Di kelas A+
Bel masuk baru saja berbunyi, menandakan awal dari pelajaran pagi yang padat. Kelas A+, kelas unggulan di sekolah itu, dikenal bukan hanya karena kecerdasan para muridnya, tetapi juga karena beragam latar belakang sosial mereka. Namun satu hal yang menyatukan mereka: prestasi dan tekanan.
Celine duduk di bangkunya dengan mata berat. Matanya sembab karena kelelahan. Malam tadi ia tampil di Music Bank dan baru tidur dua jam sebelum fajar. Wajahnya yang biasanya bersinar kini tampak lesu. Sesekali ia menguap kecil, berusaha tetap sadar.
Chanel, duduk di belakangnya, memperhatikan keadaan Celine yang setengah tertidur. Dengan sedikit senyum jahil, ia memanggil pelan namun cukup keras,
"Celine..."
Celine terlonjak kaget. Ia berdiri refleks, matanya membelalak seolah baru terbangun dari mimpi. Seluruh kelas menoleh. Chanel tertawa geli melihat reaksi temannya itu.
Pak guru yang tengah mengajar pelajaran Bahasa Prancis menghentikan penjelasannya. Wajahnya menunjukkan ketidaksabaran.
"Celine, jika kau mengantuk... lebih baik tidur di rumah," ucapnya tegas, menatap Celine tajam dari balik kacamata tipisnya.
Celine hanya diam, menatap Chanel kesal. Ia merasa dijebak dalam keadaan yang tak menguntungkan.
"Keluarlah," perintah Pak Guru datar.
Sebelum Celine melangkah keluar, Tifany, yang duduk di pojok kanan kelas, angkat bicara.
"Pak, bagaimana dengan Chanel? Dia juga mengganggu pelajaran," katanya, suaranya tenang namun bernada tajam.
Chanel menoleh dengan ekspresi membela diri.
"Hei... Tifany, aku cuma membangunkannya. Biar dia nggak tertidur ..."
Tifany menatap Chanel dengan pandangan tajam, penuh ketidaksukaan, meski bibirnya tetap terkatup rapat.
Dari sisi lain kelas, Catrier yang sejak tadi diam mulai bersuara, suaranya tenang namun mengandung wibawa.
'' waktu kita terbuang hanya untuk ocehan ini '' ucap catrier
melihat catrier pak guru tak lagi berniat meneruskan permasalahan keduanya , ia pun melanjutkan pelajarannya karena ia tidak mau terlibat lebih dalam .
Di Kelas B
Meskipun berada satu tingkat di bawah kelas A+, kelas B tetap termasuk dalam kategori high class di sekolah. Mayoritas murid di sini berasal dari kalangan atas, lengkap dengan gaya hidup dan gengsi yang menyertainya. Namun, jika berbicara soal prestasi akademik, kelas ini masih jauh tertinggal dibanding kelas A+.
Suasana kelas B lebih hidup, kadang terlalu hidup. Obrolan tak penting, tawa keras, dan suara kursi diseret menjadi musik latar setiap pagi. Tidak seperti kelas A+ yang penuh tekanan dan disiplin, kelas ini terasa seperti perayaan kecil yang tak pernah usai.
Di antara keributan itu, nama Kai selalu mencuat. Ia berada di jajaran lima besar ranking kelas, prestasinya tak bisa dipandang sebelah mata. Tapi sayangnya, reputasinya sebagai playboy dan biang keributan lebih sering menjadi bahan gosip daripada nilai-nilainya.
Julio, yang dikenal kalem dan tak banyak bicara, diam-diam menempati peringkat dua kelas. Tak banyak yang tahu karena ia sendiri enggan menunjukkan keunggulannya. Bagi Julio, pujian bukanlah sesuatu yang harus dicari—ia hanya ingin tenang.
Lalu ada Junior. Ia seperti hidup di dunia lain. Ranking bukan prioritasnya, nilai bukan masalah. Ia lebih sering terlihat melamun di dekat jendela atau sibuk menggambar sesuatu di bukunya. Dunia akademik seolah tak pernah benar-benar menyentuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfikcemengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
