---
**📍 Di Kantin**
Chanel baru saja selesai kelas ice skating—pipinya masih merah karena dingin dan gerakannya yang lincah di atas es. Ia menuruni tangga menuju kantin, langsung menghampiri Kai yang sudah duduk bersama teman-temannya. Namun, begitu Chanel mendekat, teman-teman Kai seperti paham situasi dan segera pamit, memberi ruang bagi pasangan itu.
Dengan santai, Chanel memesan makanan kesukaannya, seperti biasa. Kai juga memesan tanpa berpikir panjang.
Tak lama, seorang pria membawa nampan dan duduk tepat di samping Kai.
"**Hai.**" ucap pria itu sambil meletakkan makanannya.
Chanel sedikit terkejut. Wajah pria itu cukup menarik—tampan, rapi, tapi... asing baginya.
"**Anak baru?**" tanya Chanel, alisnya sedikit terangkat.
"**Oh, ini Brian. Dari kelas A,**" jawab Kai santai.
"**Ganteng, tapi kok nggak pernah kelihatan ya?**" Chanel masih tampak penasaran.
"**Dia itu kadang masuk, kadang nggak. Sibuk banget, katanya, sama penelitian. Tapi sekarang dia bakal lebih fokus... ya kan, Brian?**" Kai menoleh ke temannya.
"**Iya,**" jawab Brian singkat sambil mengangguk.
"**Owh... Salam kenal. Chanel, pacarnya Kai,**" ucap Chanel sambil tersenyum manis.
"**Brian. Teman satu tim basket Kai,**" jawab Brian ramah.
Kai terkekeh, lalu melirik Brian, "Kalau cuma nyari dia di sini, nggak bakal ketemu."
Brian langsung tersenyum malu, celingak-celinguk seperti ketahuan sesuatu.
"**Dia nggak makan siang?**" tanya Brian, agak gugup.
"**Biasanya dia di rooftop waktu istirahat,**" jawab Kai sambil menyesap bobanya.
"**Oh ya? Oke. Thanks, Kai,**" ucap Brian, segera mengambil makanannya dan pergi dengan langkah tergesa.
Chanel menatap punggung Brian yang semakin jauh, lalu bertanya, "**Kalian tadi ngomongin siapa?**"
"**Cewek cantik yang dia taksir,**" ucap Kai dengan nada menggoda.
"**Siapa? Dari kelas mana?**" Chanel terlihat antusias.
Kai mendongak, menatap Chanel penuh selidik. "**Kok kamu tiba-tiba pengen tau? Kamu suka Brian?**"
"**Eh? Enggak, sayang! Cuma penasaran aja... Maaf ya,**" jawab Chanel cepat-cepat.
Kai cuma tersenyum kecil, lalu kembali fokus pada bobanya.
---
**📍 Di Perpustakaan**
Celine duduk di sudut meja panjang, di antara rak-rak tinggi perpustakaan. Ponselnya baru saja bergetar, mengabarkan berita mendadak dari manajernya: **malam ini ada wawancara album terbaru** bersama salah satu label musik ternama.
Matanya melebar. Ia bahkan belum siap apapun—belum latihan, belum siap baju, bahkan belum tahu konsep acaranya. Ia ingat kejadian beberapa waktu lalu: ia harus tampil nyanyi live tanpa latihan, dengan suara seadanya, dan hanya mengandalkan insting panggung.
"**Celine, mana catatanku? Sudah selesai?**" tanya salah satu temannya sambil mendekat.
"**Tunggu... sebentar lagi. Besok akan ku salin untukmu,**" jawab Celine cepat, nyaris tak mengangkat kepala.
"**Baiklah. Aku tunggu,**" ucap temannya lalu pergi.
Celine kembali menulis. Ia memang mengambil kerja paruh waktu—**menulis ulang catatan** untuk siswa-siswa yang sering bolos. Bayarannya tidak main-main, **1 juta untuk satu bab berisi 5 halaman**.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
