Jangan lupa like vote komen 📍
**Di Lobi Apartemen st Germain
Pagi itu, langit Paris masih berwarna lembut susu, ketika Tiffany turun menuju lobi dengan langkah tenang namun terburu-buru. Tangan mungilnya menggenggam tas belanja, hendak menuju supermarket.
Di antara pintu otomatis yang terbuka perlahan, sosok pria tinggi dengan wajah lelah muncul—Kevin, saudara angkatnya, baru saja pulang dari koas. Ia tersenyum hangat ketika menyadari keberadaan Tiffany.
"Sudah pagi sekali kau ke luar, Tiffany," kata Kevin dengan suara berat namun lembut, menyapa hangat.
"Belanja sedikit saja, kak. Stok rumah hampir habis," balas Tiffany, tersenyum tipis, lalu melangkah ke parkiran.
Namun tak disadarinya, dari sudut ruangan, seorang pria asing yang duduk dengan koran di tangan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Begitu Tiffany menjauh, pria itu mengangkat ponselnya, suaranya lirih namun tajam.
"Target keluar dari apartemen. Mengarah ke parkiran. Siap mengikuti."
Perintah di seberang terdengar tenang namun mematikan, "Teruskan pengawasan. Jangan kehilangan jejaknya."
---
**Kediaman Keluarga Hanlim**
Di kediaman luas berarsitektur Korea klasik di distrik elit Paris, Julio sudah hadir sejak subuh. Matanya masih tampak sayu oleh kantuk yang dipaksakan pergi. Ia duduk bersandar di ruang tengah, berhadapan dengan Junior yang sedang memeriksa sesuatu di laptopnya.
"Aku sungguh tak tahu lagi kenapa harus terus mengejar... tidak ada alasan yang cukup," ucap Julio, menghela napas panjang.
Junior melirik sekilas, namun memilih diam. Di luar pengetahuan Julio, justru Juniorlah yang diam-diam memerintahkan pengawal untuk terus mengawasi Tiffany dan Teresa. Ia tidak berkata apa-apa. Rencananya bukan untuk dibagi, bahkan kepada Julio.
Beberapa menit berselang, suara mobil terdengar di halaman depan. Beberapa teman mereka datang membawa orang-orang yang tak diinginkan—pecundang yang akan mereka jadikan permainan hari itu. Julio yang sudah kehilangan gairah hidup melampiaskan kekesalannya kepada mereka tanpa kata, hanya dengan pandangan dingin dan sikap acuh.
Sementara itu, Junior mengambil kesempatan untuk menyelinap keluar. Ia tahu di mana Tiffany berada.
---
**Kediaman Gerome arrosement 6
Di rumah keluarga Gerome yang megah dan dingin seperti museum batu, teriakan keras baru saja mereda. Johan berdiri gemetar, punggungnya penuh bekas cambuk. Napasnya berat, tubuhnya limbung ditopang dua pelayan.
James baru saja selesai jogging. Nafasnya masih berat ketika hendak naik ke lantai atas untuk mandi. Namun suara ibunya, Raline, memanggilnya dari ruang makan.
"James, sarapan dulu," ujar Raline, lembut namun tegas.
James menoleh dari tangga, lalu menggeleng perlahan.
"Aku harus segera pergi, Ibu."
Baru saja ia membalikkan badan, pintu ruang kerja ayahnya terbuka. Gerome, pria yang dikenal kejam dan ambisius itu, berjalan keluar bersama Johan yang terhuyung dalam derita. Matanya menatap tajam ke arah dua putranya.
"Kalian... jika membuatku malu, akan kuhabisi kalian!" teriak Gerome dengan amarah yang membakar.
Lalu ia menatap lurus ke mata James.
"Dan kau, James. Aku memberimu satu-satunya kesempatan untuk tetap di Paris. Buktikan bahwa kau lebih unggul dari Catrier. Paham?!"
"Pastikan putra-putri kita tidak mempermalukan kita lagi, Raline," ucap Gerome dingin, sebelum berlalu keluar rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fiksi Penggemarmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
