Sedangkan di ruang lukis
suasana terasa lebih tenang dan intim, jauh dari hiruk-pikuk klub lain yang lebih ramai. Jumlah siswa di sana memang tak banyak, namun justru itulah yang membuat ruangan itu terasa hangat dan damai. Aroma cat minyak dan kanvas baru mengisi udara, disertai suara halus kuas yang menyentuh permukaan kain.
Catrier duduk di sudut dekat jendela besar yang terbuka, angin sore perlahan menggoyangkan tirai tipis berwarna gading. Di depannya berdiri beberapa lukisan klasik yang dijadikan contoh oleh guru seni. Tangannya yang lentik dan terlatih memegang kuas dengan penuh ketelitian, menggoreskan warna demi warna ke atas kanvas putih miliknya.
Ia sedang meniru lukisan beraliran impresionisme—sebuah potret taman bunga yang penuh cahaya. Meski hanya tiruan, sentuhan Catrier selalu membawa nuansa yang berbeda. Ia tak hanya melukis bentuk dan warna, tapi juga perasaan.
Beberapa siswa lain duduk berjarak, sibuk dengan lukisan masing-masing. Mereka tak banyak bicara, tapi sesekali saling melirik dan tersenyum, seolah kehadiran satu sama lain sudah cukup sebagai bentuk dukungan.
Guru seni mereka, seorang pria tua berkacamata bulat dan berambut abu-abu, berjalan perlahan di antara para siswa. Saat ia berhenti di belakang Catrier, ia mengangguk pelan, mengamati hasil goresannya.
"Lukisanmu punya kedalaman. Kamu menyalin bentuk, tapi menyisipkan jiwa."
Catrier hanya tersenyum simpul, tak terlalu menyukai pujian, namun hatinya hangat mendengarnya.
Di ruang lukis itu, tak ada kompetisi, tak ada popularitas yang dipertaruhkan. Hanya warna, imajinasi, dan keheningan yang berbicara. Tempat itu menjadi pelarian kecil Catrier dari dunia yang terus berputar cepat di luar sana—dan mungkin satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar bernapas.
Dari luar jendela besar yang menghadap ke taman sekolah, seorang siswa berdiri diam di balik bayangan pepohonan. Angin menggoyangkan ranting-ranting kecil di sekitarnya, namun ia tetap tak bergerak, seolah terpaku pada pemandangan yang ada di dalam ruang lukis.
Itulah Hansen.
Ia berdiri dengan tangan di saku celana, tubuhnya bersandar ringan pada batang pohon tua. Tatapannya lurus menembus kaca jendela yang terbuka separuh, memandangi sosok Catrier yang tengah duduk serius di depan kanvasnya.
Cahaya senja jatuh sempurna ke rambut Catrier yang kemerahan kecokelatan, menimbulkan bias hangat yang mengelilingi siluetnya. Hansen tak mengucap sepatah kata pun, namun senyum tipis telah terukir di sudut bibirnya. Entah sudah berapa lama ia di sana—mungkin sejak Catrier mulai melukis. Ia menikmati pemandangan itu tanpa niat diketahui nya.
Ada sesuatu dalam kesunyian Catrier yang membuat Hansen tak ingin pergi. Ia tahu Catrier bukan tipe yang mudah didekati, apalagi dibaca. Tapi melihatnya di tempat ini, begitu fokus, begitu damai, membuat Hansen menyadari bahwa Catrier adalah lukisan itu sendiri—penuh warna yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sesekali Hansen menunduk, menahan senyum yang semakin lebar, seperti seseorang yang menyimpan rahasia kecil tentang seseorang yang diam-diam ia kagumi. Ia bahkan tidak sadar bahwa pak guru juga telah menyadari sosoknya .
Di kelas A+
denting bel akademik bergema nyaring, menandakan dimulainya sesi pelajaran. Suara langkah kaki terdengar bersahutan di sepanjang lorong utama, para siswa berjalan tertib menuju kelas masing-masing dengan seragam yang rapi dan wajah-wajah penuh ambisi.
Namun hari ini, ada nuansa berbeda yang terasa di udara kelas A+.
Para siswa yang biasanya penuh percaya diri kini mulai berbisik-bisik, membentuk lingkaran kecil penuh rasa ingin tahu. Sorotan mata mereka mengarah ke pintu kelas yang perlahan terbuka—memperkenalkan dua sosok baru yang tak kalah mencolok.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fiksi Penggemarmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
