Di Mobil Tiffany
Tiffany mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan kota sore itu cukup lengang, membiarkan angin masuk melalui celah kaca jendelanya yang terbuka. Ia menikmati setiap tikungan jalan, seolah hidupnya sedang baik-baik saja. Namun tiba-tiba, mobil itu berhenti mendadak. Suara mesin terbatuk lalu diam.
Tiffany terdiam sejenak. Lalu... mengerang lirih.
"Astaga... aku lupa isi Bensin atu kenapa nih mobil..."
Dengan wajah tertunduk malu, ia turun dari mobil dan mencoba menghubungi layanan darurat derek mobil. Di saat yang sama, kendaraan lain mulai mengantre dan membunyikan klakson. Jalanan menjadi padat karena mobil Tiffany yang terhenti di tengah jalur. Ia hanya bisa menahan malu, menjadi pusat perhatian karena kecerobohannya sendiri.
Dengan cepat ia menekan nomor Teresa.
"Halo, Teresa... mobilku mogok. Kau bisa—"
Tiffany belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika panggilan itu langsung ditutup. Ia mencoba menelepon kembali, namun tak lama kemudian ponsel Teresa tak lagi aktif. Wajah Tiffany memerah antara malu dan kesal.
"Dia sengaja... dia pasti sengaja..."
Di Mobil Catrier
Sementara itu, di sisi lain kota, Catrier duduk diam di kursi belakang mobil mewahnya. Sopir pribadinya menyetir dengan tenang, sementara Catrier menatap ke luar jendela, melamun dalam diam. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang tertahan. Ia masih marah pada keputusan ayahnya siang tadi.
Ponselnya berdering. Asisten rumah tangga menelepon, menanyakan keberadaannya.
"Saya akan segera pulang," jawab Catrier singkat, nyaris tanpa emosi.
Di tengah lamunannya, matanya tanpa sengaja menangkap seseorang berdiri di pinggir jalan — sosok perempuan yang dikenalnya. Tifany. Teman sekelasnya yang kini tampak kebingungan di pinggir jalan, di tengah keramaian yang bising.
Awalnya Catrier tak berniat peduli. Tapi suara Tifany yang berteriak memanggil namanya memaksa mobil itu berhenti.
Pertemuan di Jalan
Tiffany merasa seluruh dunia menatapnya. Ia menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan topi. Namun di antara suara klakson dan tatapan orang-orang, sebuah tangan menarik lengannya. Catrier. Tanpa berkata banyak, gadis itu membawanya masuk ke dalam mobil.
"Akhs... syukurlah..." bisik Tiffany pelan, setengah lega.
Catrier hanya diam, menatap ke luar jendela. Tak ada percakapan selama mobil mulai melaju kembali.
"Ehmm... makasih ya, Cat..." ucap Tiffany mencoba mencairkan suasana.
Catrier hanya mengangguk pelan.
Dulu mereka begitu dekat. Sekarang... hanya diam yang menemani perjalanan mereka. Hubungan mereka tampak canggung, seperti dua dunia yang bertemu kembali dengan bingung.
Di Depan Apartemen Tiffany
Begitu tiba di depan apartemennya, Tiffany buru-buru turun. Ia tahu waktu sudah larut dan ibunya pasti akan marah. Catrier masih di dalam mobil saat ia menerima panggilan — mobil Tiffany baru saja berhasil diderek dan dibawa ke bengkel. Ia hendak menyuruh supirnya untuk berangkat, ketika matanya menangkap sesuatu yang tertinggal di jok belakang.
Ponsel Tiffany.
Segera ia keluar dari mobil, berniat mengembalikannya.
Di depan pintu apartemen, Tiffany sudah menekan bel berkali-kali. Tak ada yang membuka. Ia mendesah, menahan lelah dan kecewa. Ibu dan Teresa pasti sudah tidur. Dan kakaknya, yang apartemennya ia harapkan jadi tempat menginap, belum juga pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
