catrier menyuruh james bersaing kembali

123 12 5
                                        




Di tempat bimbel

Kelas bimbel telah usai. Satu per satu murid keluar, membawa buku dan langkah yang ringan. Namun tidak dengan Catrier. Ia tetap duduk di tempatnya, matanya mengikuti setiap gerakan James yang tengah beranjak dari kursi, hendak meninggalkan ruangan.

"James, bisa kita bicara?" Suara Catrier terdengar tegas namun tidak terburu-buru. Ia sudah berdiri dan berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar James mengikutinya.

James diam sesaat, namun akhirnya menyusul langkah Catrier, seperti tertarik oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Mereka berdua melangkah ke luar gedung bimbel, menuju halaman belakang yang sunyi dan dikelilingi deretan pepohonan rindang. Angin sore menyapa pelan, seolah ikut menanti percakapan yang akan terjadi.

Kini keduanya berdiri saling berhadapan. Catrier menatap James, tak berkedip. Sorot matanya tajam dan penuh tuntutan, namun juga menyimpan sesuatu yang tak diucapkan.

"Apa kau akan terus menghindariku seperti ini?" suara Catrier terdengar dingin. "Mengalah begitu saja? Kau pengecut?"

James menghela napas... lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti ejekan terhadap dirinya sendiri.

"Kenapa? Pindahlah dan cobalah bersaing seperti dulu. Atau... kau takut? Takut kalah lagi dariku?" tantang Catrier, langkahnya mendekat, nadanya kini menekan.

"Ya, Catrier!" jawab James lantang, membiarkan emosinya pecah untuk pertama kalinya.

Catrier terdiam. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia membuang wajahnya, menatap pepohonan sejenak sebelum kembali menatap James.

"Aku tunggu kau. Satu kelas yang sama denganku. Kau mengerti?" ujar Catrier, matanya menyiratkan keteguhan, namun juga harapan yang tersamar. Ia pun berbalik, hendak pergi.

Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, tangan James menggenggam lengannya. Hangat, tegas, namun juga rapuh.

"Apa... ibuku memberitahumu?" tanya James, suaranya kini pelan dan nyaris bergetar.

Catrier menoleh. Tatapannya berubah. Kini bukan lagi tatapan rival, tapi seorang teman lama yang tahu terlalu banyak luka.

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap James dalam diam, cukup dalam untuk membuat lawan bicaranya merasa dilihat... dan dimengerti.

"Aku membutuhkan rival yang sepandan... Jadi tetaplah di sini, dan bersainglah denganku," bisik Catrier sebelum akhirnya menarik perlahan tangannya dan pergi, langkahnya menjauh namun jejaknya tinggal.

James tertawa kecil, lalu menatap kepergian Catrier dengan mata yang tak bisa menyembunyikan kerinduannya—pada masa lalu yang dulu penuh adrenalin, dan pada seseorang yang tanpa sadar... telah menjadi lebih dari sekadar pesaing.

Di St. Germain

Tifany membetulkan jas panjangnya dan memasang topi lebar di kepalanya, bersiap untuk pergi. Di ruang tamu apartemen, Teresa sedang merapikan tasnya, tampak tak peduli dengan kepergian Tifany—ia juga akan keluar bersama teman-temannya.

Tanpa sengaja, mereka turun menggunakan lift yang sama. Keheningan di antara mereka tidak berlangsung lama, karena saat pintu lift terbuka di lobi, keduanya sama-sama terkejut melihat siapa yang menunggu.

Duo J—Julio dan Junior—tengah berdiri santai. Keduanya tampak mencolok dengan setelan elegan. Junior berdiri tepat di samping Julio, senyumannya sudah seperti tantangan sejak awal.

"Kau akan berkencan dengan dua pria sekaligus, ha?" ledek Teresa sambil menepuk bahu Tifany, lalu berjalan duluan menuju area parkir.

Tifany hanya menarik napas dan mencoba tetap tenang. Julio lalu mendekat, suaranya pelan namun perhatian.

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang