Makan malam diorta dan bayerische

92 12 1
                                        

Restoran La Lumière – Paris, Menjelang Malam

Langit Paris mulai meredup ke biru keunguan saat cahaya senja perlahan turun membelai jendela-jendela kristal Restoran La Lumière, sebuah restoran bintang lima yang berdiri anggun di tepian Sungai Seine, tak jauh dari Menara Eiffel yang mulai memancarkan cahaya emasnya.

Dari luar, tempat itu tampak seperti istana kecil—pilar marmer putih, lampu gantung bergaya Baroque, dan pintu kayu gelap berukir yang hanya terbuka bagi nama-nama yang tercatat dalam daftar undangan eksklusif.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu utama.

Pintu belakang dibuka oleh valet bersarung tangan putih. Tuan Kim turun lebih dulu, sosoknya tetap penuh wibawa dalam setelan jas hitam elegan. Di belakangnya, Catrier Diorta melangkah turun dengan lambat. Gaun malam biru kelam membalut tubuhnya anggun, rambutnya disanggul rapi dengan anting mutiara menggantung lembut di telinganya. Ia tampak bukan lagi seperti seorang pelajar SMA, melainkan pewaris sah dari kekaisaran bisnis yang telah dipoles sejak generasi sebelumnya.

Saat keduanya memasuki aula utama restoran, suasana hening sejenak. Bukan karena kehebohan, melainkan karena tatapan para tamu yang secara naluriah tertarik oleh aura keduanya—terutama Catrier, yang melangkah seolah membawa sejarah nama besar Diorta di balik bahunya.

Di ruang makan privat yang telah disiapkan khusus, dua keluarga besar telah duduk lebih dahulu.

Di sisi kanan meja panjang: keluarga Bayerische, diwakili oleh Bayu Bayerische, dan putra bungsunya —hansen Bayerische, pria muda berambut coklat gelap dengan jas abu terang yang nyaris terlalu sempurna. Senyumnya sopan, namun matanya tajam, penuh penilaian seperti sang ayah.

Di sisi lain meja, keluarga Diorta telah menunggu. Gerome, sang paman, duduk di ujung meja sambil menyesap anggur. Tatapannya langsung menangkap sosok Catrier yang memasuki ruangan.

Dengan gerakan lambat yang terukur, Gerome bangkit berdiri. Langkahnya pelan ketika menyambut keponakannya.

"Catrier, keponakan tercintaku..." ucapnya dengan senyum lebar. Sebuah senyum yang tampak hangat, meskipun tidak sepenuhnya tulus.

Catrier sedikit membungkuk sopan, suaranya lembut. "Selamat malam, Paman Gerome."

Bayu turut berdiri, menyalami Tuan Kim dengan formalitas yang sudah mendarah daging. "Tuan Kim, senang akhirnya bisa bertemu kembali. Paris tetaplah kota yang penuh kejutan."

"Iya... dan malam ini adalah salah satunya," jawab Tuan Kim tenang, namun senyumnya terasa dingin seperti peringatan halus.

Catrier menoleh ke arah Hansen yang kini berdiri dan memberikan salam formal padanya.

"Hansen Bayerische," ucapnya sambil menundukkan kepala sedikit.

" ahhh dia ini adik Harry bayerische ia mewakilkan Kaka tertuanya untuk bertemu dengan mu catrier... Harry masih harus mengurus beberapa urusan pekerjaan nya di london " ucap bayu

Kim tersenyum mengangguk dan mengisyaratkan catrier untuk menerima jabatan tangan Hansen namun catrier memilih diam .

Suasana meja makan tampak megah. Taplak putih tebal terhampar sempurna, peralatan makan berlapis emas, serta menu dari koki Michelin yang malam itu dikhususkan hanya untuk jamuan mereka. Namun di balik kemegahan, tercium getar-getar ketegangan halus—udara yang memuat sejarah panjang, ambisi yang disimpan rapi, dan masa depan yang akan ditentukan bukan oleh cinta, tapi oleh kontrak dan nama keluarga.

Hansen masih menatap catrier dengan wajah datar nya ia tersenyum kecil namun tak ada ekspresi wajah yang terlihat di dalam catrier.

" jadi perjodohan ini kapan akan diresmikan " ucap kim terlihat antusias
Seketika itu catrier membeku ia menatap dingin sang ayah .
" lelucon apa ini ... aku masih sma sedangkan dia pria dewasa yg bahkan tak ku kenal ... perjodohan? Ha ... lucu sekali " ucap catrier kesal lalu pergi meninggalkan ruang vip .

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang