Di Rumah Sakit Georges Pompidou
Kai berlari menyusuri lorong rumah sakit. Langkah-langkahnya berat oleh kecemasan yang menghimpit dada, pikirannya penuh dengan bayangan buruk. Di ujung lorong, ia mendapati ibunya telah lebih dulu berdiri di luar ruang perawatan, tubuhnya gemetar dalam pelukan isak yang nyaris tak terdengar.
Tanpa berkata apa-apa, Kai segera memeluknya. Pelukan itu erat, seolah ingin meredam getar luka yang merambat dari tubuh sang ibu ke dalam hatinya sendiri. Dalam diam, ia tahu—ada sesuatu yang tak akan mudah mereka hadapi hari ini.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang periksa terbuka. Seorang dokter keluar, membawa berkas hasil pemeriksaan.
"Bu, mohon ikut saya. Hasilnya perlu dijelaskan secara langsung," ucap sang dokter pelan namun tegas.
Hartini mengikuti langkah dokter dengan raut yang kosong, nyaris tak bernyawa. Sementara itu, Kai menoleh dan melangkah masuk ke ruang perawatan. Di sana, terbaring adiknya, Keara. Tubuhnya tampak lunglai namun sadar. Tangan mungilnya tertancap selang infus, dan wajahnya—oh, wajah itu—penuh memar yang belum sempat dijelaskan.
"Keara!" seru Kai, suaranya keras dan penuh kegelisahan.
Keara terdiam. Matanya membelalak ketakutan. Ia menggigit bibirnya yang pecah, mencoba menahan tangis yang sudah lebih dulu membanjiri jiwanya.
"Apa yang terjadi, hah? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Kai dengan nada hampir putus asa.
Namun Keara tak menjawab. Tangisnya hanya semakin deras, seolah dunia telah menjadi terlalu kejam untuk diceritakan.
Beberapa menit kemudian, Hartini kembali. Di tangannya tergenggam selembar kertas hasil medis, dan di matanya terpantul pecahan batin seorang ibu yang baru saja mendengar kabar terburuk dalam hidupnya.
"Siapa dia, Keara?" suaranya nyaris tak terdengar, tapi menggetarkan udara di dalam ruangan.
Kai menoleh, kebingungan. Sementara Keara hanya menunduk, tubuhnya mulai gemetar.
"Siapa dia? Siapa pria itu, hah?" kali ini suara Hartini meninggi, nyaris berubah menjadi jeritan.
"Ibu... maksud Ibu apa?" tanya Kai perlahan.
"Beritahu Ibu. Siapa pria yang menghamilimu? Siapa dia, Keara?!"
Kai membeku. Dunianya berguncang.
"Keara... hamil?" bisiknya, tak percaya.
Tangis Hartini pecah. Ia terhuyung dan jatuh dalam pelukan Kai, tubuhnya terkulai. Pingsan. Tak kuat lagi menanggung duka.
"Ibu!!" pekik Kai panik, memeluk tubuh ibunya yang tak berdaya.
Le Marais Apartment
Celine baru tiba di apartemen kecilnya. Meja belajarnya dipenuhi tugas dan kertas—semua dari berbagai sekolah, semua dari murid yang membayar untuk otaknya. Ia sibuk, tapi juga tenang. Karena dengan ini, ia tetap waras. Dengan ini, ia masih bisa bertahan.
Pintu terbuka. Haruto masuk, wajahnya lebam, tubuhnya lesu. Ia meletakkan tas, menuang segelas air, dan meneguknya perlahan.
Celine belum melihat memar itu. Tapi teriakan nenek membuatnya segera menoleh.
"Ya Tuhan, Haruto! Wajahmu itu...!"
"Nek, aku baik-baik saja," jawab Haruto singkat.
Nenek bergegas ke dapur mengambil es batu, sementara Celine mendekat, menatap wajah Haruto yang membiru dengan mata penuh kekhawatiran.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lembut.
"Sudahlah... ini cuma luka kecil. Jangan mulai mengomel," ujar Haruto, mengalihkan pandangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
