---
**Penthouse Arrosement 7 – Paris, Pukul 12.00 malam Hari**
Angin malam Paris yang dingin seketika menghilang begitu Catrier membuka pintu penthouse-nya yang elegan. Lantai marmernya memantulkan cahaya lampu gantung kristal, sementara aroma lavender samar menyambut mereka.
Haruto berdiri kikuk di belakang Catrier, tubuh mungilnya menggigil sedikit. Pakaian lusuh dan wajahnya yang penuh memar menjadi kontras mencolok di tengah ruangan mewah itu.
Seorang pelayan paruh baya yang telah lama bekerja untuk keluarga Diorta segera datang menyambut.
"Nona Catrier... Anda pulang?" sapa pelayan itu lembut, sebelum pandangannya jatuh pada sosok bocah yang berdiri di belakangnya. Wajahnya seketika berubah bingung.
Catrier menanggalkan mantel malamnya, menaruhnya ke tangan si pelayan tanpa menoleh.
"Aku lapar. Buatkan makanan hangat. Sup ayam dan roti saja. Dua porsi," katanya cepat.
Pelayan itu ragu, menatap Haruto.
"Dan—siapkan satu kamar untuknya. Panggilkan dokter keluarga juga. Sekarang."
"Asisten saya... mana?"
Tak lama, seorang wanita muda berpakaian rapi datang tergesa, ekspresinya langsung tegang melihat keadaan Catrier yang sedikit berantakan—dan lebih lagi saat melihat Haruto.
"Siapa anak ini?" bisiknya khawatir.
"Tak perlu tanya macam-macam," potong Catrier dingin. "Tolong pastikan dokter datang secepatnya."
Haruto tetap diam. Ia hanya menunduk, tidak terbiasa dengan dunia semewah ini. Catrier menoleh padanya, lembut kali ini.
"Kau tunggu di ruang sebelah. Dokter akan datang," ujarnya sambil menunjuk sebuah pintu kayu berornamen emas.
Haruto menurut. Saat ia melangkah masuk ke ruangan hangat itu, langkah sepatu menggebrak masuk dari arah lorong depan.
**"CATRIER!"**
Suara itu menggema seperti petir di malam yang hening.
Detik berikutnya, seorang pria tinggi dengan jas gelap menerobos masuk diikuti pengawal keluarga Diorta. **Kim.** Ayah Catrier.
Wajahnya merah padam, matanya menyala marah. Ia melangkah cepat, hampir tak memedulikan pelayan atau asisten yang mencoba menahannya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Tanpa banyak kata, tangannya terangkat—siap melayang ke pipi Catrier.
Namun, **tangan itu ditahan keras oleh lengan kekar seseorang.**
**Pengawal pribadi Catrier.** Lelaki berseragam gelap dengan insignia emas di dada. Ia menatap Kim tajam.
"Maaf, Tuan Kim," ucapnya mantap, "jika ada kekerasan lagi, saya punya izin langsung dari Tuan Besar Diorta untuk melapor. Termasuk—jika Tuan sekalipun melukai Nona Catrier."
Kim membeku. Napasnya masih memburu, namun genggaman tangannya perlahan mengendur.
Di belakang ruangan, **Haruto sempat menoleh**, melihat sosok dewasa yang tadi nyaris menampar Catrier... namun ia tidak berkata apa pun. Ia kembali berjalan ke dalam ruangan dan menutup pintu perlahan.
Sementara itu Catrier, dengan tenang, menatap ayahnya lurus.
"Kalau kau datang hanya untuk menampar, sebaiknya kau pergi sekarang," bisiknya dingin. "Aku sudah cukup dipermainkan oleh meja makan palsu kalian tadi malam."
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
