Di Perjalanan dari Supermarket
Mobil Tiffany meluncur perlahan meninggalkan parkiran supermarket. Kantong-kantong belanja berisi sayuran segar dan susu dingin bergoyang di kursi belakang, sementara aroma roti hangat yang baru dipanggang memenuhi kabin. James duduk di kursi penumpang, bersandar santai... atau setidaknya terlihat begitu. Namun dari sorot matanya di balik kaca, jelas ada sesuatu yang ia perhatikan.
Di kaca spion sisi kanan, ia menangkap bayangan mobil abu-abu yang sejak tadi tak pernah mengambil jarak lebih dari sepuluh meter.
Tatapannya menyipit.
"Ada yang nggak beres... mereka kayaknya ngikutin kamu, Tif," ucap James pelan namun tegas, tanpa mengalihkan pandang.
Tiffany hanya menghela napas, wajahnya datar.
"Biasa. Fans fanatik. Aku udah sering diikutin begini," balasnya singkat, seolah tak ingin memperpanjang pembicaraan.
Namun James tidak puas dengan jawaban itu. Senyum tipis, nyaris sinis, terbit di sudut bibirnya.
"Kalau begitu... mari kita buat permainan."
Tiba-tiba, ia meraih kemudi. Dengan gerakan mendadak, mobil Tiffany melaju lebih cepat. Tiffany terkejut, namun genggaman James pada setir terlalu mantap untuk dilawan. Mobil abu-abu itu refleks ikut mempercepat laju.
Kejar-kejaran dimulai.
James memacu mobil melalui jalanan Paris yang mulai sepi menjelang sore. Ia sengaja berbelok ke jalur-jalur sempit, gang-gang kecil yang hanya ia kenal. Ban berdecit, pantulan cahaya sore menari di kaca etalase toko-toko tua yang mereka lewati.
"James... cukup. Ini berbahaya," ucap Tiffany, suaranya mulai meninggi. Tapi James tak mengindahkan, matanya tajam mengukur setiap belokan.
Sampai akhirnya, mereka memasuki jalan buntu yang diapit dinding batu berlumut. Mobil abu-abu itu datang tak lama setelahnya, tak sempat bereaksi. Dalam sekejap, James membanting kemudi, menabrak samping mobil itu hingga terhimpit tembok. Bunyi logam berderit, kaca pecah.
Ia turun dari mobil, langkahnya cepat, rahangnya mengeras. Dari kursi belakang, ia mengambil sebuah batang besi panjang—entah sejak kapan tersimpan di sana. Tanpa ragu, ia menghantam kaca depan mobil abu-abu itu. Retakannya menyebar seperti sarang laba-laba.
"Kalian disuruh siapa, ha?!" suara James meledak, nadanya menggetarkan udara. Dua pria di dalam, tubuhnya terluka ringan, hanya bisa meringis menahan sakit.
Tiffany berlari menghampiri, menarik lengan James dengan panik.
"Udah, James! Cukup! Ini bisa jadi skandal buat kita," katanya, mencoba mengendalikan napas.
James masih menatap tajam ke arah kedua pria itu, namun akhirnya melepaskan batang besinya. Ia mundur, membuka pintu mobil Tiffany, dan masuk tanpa berkata apa-apa.
Saat mobil melaju meninggalkan lokasi, James sempat menyelipkan sebuah kartu nama ke saku jaket salah satu pria itu—tindakan yang begitu kontras dengan amarahnya barusan.
"Untuk ganti rugi," ucapnya singkat.
Mobil Tiffany pun meluncur pergi, meninggalkan aroma ban terbakar dan kaca pecah. Tak lama kemudian, mereka menuju kediaman Catrier di arrosement 7. James turun, mengucapkan terima kasih pada Tiffany sebelum melangkah masuk.
" Hatii Hati kau bertemu mereka lagi... Oh ya kelecetan mobil mu hubungi Nomor di kartuku " ucap James berlari menjauh.
Penthouse Catrier, Paris/
Senja mulai menurunkan bayangannya di jendela tinggi penthouse itu. Catrier baru saja pulang, mantel panjangnya masih melekat, dan langkahnya terburu-buru menuju ruang baca. Di sana, aroma buku bercampur wangi tipis teh hitam memenuhi udara. Ia duduk, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu, menunggu asistennya yang sedang mengambil hasil medis dari rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, bunyi lift terdengar. Asistennya masuk, membawa map krem tebal di tangan. Bersamanya, datang James — yang baru saja naik dari lobby. Namun sebelum sempat berbicara, James berpapasan dengan Hansen di lorong. Mereka saling bertukar tatapan singkat, tanpa senyum.
James menoleh sekilas, sorot matanya dingin. Tak ada sapaan, hanya langkah cepat yang menjauh. Jelas, ia tidak menyukai kehadiran Hansen.
Di dalam ruang baca, asisten Catrier mulai membacakan laporan medis.
"... dinyatakan hamil."
Catrier terdiam. Kata-kata itu bagai hantaman keras di kepalanya. Dadanya sesak, pikirannya berputar cepat membayangkan apa yang akan terjadi jika kabar ini sampai ke telinga ayahnya — atau, lebih buruk, ke Tuan Kim. Masa depan yang ia rancang seakan retak di hadapannya.
Asisten itu menatapnya hati-hati.
"Lalu... bagaimana dengan kehamilan itu, Nona? Apakah kita perlu... mencari cara menggugurkannya?"
Catrier memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan tegas.
"Jika ketahuan hamil... mereka pasti akan mengusir, membuang... dan Tuan Kim akan sangat murka. Kita tutupi dulu. Aku akan... memikirkan langkah berikutnya."
Kalimat itu, diucapkan dengan nada pelan dan berat, terdengar ambigu bagi telinga James yang berdiri tak jauh di luar pintu. Ia tidak tahu konteksnya. Ia hanya mendengar potongan kalimat "aku hamil" dan "kita tutupi dulu". Darahnya berdesir, pikirannya segera membentuk kesimpulan sendiri.
Ia buru-buru menjauh, menutup semua ekspresi, lalu duduk di ruang tamu seolah hanya menunggu biasa. Tak lama, Catrier muncul.
"Ada apa kau kemari?" tanya Catrier, datar.
Wajah James masih pucat, matanya menatap Catrier lama.
"Ehh... soal pertemuan kemarin... Aku akan mendukung penolakanmu terhadap perjodohan itu. Aku tahu... ada seseorang yang kau cintai. Untuk itu, aku akan membantumu. Kau mengerti?" ucapnya, nada suaranya seperti menawarkan pertolongan pada rahasia besar.
Alis Catrier berkerut, bingung.
"Tidak perlu. Aku akan mengurusinya sendiri."
James menghela napas pendek, masih yakin pada kesalahpahamannya.
"Ceritakan padaku... kalau kau butuh bantuan. Meskipun kita musuh, dalam hal ini... kau tetap teman kecilku."
Catrier hanya diam, tatapannya sulit dibaca.
"Sudahlah... aku masih banyak urusan," kata Catrier akhirnya.
"Iya. Aku juga... sampai jumpa," jawab James, lalu pergi. Langkahnya cepat, namun pikirannya penuh dengan asumsi yang ia simpan rapat—dan salah satu di antaranya adalah keyakinan bahwa Catrier menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fiksi Penggemarmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
