mengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya .
dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari Pertama Masuk Sekolah Setelah Libur Panjang
Setelah empat minggu libur akhir tahun, hari ini menjadi kali pertama siswa-siswi SMA Angera kembali mengisi koridor sekolah. Seperti tradisi setiap awal semester, papan Mading di tengah aula utama sudah ramai dipadati oleh para siswa. Di sana, terpajang daftar nilai dan peringkat siswa yang langsung jadi pusat perhatian—sekadar untuk melihat siapa yang naik, siapa yang turun, dan siapa yang bikin kejutan.
Peringkat teratas masih tak berubah:
Catrier – si ratu langganan juara, pintar nyaris di semua mata pelajaran, dan perfeksionis akut.
Tiffany – nilai tergantung mood. Kalau sedang semangat, bisa semua ia ikuti tapi kalau sedang galau, jangan harap.
Celine – si anak beasiswa, pintar dan rajin,yang bisa mengalahkan catrier tapi tetap low profile.
Lompat ke peringkat ke-10, ada:
Kai – anak pintar tapi hobi membolos. Selalu aja bikin guru dilema antara bangga dan kesal.
Dan jauh di bawah sana:
Chanel – si tukang tidur sejati. Katanya sih, punya bakat mimpi indah dalam segala situasi.
Teresa – tak terhindarkan... si yang tidak naik kelas.
Namun, di balik peringkat akademik yang sekilas tampak penting namun sebenarnya tak banyak berpengaruh dalam dinamika sosial SMA Angera, tersimpan sistem tak kasat mata yang jauh lebih berkuasa—yakni kasta sosial setiap murid.
Bukan nilai, bukan prestasi, bukan pula seberapa sering nama mereka disebut di upacara bendera. Di SMA Angera, yang benar-benar dihormati, ditakuti, dan bahkan dipatuhi, adalah status sosial yang melekat pada nama dan gaya hidup mereka.
Ada kaum kasta atas—anak-anak pejabat, pengusaha, bahkan selebriti global. Mereka adalah penghuni parkiran eksklusif, pemilik seragam desain khusus, langganan nongkrong di rooftop café dalam sekolah, dan tentu saja, punya akses ke apa pun—termasuk ke guru dan aturan sekolah.
Lalu ada kasta menengah—mereka yang tidak terlalu kaya, tidak terlalu miskin, cukup untuk mengikuti arus tren, tapi tak cukup kuat untuk mengubahnya.
Dan di dasar piramida sosial itu, ada anak-anak beasiswa. Tak peduli seberapa tinggi nilai rapor mereka, seberapa sering nama mereka muncul di ranking atas, selama mereka tidak mengenakan tas edisi terbatas atau sepatu dari brand mahal, mereka tetap dianggap... tidak cukup.
Di SMA Angera, nilai akademik hanyalah formalitas, sementara yang menentukan posisi seseorang dalam rantai makanan sekolah ini adalah nama belakang, koneksi orang tua, dan seberapa mahal barang yang menempel di tubuhmu.