Di rooftop pertemuan 3 pria

105 13 3
                                        

Di atap sekolah Anggera,
hembusan angin sore menyapu dua sosok yang berdiri diam, larut dalam pikirannya masing-masing—antara kebisuan yang membekukan dan gelombang hasrat yang masih samar dalam namanya.

"Brian de Adam's?" suara James memecah keheningan, matanya menyorot pada tanda pengenal di dada seragam pria di hadapannya.

"Iya... Kau yang tadi pagi, bukan?" balas Brian, lebih dulu mengenali sosok James yang kini berdiri tegap namun menyimpan sesuatu dalam sorot matanya.

James mendekat sedikit, namun senyumannya tipis, nyaris tak bersahabat.
"Menjauhlah dari Catrier. Kau paham, bukan?" katanya pelan namun tajam, lalu berbalik pergi tanpa menunggu tanggapan.

Brian terkesiap, melangkah cepat hendak menyusul.
"Hey, ya... Aku bahkan belum menjawabmu!" protesnya, namun langkahnya terhenti seketika.

Dari balik dinding rooftop, seorang pria muncul tanpa suara—tingginya setara, matanya datar, tapi menyimpan perhitungan. Ia berdiri menghalangi langkah Brian, senyum kecil terukir namun tidak menyenangkan.

"Siapa lagi kau, hey... anak baru?!" ucap Brian geram, menepis bahunya yang disentuh ringan.

Namun pria itu—Hansen—hanya diam. Tak ada sepatah kata pun. Ia sekadar memandangi Brian, lalu berlalu, seolah kemunculannya hanyalah untuk menyampaikan sebuah peringatan yang tak terucap.

Di sisi lain gedung sekolah,
Catrier tengah mengeluarkan sebuah seragam dari loker pribadinya. Di SMA Anggera, seragam bukanlah barang murah ataupun tersedia sembarangan. Koperasi sekolah hanya memproduksi sesuai permintaan. Tapi Catrier, dengan segala kecermatannya, menyimpan beberapa cadangan—untuk mereka yang benar-benar membutuhkan, atau untuk saat-saat seperti ini.

Seragam itu kini berada di tangan Tifany.

"Terima kasih, Catrier... Kau membantuku lagi. Maaf karena kemarin aku tak sempat mengucapkan terima kasih padamu." ujar Tifany, menatap tulus.

Namun Catrier tidak membalas dengan senyum atau ucapan manis. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah pergi, meninggalkan keheningan di antara mereka.

Tak lama berselang, James muncul dan langsung bertanya,
"Di mana Catrier?"

"Baru saja pergi," jawab Tifany, singkat.

Beberapa detik kemudian, Julio datang dengan seragam di tangannya, napasnya terengah, seolah ia datang dari tempat yang jauh.

Namun pemandangan itu justru membuat James tertawa keras, nyaris mengejek.
"Dari mana kau mendapatkan seragam bekas itu, hah?"

Julio menahan amarahnya, lalu berkata dengan nada menegur,
"Diamlah kau... Tifany, pakailah ini. Meskipun bekas, setidaknya kau bisa masuk kelas nanti."

Tifany menarik napas panjang, senyumnya kecut. Ia sudah cukup muak dengan kelakuan dua pria di hadapannya—'Duo J' yang selalu membuat kepalanya berdenyut.

"Catrier telah memberiku." ucapnya pendek, lalu pergi ke toilet tanpa menoleh lagi.

James masih tertawa kecil dengan ekspresi mengejek.

"Ah... satu pria yang menyebabkan seorang wanita dipermalukan, dan satu lagi mencoba jadi penyelamat." gumamnya sinis.

Kemudian ia melirik Julio dengan sorot tak kalah mengejek.
"Ahhh... siapa namamu? Oh, Julio! Dengar baik-baik. Kau tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Ingat itu."

Julio mengepalkan tangannya, lalu membalas dengan nada sinis,
"Memangnya kau siapa?!"

Ia menatap ke arah pintu toilet, lalu berseru,
"Tifany! Aku tidak tahu... Maaf soal tadi!"

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang