiapannya.

"Aku akan menyiapkan proposal pentas balet," ucap Chanel penuh semangat.

Alfredo menoleh, tersenyum tipis. "Aku ikut bersamamu."

Catrier angkat bicara, suaranya datar namun tegas. "Baiklah, aku akan menampung ajuan siswa lain dulu sebelum kita putuskan."

Junior menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Seperti biasa, kegiatan olahraga harus ada. Basket, tinju... hmm, apa lagi ya?"

Chanel langsung protes. "Astaga, tinju itu berbahaya! Tahun lalu saja ada yang koma."

James yang sedari tadi hanya diam akhirnya menyeringai sinis. "Namanya juga tinju. Kalau cuma koma, itu masih untung. Lebih baik koma daripada mati, kan?"

Junior tertawa puas. "Setuju. Tinju nggak boleh hilang."

Hansen melirik Catrier yang memilih diam, lalu berkata, "Catrier, nanti aku akan Bersama mu bantu minta pendapat siswa lain."

Catrier hanya mengangguk kecil.

---

**Istirahat**

James keluar lebih dulu dengan gaya angkuh, meninggalkan kelas begitu saja. Sementara itu, Catrier ditemani Hansen menuju kantor untuk mengurus berkas pengajuan ide siswa. Mereka berjalan berdampingan di lorong sepi, tak banyak bicara, hanya suara langkah kaki yang terdengar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang